Ribuan Warga Pontianak Gelar Salat Istisqa Lawan Kabut Asap
Ribuan warga Pontianak berkumpul di Masjid Raya Mujahidin menggelar salat istisqa, berharap hujan turun di tengah kualitas udara yang sudah berbahaya empat hari beruntun.

Periskop.id - Ribuan warga Kota Pontianak menggelar salat istisqa di Halaman Masjid Raya Mujahidin, Sabtu. Doa bersama itu digelar untuk memohon hujan di tengah kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang membuat kualitas udara kota tersebut berada di kategori berbahaya selama empat hari terakhir.
Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono memimpin langsung kegiatan yang melibatkan Dewan Masjid Indonesia (DMI) Masjid Raya Mujahidin dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) tersebut. Ia menyebut, salat istisqa jadi salah satu ikhtiar masyarakat setelah kemarau berlangsung lebih dari dua bulan.
"Hari ini kita bersama ribuan warga melaksanakan salat istisqa dan berdoa bersama di Halaman Masjid Raya Mujahidin memohon hujan yang berkah," kata Edi Rusdi Kamtono di Pontianak, Sabtu (29/8).
Edi menduga, memburuknya kualitas udara di Pontianak turut dipengaruhi asap kiriman dari wilayah lain yang terbawa angin. Kondisi itu, menurutnya, jadi alasan Pemerintah Kota Pontianak mempertahankan kebijakan meliburkan kegiatan belajar-mengajar.
"Kondisi ini membuat kita mempertahankan kebijakan meliburkan kegiatan pembelajaran hingga cuaca dan kualitas udara membaik," ujarnya.
Meski sekolah diliburkan, Edi memastikan pelayanan Pemerintah Kota Pontianak tetap berjalan seperti biasa. Pegawai yang sakit akibat paparan asap diperbolehkan bekerja dari rumah.
"Kita pasti memberikan pelayanan di Pemkot. Tapi kan kita di ruangan. Kalau yang sakit ya melalui work from home," ujarnya.
Pemerintah Kota Pontianak, kata Edi, telah menetapkan kondisi ini sebagai situasi darurat asap. Sejumlah langkah penanganan disiapkan untuk melindungi warga dari dampak kabut asap.
Warga diimbau membatasi aktivitas di luar ruangan selama kualitas udara belum membaik. Penggunaan masker juga disarankan bagi mereka yang terpaksa harus keluar rumah.
"Masyarakat juga diimbau harus membatasi aktivitas di luar ruangan selama kualitas udara belum membaik, dan menggunakan masker jika terpaksa harus ke luar," tuturnya.
Salah satu warga yang ikut salat berjemaah, Gheby, mengaku kabut asap sudah sangat mengganggu aktivitas sehari-hari. Matanya perih dan napasnya terasa tidak segar akibat paparan asap berkepanjangan.
"Ini sudah sangat mengganggu aktivitas kita sehari-hari, mata perih, nafas tidak segar. Kita berharap kepada Allah untuk menurunkan hujan secara merata mendapatkan rahmatnya, terutama untuk di titik-titik api," katanya.
"Mudah-mudahan semua ampunan dan doa masyarakat dikabulkan, sehingga hujan segera turun dan kondisi lingkungan kembali membaik," pungkas Edi.
Baca berita dan informasi lainnya mengenai Dewan Masjid Indonesia (DMI), Majelis Ulama Indonesia (MUI), dan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) dengan mengeklik tautan.
Komentar (0)
Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.
Belum ada komentar.