Pariwisata

Jogja Bidik Lebih Banyak Turis Asing lewat Festival Prawirotaman

Pemkot Yogyakarta membidik peningkatan wisatawan mancanegara melalui Festival Prawirotaman 2026 yang memadukan batik, fesyen, kuliner, dan ekonomi kreatif.

4 hari yang lalu · 4 mnt baca
fashion
Fashion on the Street pada kegiatan Festival Prawirotaman di Yogyakarta pada Sabtu (22/8/2026) malam. Dinas Kominfosan Yk
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Pemerintah Kota Yogyakarta menjadikan Festival Prawirotaman 2026 sebagai salah satu strategi untuk menarik lebih banyak wisatawan mancanegara. Langkah tersebut dilakukan karena jumlah turis asing yang berkunjung ke Kota Yogyakarta masih jauh di bawah wisatawan domestik, meskipun kawasan Prawirotaman sejak lama dikenal sebagai salah satu pusat wisata internasional di kota tersebut.

Kepala Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta Lucia Daning Krisnawati mengatakan jumlah wisatawan mancanegara yang tercatat berkunjung ke Kota Yogyakarta sepanjang 2025 berada di kisaran 316 ribu orang. Pada periode yang sama, kunjungan wisatawan nusantara mencapai sekitar 11 juta orang.

"Tantangan dari Pak Wali Kota adalah bagaimana caranya untuk mendongkrak wisman agar bisa hadir dan menjadikan Yogyakarta sebagai tujuan wisata luar negeri," ujarnya, dikutip Minggu (23/8).

Festival Prawirotaman kemudian ditempatkan sebagai salah satu instrumen untuk memperkuat daya tarik tersebut. Rangkaian festival tahun ini berlangsung pada 21-23 Agustus 2026 di kawasan Jalan Prawirotaman I dan II, Mergangsan. Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta menyebut penyelenggaraan ke-11 ini diperluas hingga Prawirotaman II agar dampak ekonomi juga menjangkau lebih banyak pelaku usaha dan masyarakat sekitar.

Festival menghadirkan berbagai aktivitas, mulai dari bazar produk kreatif dan kuliner, pameran batik kontemporer, pertunjukan seni dan musik hingga Fashion on the Street yang menyulap kawasan Prawirotaman menjadi panggung peragaan busana terbuka.

"Festival Prawirotaman juga telah masuk dalam Kalender Event Kota Yogyakarta, dengan harapan dapat terus diperkuat agar mampu mendatangkan lebih banyak wisatawan mancanegara dari tahun ke tahun," kata Lucia.

Momentum Kunjungan Wisman Mulai Menguat

Upaya tersebut dilakukan ketika arus wisatawan asing menuju Yogyakarta menunjukkan momentum peningkatan menjelang pertengahan 2026.

Badan Pusat Statistik (BPS) DIY mencatat 11.692 kunjungan wisman melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA) pada Mei 2026. Pada Juni, angkanya mencapai 10.887 kunjungan. Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang di DIY pada Juni juga mencapai 60,36%, naik dibandingkan 57,06% pada Mei.

Angka BPS tersebut menggunakan indikator kedatangan melalui YIA sehingga berbeda metodologi dengan data kunjungan ke Kota Yogyakarta yang digunakan Dinas Pariwisata. Namun, data itu menggambarkan adanya arus wisatawan internasional yang dapat dimanfaatkan pemerintah daerah untuk memperpanjang lama tinggal dan meningkatkan belanja wisatawan di dalam kota.

Periode Juli dan Agustus sendiri disebut Dinas Pariwisata sebagai salah satu masa dengan kunjungan wisatawan asing relatif tinggi. Prawirotaman dipilih karena kawasan tersebut sudah mempunyai ekosistem wisata internasional berupa hotel, homestay, restoran, kafe, butik, hingga usaha kerajinan.

Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta menggambarkan Prawirotaman sebagai kawasan yang berkembang dari permukiman menjadi destinasi kosmopolitan yang memadukan kehidupan lokal dan kebutuhan wisatawan internasional.

Model Mancanegara hingga Desainer Muda

Festival tahun ini juga diarahkan untuk mempertemukan promosi wisata dengan regenerasi industri kreatif. Enam SMK dengan jurusan tata busana dilibatkan dalam produksi karya, mulai dari desain, tata rias hingga peragaan busana. 

Penyelenggara juga bekerja sama dengan Office of International Affairs Universitas Gadjah Mada untuk melibatkan mahasiswa asing sebagai model yang memperagakan karya desainer muda Yogyakarta.

Dinas Pariwisata sebelumnya menyebut sekitar 10-20 mahasiswa internasional dipersiapkan sebagai model dalam Fashion on the Street. Sebanyak 25 pembatik muda juga dilibatkan untuk menghasilkan karya yang kemudian dikembangkan bersama desainer menjadi koleksi busana.

Inisiator Fashion on the Street Prawirotaman Lia Mustofa mengatakan, pelibatan generasi muda menjadi bagian penting untuk memastikan keberlanjutan industri fesyen dan batik di Yogyakarta.

"Kami memang mengkhususkan para desainer dan modelnya adalah generasi muda. Ingin ada keberlanjutan," ucapnya.

Sejumlah wisatawan dan mahasiswa asing, antara lain dari Belanda, Jepang, dan Korea, turut terlibat dalam rangkaian kegiatan tersebut.

Festival Prawirotaman juga tidak lagi hanya berlangsung di Jalan Prawirotaman I. Pada penyelenggaraan ke-11, kegiatan diperluas ke Prawirotaman II sehingga ruang promosi bagi UMKM, desainer, pembatik, dan pelaku ekonomi kreatif menjadi lebih luas. Pemerintah berharap perluasan tersebut membuat manfaat festival tidak berhenti pada jumlah pengunjung, tetapi ikut meningkatkan perputaran ekonomi kawasan.

Prawirotaman Dibidik Jadi Ikon Festival Internasional

Pemkot Yogyakarta memiliki target lebih jauh dari sekadar mempertahankan Festival Prawirotaman sebagai agenda tahunan.

Wakil Wali Kota Yogyakarta Wawan Harmawan sebelumnya menyebut, Festival Prawirotaman sebagai salah satu agenda unggulan dalam konsep Yogya Kota Festival. Pemerintah ingin pengembangannya melibatkan seniman, industri kreatif, pengusaha hotel, hingga masyarakat sekitar sehingga terbentuk satu ekosistem pariwisata yang lebih kuat.

Penguatan identitas lokal juga menjadi bagian dari strategi tersebut. Selain dikenal sebagai "kampung turis", Prawirotaman memiliki sejarah sebagai kawasan batik. Festival tahun ini membawa tema Contemporary Art Batik Evolution untuk mempertemukan identitas tersebut dengan ekspresi fesyen yang lebih modern.

Pameran batik kontemporer dalam rangkaian festival menampilkan karya puluhan pembatik muda. Pemerintah berharap revitalisasi identitas batik membuat daya tarik Prawirotaman tidak hanya bertumpu pada hotel, restoran, dan kehidupan malam, tetapi juga pada pengalaman budaya yang khas Yogyakarta.

Bagi Pemkot Yogyakarta, tantangan berikutnya adalah mengubah tingginya kunjungan wisatawan domestik menjadi pijakan untuk memperluas pasar internasional. Festival Prawirotaman menjadi salah satu ujiannya: apakah event berbasis budaya dan ekonomi kreatif lokal mampu membuat kawasan yang sudah dikenal wisatawan asing berkembang menjadi alasan baru untuk datang, tinggal lebih lama, dan membelanjakan lebih banyak uang di Yogyakarta.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Yogyakarta, dan fashion dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.