iklan periskop
Pendidikan

Sebanyak 1.360 Murid Jadi Angkatan Pertama SNT, MPLS Dimulai di 17 Lokasi

Sebanyak 1.360 murid angkatan pertama Sekolah Nasional Terintegrasi mulai mengikuti MPLS di 17 lokasi. Pemerintah menargetkan 500 SNT hingga 2029

1 hari yang lalu · 4 mnt baca
sekolah nasional terintegrasi
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti (kedua dari kanan) bersama dengan Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) Dudung Abdurachman (ketiga dari kanan) dan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno (keempat dari kanan) membuka Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) Angkatan Pertama di SNT 7 Parung Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat pada Senin (10/8/2026). dok. Youtube Ditjen PAUD Dikdas PNFI
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Sebanyak 1.360 murid menjadi angkatan pertama Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) pada tahun ajaran 2026/2027. Para murid yang tersebar di 17 lokasi tersebut mulai mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah pada Senin (10/8/2026), menandai dimulainya operasional program sekolah baru pemerintah tersebut.

Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal dan Informal Kemendikdasmen Gogot Suharwoto mengatakan jumlah tersebut merupakan hasil seleksi dari 2.068 pendaftar. Sebanyak 680 murid diterima pada jenjang SMP dan 680 lainnya pada jenjang SMA.

“Kami telah melakukan proses seleksi atau Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) dari yang mendaftar sebanyak 2068 telah lulus seleksi sebanyak 1.360 murid. Terdiri dari 680 murid SMP dan 680 murid SMA. Ini adalah angkatan pertama Sekolah Nasional Terintegrasi tahun ajaran 2026/2027,” kata Gogot dalam Pembukaan MPLS Sekolah Nasional Terintegrasi Angkatan Pertama di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin.

MPLS pada 10 Agustus 2026 memang telah ditetapkan sebagai titik awal kegiatan sekolah bagi angkatan pertama SNT. Sebelumnya, proses SPMB berlangsung pada Juli, dilanjutkan pengumuman hasil seleksi pada 3 Agustus dan daftar ulang pada 4-7 Agustus 2026.

17 SNT Mulai Beroperasi Tahun Ini

SNT merupakan salah satu program baru Kemendikdasmen yang dirancang untuk mengintegrasikan layanan pendidikan SMP dan SMA dalam satu ekosistem. Integrasi tidak hanya mencakup bangunan sekolah, tetapi juga proses pembelajaran, pengembangan guru, pembinaan karakter, pengembangan talenta, pemanfaatan fasilitas hingga penjaminan mutu.

Pada tahap awal, pemerintah menerima usulan lokasi SNT dari 114 kabupaten dan kota. Setelah melalui verifikasi, validasi, dan kunjungan lapangan, sebanyak 37 lokasi ditetapkan untuk dikembangkan pada 2026.

Dari jumlah tersebut, 17 lokasi mulai memberikan layanan pendidikan pada tahun ajaran 2026/2027. Sementara 20 lokasi lainnya memasuki tahap pembangunan dan direncanakan menerima murid pada 2027. Secara nasional, pemerintah menargetkan pembangunan 500 layanan SNT secara bertahap hingga 2029.

Sebanyak 17 SNT yang beroperasi tahun ini tersebar di Kabupaten Bogor, Kabupaten Cianjur, Kabupaten Gowa, Kabupaten Bone Bolango, Kota Tidore Kepulauan, Ibu Kota Nusantara, Kabupaten Banyumas, Kabupaten Jepara, Kota Subulussalam, Kota Tarakan, Kabupaten Donggala, Kabupaten Bolaang Mongondow, Kabupaten Minahasa Utara, Kabupaten Kupang, Kabupaten Buton Tengah, Kabupaten Tebo, dan Kabupaten Tanjung Jabung Timur.

Untuk SNT yang bangunan permanennya belum selesai, pemerintah menyediakan kelas transisi. Lokasinya dapat menggunakan bangunan baru, Unit Pelaksana Teknis Kemendikdasmen maupun fasilitas belajar yang disediakan pemerintah daerah sampai pembangunan sekolah rampung.

Guru SNT Diseleksi dari Puluhan Ribu Lulusan PPG

Persiapan operasional SNT juga dilakukan dari sisi sumber daya manusia. Kemendikdasmen telah menyiapkan 17 kepala sekolah serta merekrut 204 guru dan tenaga pendamping pembelajaran untuk ditempatkan di sekolah yang mulai beroperasi.

Tenaga pendamping pembelajaran tersebut diseleksi dari puluhan ribu lulusan Pendidikan Profesi Guru (PPG) yang memenuhi persyaratan. Menjelang MPLS, kepala sekolah dan tenaga pendamping juga telah mendapat pembekalan mengenai kepemimpinan, pembelajaran hingga koordinasi kesiapan ruang kelas dan fasilitas sekolah.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti sebelumnya mengingatkan bahwa kualitas tenaga pendidik menjadi salah satu faktor penting dalam keberhasilan program tersebut.

"Guru harus terus belajar. Jangan pernah berhenti meningkatkan kapasitas diri," ucapnya.

Gogot mengatakan para kepala sekolah, guru, dan tenaga pendamping telah mengikuti pelatihan dan persiapan selama lima hari sebelum diterjunkan ke lokasi penugasan masing-masing.

Untuk menunjang proses belajar, pemerintah juga menyiapkan Learning Management System (LMS), bahan ajar, serta perangkat pembelajaran digital di ruang kelas.

Fasilitas SNT nantinya dirancang lebih luas, mulai dari smart classroom, laboratorium modern, future library and learning commons, studio seni kreatif, pusat olahraga, pusat pengembangan guru hingga layanan transportasi di dalam wilayah kabupaten.

SNT Disiapkan Jadi Pusat Pendidikan Bermutu di Daerah

Kemendikdasmen menghadirkan SNT tidak hanya sebagai sekolah bagi murid berprestasi, tetapi juga sebagai pusat peningkatan mutu sekolah di daerah sekitarnya. Program ini merupakan amanat Instruksi Presiden Nomor 10 Tahun 2026 tentang Percepatan Peningkatan Mutu Pendidikan.

Urgensi program tersebut salah satunya berangkat dari kesenjangan mutu pendidikan antardaerah. Mendikdasmen Abdul Mu'ti sebelumnya menyebut data Dapodik per 30 Juni 2025 dan Rapor Pendidikan 2025 menunjukkan baru 263 dari 7.288 kecamatan atau sekitar 4% yang memiliki SMP dan SMA dengan capaian baik. Indikator yang digunakan antara lain akreditasi A serta capaian literasi dan numerasi di atas 75.

"Atas dasar itulah Sekolah Nasional Terintegrasi atau SNT dihadirkan. SNT bukan sekadar pembangunan sekolah baru, SNT merupakan ikhtiar negara untuk mendekatkan layanan pendidikan bermutu kepada anak-anak di daerah," kata Mu'ti.

Model pembelajaran SNT juga dirancang menggunakan tiga lapis kurikulum, yakni kurikulum nasional sebagai fondasi, kurikulum kekhasan sekolah sebagai penguat, serta kurikulum yang menyesuaikan konteks dan potensi masing-masing daerah. Pendekatan STEAMS, pembelajaran mendalam dan digitalisasi menjadi bagian dari model tersebut.

Dengan dimulainya MPLS angkatan pertama, pemerintah kini memasuki tahap awal untuk menguji penerapan konsep SNT secara langsung di daerah.

“Semoga SNT dapat menjadi tempat anak-anak kita belajar, bertumbuh, berprestasi, dan kelak melahirkan pemimpin masa depan yang memberikan kontribusi besar bagi bangsa dan bagi daerah,” kata Gogot.

 

Baca berita dan informasi lainnya mengenai sekolah nasional terintegrasi, dan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.