Periskop.id – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menetapkan 80% kuota Sistem Penerimaan Murid Baru Sekolah Nasional Terintegrasi untuk jalur akademik. Sisa 20% disediakan bagi calon murid yang memiliki prestasi nonakademik.

Ketentuan tersebut tercantum dalam Keputusan Direktur Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, Pendidikan Nonformal, dan Informal Nomor 0026 Tahun 2026 tentang Petunjuk Teknis SPMB Sekolah Nasional Terintegrasi Tahun Ajaran 2026/2027.

“Seleksi calon murid Sekolah Nasional Terintegrasi dilaksanakan dengan mempertimbangkan dua skema jalur, yaitu jalur akademik dan non-akademik,” kata Dirjen PAUD, Dikdas, PNFI Kemendikdasmen Gogot Suharwoto di Jakarta Pusat, Rabu (22/7).

Setiap SNT pada tahun pertama hanya menerima 80 murid, terdiri atas 40 siswa SMP dan 40 siswa SMA. Dengan komposisi tersebut, pembagian kuota secara proporsional setara dengan 64 kursi untuk jalur akademik dan 16 kursi jalur nonakademik di setiap sekolah. Masing-masing jenjang membuka dua rombongan belajar dengan 20 siswa per kelas.

Tes Skolastik Jadi Komponen Terbesar Jalur Akademik

Seleksi pada jalur akademik tidak hanya ditentukan oleh nilai rapor. Tes skolastik menjadi komponen dengan bobot terbesar, yakni 40%. Tes tersebut digunakan untuk mengukur kemampuan penalaran dan potensi belajar calon murid.

Nilai Tes Kemampuan Akademik atau TKA memiliki bobot 25%, disusul sertifikat prestasi akademik 15 persen dan nilai rapor lima semester terakhir 10%. Sebanyak 10% sisanya berasal dari afirmasi ekonomi berdasarkan kepemilikan Kartu Indonesia Pintar, keikutsertaan dalam Program Keluarga Harapan, atau pencatatan dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial.

Dengan demikian, komposisi penilaian jalur akademik meliputi:

Komponen penilaianBobot
Tes skolastik40%
Hasil TKA25%
Sertifikat prestasi akademik15%
Nilai rapor10%
Afirmasi ekonomi10%

Keberadaan komponen afirmasi menunjukkan siswa dari keluarga kurang mampu tetap mendapat tambahan penilaian meskipun SNT dirancang sebagai sekolah yang menyeleksi calon murid berdasarkan kemampuan dan prestasi.

Prestasi Jadi Penentu Utama Jalur Nonakademik

Pada jalur nonakademik, sertifikat prestasi menjadi komponen terbesar dengan bobot 30%. Prestasi yang dapat diperhitungkan minimal diperoleh pada tingkat kabupaten atau kota dan akan dikonversi berdasarkan tabel penyetaraan dalam petunjuk teknis.

Tes bakat skolastik dan hasil TKA masing-masing memiliki bobot 25%. Adapun nilai rapor serta afirmasi ekonomi masing-masing menyumbang 10%.

Komposisi penilaian jalur nonakademik terdiri atas:

Komponen penilaianBobot
Sertifikat prestasi nonakademik30%
Tes bakat skolastik25%
Hasil TKA25%
Nilai rapor10%
Afirmasi ekonomi10%

Porsi TKA yang tetap mencapai 25% menunjukkan calon murid jalur nonakademik masih harus memiliki kemampuan akademik yang memadai. Sertifikat prestasi juga bukan satu-satunya dasar untuk menentukan kelulusan.

Nilai Rapor Minimal 80

Kemendikdasmen menetapkan sejumlah persyaratan umum bagi calon peserta. Pendaftar jenjang SMP maksimal berusia 15 tahun pada 1 Juli 2026, sedangkan batas usia untuk jenjang SMA adalah 21 tahun.

Peserta harus melampirkan NISN, ijazah atau surat keterangan lulus yang telah dilegalisasi, sertifikat hasil TKA, serta rapor lima semester terakhir dengan nilai rata-rata minimal 80.

Calon murid SNT juga diprioritaskan berasal dari kabupaten atau kota tempat sekolah tersebut beroperasi. Proses seleksi dirancang oleh tim nasional karena sekolah ini diarahkan untuk menjaring siswa dengan kemampuan di atas rata-rata dari berbagai kecamatan dalam satu daerah.

Sekolah dapat mengusulkan lima murid terbaik untuk mengikuti seleksi. Kemendikdasmen kemudian melakukan verifikasi administrasi dan tes skolastik terhadap nama-nama yang diajukan.

Hasil Seleksi Diumumkan 3 Agustus

Kemendikdasmen membuka proses SPMB SNT pada 21–24 Juli 2026. Hasil seleksi dijadwalkan diumumkan pada 3 Agustus, sedangkan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah dimulai 10 Agustus 2026.

Sebanyak 17 SNT di 14 provinsi ditargetkan mulai memberikan layanan pada tahun ajaran 2026/2027. Pemerintah juga menyiapkan pembangunan di 20 lokasi lain yang diproyeksikan menerima murid pada 2027. Secara bertahap, pemerintah menargetkan pembangunan 500 layanan SNT hingga 2029.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti mengatakan SNT tidak hanya ditujukan untuk menghadirkan sekolah dengan fasilitas baru, tetapi juga menjadi pusat pengembangan mutu di daerah.

“SNT mendekatkan layanan pendidikan bermutu kepada anak-anak di daerah, mengembangkan potensi, minat, bakat, karakter, dan talenta murid secara optimal, serta menjadi pusat pertumbuhan mutu bagi sekolah-sekolah di wilayah sekitarnya,” ujar Abdul Mu’ti.

SNT mengintegrasikan pendidikan SMP dan SMA dalam satu ekosistem. Model tersebut mencakup pembelajaran berkelanjutan, pengembangan guru, pembinaan karakter, pemanfaatan fasilitas bersama, dan pengembangan talenta murid. Kurikulumnya menggunakan kurikulum nasional yang diperkaya kompetensi global serta pendekatan sains, teknologi, teknik, seni, matematika, dan olahraga.

Kemendikdasmen mengingatkan peserta dan orang tua memantau informasi melalui portal resmi SNT. Proses penerimaan tidak dipungut biaya dan kelulusan ditentukan berdasarkan hasil seleksi sesuai pembobotan yang telah ditetapkan.