Periskop.id – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menyiapkan rekrutmen guru berstatus Pegawai Negeri Sipil pusat untuk mengajar di Sekolah Nasional Terintegrasi atau SNT. Calon guru tidak hanya diseleksi berdasarkan ijazah, tetapi juga kemampuan bahasa asing, teknologi pembelajaran, komunikasi, kreativitas, dan pengelolaan kelas.

Guru yang lolos seleksi nantinya masih harus mengikuti pelatihan selama 2,5 bulan sebelum mengajar. Skema tersebut disiapkan untuk memastikan tenaga pendidik memiliki kompetensi yang sesuai dengan model pembelajaran SNT yang menggabungkan kurikulum nasional, teknologi digital, bahasa asing, dan potensi daerah.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti memastikan guru dan kepala sekolah SNT akan berstatus sebagai aparatur sipil negara di bawah pemerintah pusat.

“Gurunya nanti PNS, kepala sekolahnya PNS. PNS pusat, tapi nanti proses seleksinya juga bertahap,” kata Mendikdasmen Abdul Mu'ti di Jakarta, Selasa (21/7). 

Namun, Kemendikdasmen belum mengumumkan jadwal pembukaan pendaftaran, jumlah formasi yang tersedia, pembagian kebutuhan guru untuk setiap mata pelajaran, maupun portal yang akan digunakan dalam proses seleksi. Pemerintah baru menyatakan perekrutan dilakukan secara bertahap hingga seleksi CPNS resmi dibuka.

Minimal S1, Lulusan S2 dan S3 Diprioritaskan

Calon guru SNT setidaknya harus memiliki pendidikan sarjana atau S1. Pemerintah akan memberikan prioritas kepada pelamar dengan kualifikasi pendidikan S2 atau S3.

Penguasaan bahasa asing juga menjadi salah satu persyaratan penting. Kemampuan tersebut harus dibuktikan melalui hasil tes kebahasaan berstandar, seperti TOEFL. Selain itu, sertifikat pelatihan atau lokakarya di bidang pendidikan akan menjadi nilai tambah bagi pelamar.

Kemendikdasmen turut mencari guru yang mampu menggunakan teknologi dalam pembelajaran, berkomunikasi dengan baik, kreatif dalam menyampaikan materi, serta memiliki kemampuan manajemen kelas. Kriteria itu disesuaikan dengan pembelajaran SNT yang dirancang lebih intensif dan berorientasi pada kompetensi global.

Kurikulum SNT tetap menggunakan kurikulum nasional sebagai fondasi. Namun, pembelajaran akan diperkaya dengan bahasa asing, teknologi digital, wawasan global, budaya lokal, serta pendekatan Science, Technology, Engineering, Arts, Mathematics, and Sports atau STEAMS.

Calon Guru Wajib Magang di Kelas

Setelah melewati seluruh proses seleksi, calon guru belum dapat langsung ditempatkan di SNT. Mereka diwajibkan menjalani pelatihan selama 2,5 bulan yang terbagi menjadi lokakarya dan praktik mengajar.

Lokakarya berlangsung selama 1,5 bulan melalui pelatihan tatap muka. Materinya akan disesuaikan dengan kebutuhan guru pada setiap jenjang pendidikan.

Tahap berikutnya berupa internship in class atau magang di kelas selama satu bulan. Dalam tahap ini, calon guru harus mempraktikkan materi pelatihan dengan mengajar di sekolah mitra atau sister school. Mereka juga mengikuti pengayaan dan evaluasi secara berkala sebelum dinyatakan siap bertugas.

Pelatihan tersebut menjadi penting karena SNT tidak hanya diarahkan sebagai sekolah unggulan bagi murid. Sekolah ini juga diproyeksikan menjadi pusat pengembangan mutu yang dapat berbagi praktik pembelajaran dengan sekolah lain di sekitarnya.

Guru Transisi Disiapkan Menunggu Seleksi CPNS

Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen Nunuk Suryani mengatakan tenaga pendidik SNT berasal dari rekrutmen baru. Namun, pemerintah menyiapkan mekanisme sementara untuk memenuhi kebutuhan guru sebelum seleksi CPNS dilaksanakan.

“Rekrut baru, cuma untuk masa transisi kita penuhi gurunya sampai ada seleksi CPNS,” kata Nunuk.

Kemendikdasmen belum menjelaskan secara terperinci apakah tenaga pengajar pada masa transisi akan berasal dari guru ASN yang ditugaskan sementara, hasil seleksi khusus, atau skema penempatan lainnya. Mekanisme tersebut masih dipersiapkan bersamaan dengan formasi PNS pusat.

Tahap Awal Beroperasi di 17 Daerah

Kebutuhan guru baru muncul seiring rencana pengoperasian 17 SNT jenjang SMP dan SMA pada 2026. Sekolah tersebut tersebar di sejumlah daerah, termasuk Kabupaten Bogor, Cianjur, Banyumas, Jepara, Gowa, Kupang, Tebo, Tanjung Jabung Timur, serta Ibu Kota Nusantara.

Selama pembangunan gedung permanen berlangsung, kegiatan belajar akan menggunakan kelas transisi yang disediakan di unit pelaksana teknis Kemendikdasmen maupun fasilitas milik pemerintah daerah. Pemerintah juga menyiapkan 20 sekolah tambahan yang ditargetkan menerima murid pada tahun ajaran 2027/2028.

Pada tahun pertama, setiap SNT hanya menerima 80 murid. Kuota itu terdiri atas 40 murid SMP dan 40 murid SMA, dengan masing-masing jenjang membuka dua rombongan belajar berisi 20 siswa. Seleksi murid dilaksanakan oleh tim tingkat nasional karena SNT ditujukan untuk menjaring anak dengan kemampuan dan prestasi di atas rata-rata dari wilayah tempat sekolah berdiri.

Secara keseluruhan, pemerintah menargetkan menyediakan 500 layanan SNT secara bertahap hingga 2029. Perluasan tersebut membuat kepastian jumlah formasi, pola distribusi guru, dan jadwal seleksi PNS menjadi bagian penting agar pembangunan sekolah berjalan seiring dengan ketersediaan tenaga pendidik berkualitas.