Bank Jakarta Biayai 2.388 Pedagang Pasar, Outstanding Capai Rp326 Miliar
Bank Jakarta mencatat outstanding pembiayaan Rp326 miliar kepada 2.388 pedagang pasar hingga Juni 2026 untuk mendorong UMKM naik kelas

Periskop.id - Bank Jakarta memperkuat dukungan pembiayaan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), khususnya pedagang pasar di Ibu Kota. Hingga Juni 2026, outstanding pembiayaan kepada pedagang di berbagai pasar Jakarta tercatat mencapai sekitar Rp326 miliar dengan jumlah 2.388 debitur.
Penyaluran pembiayaan tersebut didukung 243 Sentra Mikro Bank Jakarta yang tersebar di berbagai wilayah Jakarta. Kehadiran sentra mikro ditujukan untuk mendekatkan akses layanan keuangan dengan pusat aktivitas usaha sekaligus membantu bank memahami kebutuhan pembiayaan yang berbeda di setiap kawasan.
Direktur Utama Bank Jakarta Agus H. Widodo mengatakan, penguatan bisnis perseroan harus berjalan beriringan dengan peningkatan peran Bank Jakarta terhadap perekonomian masyarakat.
"Sebagai bank milik masyarakat Jakarta, transformasi Bank Jakarta tidak boleh hanya membuat kami semakin besar, semakin modern, dan semakin digital. Transformasi harus membuat Bank Jakarta semakin dekat dengan masyarakat dan semakin relevan bagi perekonomian Jakarta," kata Agus saat menghadiri Akad Kredit Massal bagi 100 pedagang di Pasar Induk Kramat Jati.
Rp48 Miliar Mengalir ke Pedagang Pasar Induk Kramat Jati
Pasar Induk Kramat Jati menjadi salah satu kawasan yang mendapatkan perhatian dalam ekspansi pembiayaan tersebut. Bank Jakarta telah menyalurkan kredit dengan plafon mencapai Rp48 miliar kepada 167 pedagang di kawasan pasar tersebut.
Potensi pembiayaan masih terbuka lebar lantaran Pasar Induk Kramat Jati memiliki lebih dari 5.000 tempat usaha dan menjadi salah satu pusat perdagangan sekaligus distribusi pangan penting di Jakarta.
Peran strategis pasar tersebut sebelumnya juga disoroti Gubernur Jakarta Pramono Anung. Saat meninjau pedagang yang terdampak kebakaran pada Desember 2025, Pramono meminta Bank Jakarta memberikan kemudahan pembiayaan bagi pedagang yang membutuhkan tambahan modal.
“Para pedagang meminta kemudahan mengambil kredit dari Bank Jakarta. Ketika saya tanya berapa yang akan diambil, Rp500 juta,” ujar Pramono.
Pemprov Jakarta kala itu menyebut perputaran transaksi di Pasar Induk Kramat Jati dapat mencapai Rp100 juta per hari. Kondisi tersebut membuat akses terhadap modal kerja menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga keberlangsungan dan pengembangan usaha para pedagang.
Bank Jakarta menyediakan pembiayaan melalui sejumlah skema, mulai dari Kredit Usaha Rakyat (KUR) hingga kredit non-KUR dengan plafon mencapai Rp500 juta. Pembiayaan formal tersebut diarahkan menjadi alternatif bagi pelaku UMKM yang membutuhkan tambahan modal, tanpa harus bergantung pada sumber pembiayaan informal dengan biaya tinggi.
Kredit UMKM Bank Jakarta Tembus Rp10,46 Triliun
Pembiayaan kepada pedagang pasar menjadi bagian dari portofolio kredit UMKM Bank Jakarta yang lebih luas. Hingga kuartal I-2026, Bank Jakarta mencatat penyaluran kredit dan pembiayaan kepada sektor UMKM sebesar Rp10,46 triliun.
Nilainya tumbuh 26,27% secara tahunan atau year on year (yoy). Sebanyak 2.208 debitur di antaranya merupakan pelaku usaha yang tergabung dalam program Jakpreneur. “Bank Jakarta akan terus memperkuat perannya sebagai mitra strategis bagi pelaku UMKM melalui berbagai produk pembiayaan, layanan perbankan digital, serta kolaborasi dengan berbagai pihak guna menciptakan ekosistem usaha yang semakin inklusif dan kompetitif," ujar Agus.
Langkah memperkuat akses modal bagi pedagang juga memiliki relevansi dengan struktur ekonomi Jakarta. Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta mencatat ekonomi Ibu Kota tumbuh 5,52% secara tahunan pada kuartal II-2026.
Sektor perdagangan besar dan eceran serta reparasi mobil dan sepeda motor menjadi penyumbang terbesar struktur perekonomian Jakarta dengan kontribusi 18,24%. Sementara dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga mendominasi sebesar 63,24%.
Data tersebut menunjukkan besarnya peran aktivitas perdagangan dan konsumsi masyarakat dalam menopang ekonomi Jakarta, termasuk kegiatan ekonomi yang berlangsung di pasar tradisional dan sentra UMKM.
Tak Hanya Modal, Pedagang Didorong Masuk Ekosistem Digital
Bank Jakarta juga berupaya agar dukungan terhadap UMKM tidak berhenti pada penyaluran kredit. Pedagang didorong masuk ke ekosistem transaksi digital sekaligus memperbaiki pengelolaan keuangan agar lebih siap memperbesar skala usaha.
Sebelumnya, digitalisasi pasar telah dilakukan melalui penggunaan QRIS dan layanan Bank Jakarta di sejumlah pasar, termasuk Pasar Kramat Jati, Pasar Santa, Pasar Rumput, Pasar Kedoya, Pasar Koja, Perumnas Klender, Pasar Kebayoran Lama, dan Pasar Ciracas.
Penguatan akses pembiayaan yang disertai digitalisasi diharapkan membentuk rekam jejak transaksi yang lebih baik bagi pedagang sekaligus membuka peluang mereka mendapatkan layanan keuangan yang lebih luas seiring perkembangan usaha.
"Hari ini mungkin nasabah mikro, besok berkembang menjadi usaha kecil, kemudian menjadi usaha menengah. Bank Jakarta harus tetap hadir dan tumbuh bersama mereka," tutup Agus.
Baca berita dan informasi lainnya mengenai Agus H. Widodo, bank jakarta, pedagang pasar, pembiayaan, dan pasar induk kramat jati dengan mengeklik tautan.

Komentar (0)
Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.
Belum ada komentar.