Seratus Pedagang Pasar Induk Kramat Jati Ikut Akad Kredit Massal Bank Jakarta
Bank Jakarta menggelar akad kredit massal bagi 100 pedagang Pasar Induk Kramat Jati untuk memperluas akses pembiayaan dan mendorong UMKM naik kelas

Periskop.id - Sebanyak 100 pedagang Pasar Induk Kramat Jati mengikuti akad kredit massal yang digelar Bank Jakarta sebagai bagian dari perluasan akses pembiayaan bagi pelaku usaha mikro di Ibu Kota.
Kegiatan yang disaksikan Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno bersama jajaran Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tersebut diarahkan tidak sekadar menjadi penyaluran modal, tetapi juga mendorong pedagang pasar memperbesar skala usaha dan naik kelas.
Direktur Utama Bank Jakarta Agus H. Widodo mengatakan, pendekatan kepada pelaku usaha mikro menjadi bagian penting dalam strategi perseroan. Menurutnya, layanan pembiayaan harus semakin mudah dijangkau tanpa membuat pedagang meninggalkan aktivitas usahanya hanya untuk mencari akses perbankan.
"Kami tidak ingin pedagang yang sibuk mencari bank. Bank Jakarta yang harus semakin dekat dan hadir di tengah-tengah pedagang," ujar Agus, Selasa (1/9).
Akad kredit massal tersebut sekaligus memperkuat kolaborasi antara Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Perumda Pasar Jaya, dan Bank Jakarta dalam membangun ekosistem usaha mikro di pasar rakyat.
Penyaluran Kredit di Kramat Jati Capai Rp48 Miliar
Pasar Induk Kramat Jati menjadi salah satu kawasan yang memiliki potensi besar untuk pengembangan pembiayaan usaha mikro. Hingga saat ini, Bank Jakarta mencatat penyaluran kredit di kawasan tersebut telah mencapai plafon sekitar Rp48 miliar kepada 167 pedagang.
Ruang ekspansi pembiayaan masih terbuka lebar. Pasalnya, Pasar Induk Kramat Jati memiliki lebih dari 5.000 tempat usaha dan menjadi salah satu pusat perdagangan serta distribusi komoditas penting di Jakarta.
Untuk memperluas jangkauan layanan kepada masyarakat dan pelaku usaha, Bank Jakarta kini memiliki 243 Sentra Mikro yang tersebar di seluruh wilayah Jakarta. Jaringan tersebut menjadi ujung tombak dalam mendekatkan layanan pembiayaan dengan sentra aktivitas ekonomi masyarakat.
Agus menegaskan keberhasilan program pembiayaan tidak hanya dilihat berdasarkan nominal kredit yang berhasil disalurkan. Dampak pembiayaan terhadap perkembangan usaha menjadi ukuran yang lebih penting bagi bank.
"Bagi Bank Jakarta, keberhasilan bukan diukur dari seberapa besar kredit yang kami salurkan. Keberhasilan yang sesungguhnya adalah ketika pembiayaan tersebut membuat usaha pedagang berkembang, omzet bertambah, lapangan kerja tercipta, dan semakin banyak UMKM Jakarta naik kelas," lanjut Agus.
Kredit UMKM Bank Jakarta Tembus Rp10,46 Triliun
Program di Pasar Induk Kramat Jati menjadi bagian dari ekspansi pembiayaan UMKM Bank Jakarta secara lebih luas. Hingga kuartal I-2026, penyaluran kredit dan pembiayaan Bank Jakarta kepada sektor UMKM telah mencapai Rp10,46 triliun atau tumbuh 26,27% secara tahunan.
Sebanyak 2.208 debiturnya tercatat merupakan pelaku usaha yang tergabung dalam program Jakpreneur, berdasarkan data Bank Jakarta pada Juni 2026. Pertumbuhan kredit tersebut menunjukkan semakin besarnya porsi UMKM dalam strategi bisnis Bank Jakarta, sekaligus memperkuat peran bank pembangunan daerah dalam membuka akses modal bagi usaha skala mikro dan kecil.
Perluasan layanan keuangan juga menjadi perhatian Pemprov DKI Jakarta. Saat meresmikan KCP Bank Jakarta Kebayoran Park pada Juli 2026, Rano Karno meminta transformasi bank daerah tidak berhenti pada pengembangan bisnis, tetapi harus memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
"Saya berharap Bank Jakarta terus memperkuat inovasi, menjaga tata kelola yang sehat, serta meningkatkan kualitas pelayanan sehingga semakin dipercaya masyarakat," kata Rano.
Sebelumnya, Pemprov DKI juga terlibat dalam akad massal Kredit Usaha Rakyat (KUR) pada Oktober 2025. Dinas PPKUKM DKI Jakarta mencatat sebanyak 1.000 pelaku UMKM di Jakarta dilibatkan dalam penyaluran KUR serentak sebagai bagian dari upaya memperbesar akses pembiayaan yang mudah dan berkelanjutan.
Perdagangan Jadi Penopang Utama Ekonomi Jakarta
Penguatan pembiayaan terhadap pedagang juga relevan dengan struktur perekonomian Jakarta yang masih ditopang kuat oleh aktivitas perdagangan. Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta mencatat perekonomian Jakarta tumbuh 5,52% secara tahunan pada kuartal II-2026. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jakarta atas dasar harga berlaku pada periode tersebut mencapai Rp1.058,02 triliun.
Dari sisi lapangan usaha, perdagangan besar dan eceran serta reparasi mobil dan sepeda motor menjadi sektor dengan kontribusi terbesar terhadap perekonomian Jakarta, yakni 18,24%. Konsumsi rumah tangga juga mendominasi struktur PDRB dari sisi pengeluaran dengan porsi 63,24%.
Sektor perdagangan sekaligus berperan besar dalam penyerapan tenaga kerja. Berdasarkan Sakernas Mei 2026, jumlah penduduk bekerja di Jakarta mencapai 5,26 juta orang dan lapangan usaha perdagangan besar serta eceran tercatat sebagai penyerap tenaga kerja terbesar.
Kondisi tersebut membuat penguatan akses modal bagi pedagang pasar memiliki efek yang lebih luas, mulai dari menjaga perputaran usaha, meningkatkan omzet hingga membuka peluang penciptaan lapangan pekerjaan.
Melalui sinergi Bank Jakarta, Pemprov DKI Jakarta, dan Perumda Pasar Jaya, akses pembiayaan di pasar rakyat diharapkan tidak hanya menambah modal kerja pedagang, tetapi juga menjadi pintu bagi pelaku usaha mikro untuk membangun usaha yang lebih sehat, berkembang, dan memiliki peluang naik ke skala yang lebih besar.
Baca berita dan informasi lainnya mengenai Agus H. Widodo, bank jakarta, pembiayaan, pedagang pasar, dan pasar induk kramat jati dengan mengeklik tautan.

Komentar (0)
Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.
Belum ada komentar.