Survei Cove: 6 dari 10 Gen Z-Milenial Pilih Sewa Hunian 1-3 Bulan
Survei Cove mencatat hampir 60% penghuni Gen Z dan Milenial memilih sewa hunian 1-3 bulan pada 2026, dengan lokasi dan fasilitas jadi pertimbangan utama

Periskop.id - Preferensi hunian generasi muda mulai bergeser ke kontrak yang lebih pendek. Survei internal Cove menemukan hampir 60% penghuni Gen Z dan Milenial pada 2026 berencana menyewa hunian selama 1-3 bulan, meningkat 32 poin persentase dibandingkan tiga tahun sebelumnya.
Pada saat yang sama, pilihan tinggal selama satu tahun atau lebih justru turun 22 poin persentase dalam tiga tahun. Temuan tersebut menunjukkan fleksibilitas mulai menjadi pertimbangan penting bagi sebagian generasi muda perkotaan dalam menentukan tempat tinggal, selain lokasi dan kelengkapan fasilitas.
Namun, data tersebut perlu dibaca sesuai cakupannya. Survei tahunan Cove pada periode 2023-2026 melibatkan total 779 responden yang merupakan penghuni Cove di Jabodetabek, Bandung, Bali, dan Surabaya. Responden merupakan Gen Z dan Milenial berusia 14-45 tahun ketika survei dilakukan. Karena hanya melibatkan pengguna Cove, hasilnya tidak dapat langsung mewakili seluruh Gen Z dan Milenial Indonesia.
Country Director of Growth and VP of Online Marketing Cove Dian Paskalis mengatakan kebutuhan hunian generasi muda tidak lagi hanya berhubungan dengan keberadaan kamar untuk beristirahat.
“Hari Perumahan Nasional kembali mengingatkan kebutuhan generasi muda yang amat spesifik untuk hunian. Sebanyak 95 persen penghuni Cove saat ini merupakan Gen Z dan Milenial, dan bagi mereka hunian yang layak tidak hanya sekedar kamar yang cukup untuk tidur, namun sebuah hunian yang dapat mendukung mobilitas, gaya hidup, dan pergeseran preferensi mereka yang cenderung dinamis,” ungkap Dian Paskalis, Country Director of Growth and VP of Online Marketing, Cove.
Kontrak Pendek Naik, Pendapatan Disebut Relatif Sama
Cove mencatat pergeseran durasi sewa tidak dibarengi perubahan besar pada tingkat pendapatan mayoritas responden dalam setahun terakhir. Pendapatan kelompok terbanyak penghuni disebut tetap berada di kisaran Rp10 juta per bulan pada 2025 maupun 2026.
Perusahaan menilai kondisi itu mengindikasikan kontrak pendek tidak hanya dipilih karena persoalan finansial. Mobilitas pekerjaan, perubahan kebutuhan, keinginan berpindah lingkungan, hingga enggan terikat kontrak jangka panjang disebut turut memengaruhi keputusan.
Fleksibilitas tersebut sejalan dengan perubahan cara sebagian generasi muda memandang hunian. Generasi digital memang semakin mempertimbangkan fleksibilitas, akses mobilitas, dan kemampuan sebuah hunian mendukung aktivitas sehari-hari, bukan semata luas bangunan.
Meski demikian, memilih menyewa tidak berarti minat generasi muda untuk memiliki rumah menghilang. Data BP Tapera justru menunjukkan 62% dari 278.868 penerima pembiayaan FLPP sepanjang 2025 berada dalam kelompok usia 19-30 tahun, atau sebanyak 172.991 orang. Data tersebut memperlihatkan kepemilikan rumah tetap diminati, terutama ketika tersedia skema pembiayaan bersubsidi.
Dengan kata lain, tren sewa fleksibel dan minat memiliki rumah dapat berlangsung bersamaan. Sewa menjadi pilihan untuk kebutuhan mobilitas jangka pendek, sementara kepemilikan rumah tetap dipandang sebagai tujuan jangka panjang bagi sebagian generasi muda.
Lokasi Dekat Kantor dan Transportasi Makin Dicari
Durasi kontrak bukan satu-satunya faktor. Survei Cove mencatat 79% responden memilih hunian karena fasilitas kamar pribadi yang lengkap. Sebanyak 52% mempertimbangkan jarak menuju kantor dan transportasi umum, sedangkan 51% menjadikan fasilitas bersama seperti pusat kebugaran, rooftop, dan kolam renang sebagai pertimbangan.
Dibandingkan tiga tahun lalu, faktor lokasi mengalami peningkatan lebih dari 20 poin persentase. Jakarta Selatan menjadi kawasan yang paling diminati dengan 64%, disusul Jakarta Pusat 43% dan Jakarta Barat 35%. Menariknya, 51% penghuni pada tahun ini sebelumnya juga sudah tinggal di Jabodetabek, bukan pendatang dari luar kawasan tersebut.
Temuan ini memperkuat indikasi bahwa pindah hunian tidak selalu berarti berpindah kota. Sebagian penyewa dapat berpindah tempat tinggal untuk mendekati kantor, transportasi publik, maupun pusat aktivitas mereka.
Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) juga mengidentifikasi kebutuhan serupa. Dalam Rencana Strategis Kementerian PKP, pemerintah menyebut Gen Z memiliki mobilitas tinggi, sedangkan generasi Milenial dan Gen Z cenderung mempertimbangkan hunian yang dekat pusat aktivitas, transportasi umum, dan fasilitas perkotaan. Pemerintah karena itu mendorong hunian vertikal serta kawasan berbasis Transit Oriented Development atau TOD sebagai salah satu strategi.
Data BPS turut menunjukkan sewa merupakan bagian cukup besar dari pola hunian Jakarta. Berdasarkan Susenas 2024, 21,30% rumah tangga DKI Jakarta tinggal di rumah kontrak atau sewa, sementara 54,44% tinggal di rumah milik sendiri. Di Jakarta Selatan, proporsi rumah tangga yang mengontrak atau menyewa mencapai 22,1%.
Data BPS tersebut mencakup seluruh rumah tangga dan tidak secara khusus menggambarkan Gen Z maupun Milenial.
Kebersihan Jadi Faktor yang Bisa Membatalkan Sewa
Standar fisik bangunan juga menjadi perhatian. Sebanyak 52% responden Cove menyebut kebersihan dan buruknya perawatan bangunan sebagai alasan utama membatalkan pilihan terhadap hunian lain yang sebelumnya mereka pertimbangkan.
Keluhannya mencakup gedung yang kotor atau terlihat tua, fasilitas kamar tidak terawat hingga sirkulasi udara yang dinilai buruk. Sebanyak 43% responden juga menyoroti kurang lengkapnya fasilitas. Area parkir, koneksi Wi-Fi yang stabil dan lift di bangunan bertingkat mulai dipandang sebagai kebutuhan dasar ketimbang sekadar fasilitas tambahan.
Pergeseran tersebut memperlihatkan kompetisi hunian sewa tidak hanya ditentukan oleh harga. Kondisi bangunan, fasilitas, akses transportasi dan fleksibilitas kontrak semakin menjadi satu paket pertimbangan.
Harga Rumah Tetap Jadi Bagian dari Persoalan Akses
Meski rilis Cove menyebut meningkatnya harga rumah perkotaan sebagai salah satu latar belakang tumbuhnya pilihan sewa, data Bank Indonesia menunjukkan harga rumah baru di pasar primer secara nasional pada kuartal II 2026 hanya tumbuh 0,69% secara tahunan, sedikit meningkat dari 0,62% pada kuartal sebelumnya.
Artinya, istilah harga rumah yang “melambung” tidak selalu tercermin dari laju kenaikan indeks harga nasional saat ini. Persoalan keterjangkauan juga berkaitan dengan tingkat pendapatan, besarnya uang muka, kemampuan mencicil, dan lokasi rumah yang tersedia.
BI mencatat 70,05% pembelian properti residensial primer pada kuartal II 2026 menggunakan Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Sementara penjualan rumah primer masih mengalami kontraksi 2,36% secara tahunan, meskipun membaik dibandingkan kontraksi 25,67% pada kuartal sebelumnya.
Pemerintah sendiri terus memperbesar akses kepemilikan. Hingga 31 Juli 2026, realisasi KPR subsidi melalui skema FLPP telah mencapai 121.363 unit. Target pemerintah sepanjang tahun ini mencapai 350.000 rumah subsidi.
Kementerian PKP juga tengah mendorong hunian vertikal dan pembiayaan yang lebih mudah bagi generasi muda. Kebijakan itu menunjukkan tantangan perumahan tidak bisa dijawab dengan satu model saja, baik kepemilikan maupun sewa.
Temuan Cove pada akhirnya memperlihatkan salah satu sisi perubahan perilaku generasi muda perkotaan: hunian semakin diperlakukan sebagai layanan yang harus dapat mengikuti mobilitas penghuninya. Kontrak pendek, lokasi strategis dan fasilitas lengkap menjadi semakin penting, meski keinginan memiliki rumah sendiri belum hilang.
Bagi industri properti, pergeseran tersebut membuka peluang pengembangan hunian sewa yang lebih fleksibel. Sementara bagi pemerintah, tantangannya lebih luas, yakni memastikan generasi muda memiliki pilihan hunian yang layak dan terjangkau, baik ketika mereka ingin menyewa dekat tempat bekerja maupun ketika siap beralih menjadi pemilik rumah.
Baca berita dan informasi lainnya mengenai Cove, perumahan, alternatif hunian, Gen Z, dan Gen Milenial dengan mengeklik tautan.
Komentar (0)
Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.
Belum ada komentar.