Transportasi

Maskapai Budget Asia Tenggara Mulai Tertekan Harga BBM dan Daya Beli

Maskapai berbiaya rendah di Asia Tenggara catat kerugian akibat lonjakan harga bahan bakar dan pelemahan daya beli menjelang paruh kedua 2026.

3 hari yang lalu · 3 mnt baca
Maskapai Budget Asia Tenggara Mulai Tertekan Harga BBM dan Daya Beli
Salah satu armada AirAsia. Foto/dok: AirAsia.dok
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Maskapai berbiaya rendah alias low-cost carrier (LCC) di Asia Tenggara menghadapi tekanan berat pada paruh kedua 2026. Kenaikan harga bahan bakar akibat konflik Timur Tengah dan pelemahan daya beli rumah tangga menekan margin keuntungan maskapai kawasan ini, demikian laporan Reuters.

Sejumlah eksekutif dan analis industri penerbangan menyebutkan, kinerja kuartal terbaru AirAsia Malaysia, Scoot, dan Cebu Pacific memperlihatkan tekanan tersebut. AirAsia dan Cebu Pacific mencatat kerugian bersih, sementara kerugian operasional Scoot melonjak hampir dua kali lipat.

"Prospek jangka pendek cukup suram. Meski ada harapan perbaikan pada kuartal IV, masih terlalu dini untuk benar-benar mengukurnya," kata analis penerbangan independen Brendan Sobie.

Bahan bakar menyumbang porsi biaya operasional yang jauh lebih besar bagi maskapai LCC dibandingkan maskapai layanan penuh. Di sisi lain, penumpang LCC dikenal lebih sensitif terhadap harga sehingga ruang untuk menaikkan tarif menjadi terbatas tanpa berisiko menggerus permintaan.

Tekanan itu diperparah pelemahan mata uang regional terhadap dolar AS. Ringgit Malaysia, baht Thailand, rupiah, dan peso Filipina tercatat melemah, sehingga biaya bahan bakar dan sewa pesawat yang dibayarkan dalam dolar AS ikut membengkak.

Chief Executive Officer Cebu Pacific Mike Szucs menyebutkan, kuartal II-2026 menjadi periode operasional paling berat bagi maskapainya sejak pandemi berakhir. Ia memaparkan, biaya bahan bakar Cebu Pacific melonjak lebih dari dua kali lipat dibandingkan periode sama tahun sebelumnya, sementara peso Filipina melemah sekitar 8%.

Untuk meredam risiko kenaikan harga bahan bakar dalam waktu dekat, Cebu Pacific telah melakukan lindung nilai atau hedging atas sekitar 30% kebutuhan bahan bakar kuartal III-2026, dengan patokan harga di bawah US$120 per barel.

Head of Asia-Pacific Transportation Research BofA Global Research Nathan Gee menilai, maskapai layanan penuh relatif lebih terlindungi karena masih menikmati permintaan kuat dari penumpang premium pascapandemi. Menurutnya, maskapai berbiaya rendah memperoleh manfaat lebih terbatas lantaran produk yang lebih sederhana dan program loyalitas yang lebih kecil.

AirAsia bahkan bersiap menghadapi kuartal III yang lemah, periode yang secara historis mencatat permintaan perjalanan regional paling rendah. Maskapai ini berencana memangkas kapasitas kursi sekitar 20%-25% secara tahunan, mengembalikan 25 pesawat lama ke perusahaan penyewa sepanjang 2026, serta menghentikan sementara rute Sydney-Kuala Lumpur mulai Oktober.

Chief Executive Officer AirAsia Bo Lingam menjelaskan, perusahaan mengambil pendekatan terukur dan taktis untuk menjaga kinerja keuangan setelah harga rata-rata bahan bakar jet mencapai US$183 per barel pada kuartal II. AirAsia disebut turut mencatat kerugian valuta asing sekitar US$82 juta pada periode tersebut, meski Lingam berharap kapasitas penerbangan bisa kembali ke level sebelum perang pada kuartal IV.

Berbeda dari AirAsia, Scoot justru menambah kapasitas karena permintaan penumpang dinilai masih kuat. Namun, biaya per unit penumpang anak usaha Singapore Airlines itu naik 21,7% dalam tiga bulan hingga Juni 2026, membuat kerugian operasionalnya membengkak menjadi S$32 juta atau sekitar US$25,2 juta dari sebelumnya S$17 juta.

Kondisi tersebut membuat tingkat keterisian impas atau break-even load factor Scoot mencapai 100%, meski keterisian aktualnya hanya 90,6%. Chief Commercial Officer Scoot Calvin Chan mengungkapkan, penyesuaian tarif yang sudah dilakukan belum sepenuhnya mampu mengimbangi kenaikan harga bahan bakar.

Nathan Gee mengingatkan, penurunan harga bahan bakar tidak serta-merta jadi kabar baik. Kondisi itu berpotensi mendorong maskapai mengembalikan kapasitas penerbangan dan bersaing lebih agresif lewat penurunan harga tiket, terutama di rute-rute kawasan Asia yang rentan kelebihan pasokan pesawat narrowbody.

Kombinasi tekanan biaya bahan bakar, pelemahan mata uang, persaingan tarif, dan daya beli konsumen yang belum pulih membuat industri penerbangan Asia Tenggara masih harus berhati-hati. Harapan pemulihan pada kuartal IV 2026 pun menjadi faktor yang dinantikan pelaku industri penerbangan kawasan ini.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai AirAsia, dan maskapai penerbangan dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.