periskop.id - PT AirAsia Indonesia Tbk (CMPP) mencatatkan perbaikan kinerja sepanjang tahun buku yang berakhir 31 Desember 2025. Maskapai ini membukukan pendapatan sebesar Rp7,87 triliun, sekaligus berhasil menekan kerugian hingga 15% dibandingkan tahun sebelumnya.
Direktur Utama Air Asia Indonesia Achmad Sadikin Abdurachman mengatakan sepanjang tahun lalu perusahaan fokus memperkuat konektivitas penerbangan sekaligus menjaga efisiensi operasional.
“Sepanjang tahun 2025 kami fokus memperkuat konektivitas penerbangan sekaligus menjaga efisiensi operasional. Upaya tersebut memungkinkan Indonesia AirAsia menurunkan kerugian di tengah tantangan industri penerbangan yang masih menghadapi tekanan biaya operasional,” ujarnya melalui keterangan resmi di Jakarta dikutip Senin (16/3).
Achmad memaparkan sepanjang 2025, melalui anak usahanya maskapai penerbangan tersebut berhasil mengangkut 5,91 juta penumpang dengan tingkat keterisian kursi (load factor) mencapai 83% di seluruh jaringan penerbangannya.
Kontributor terbesar terhadap pendapatan masih berasal dari penjualan kursi, yang mencapai Rp6,62 triliun. Sementara itu, pendapatan tambahan (ancillary revenue) yang mencakup bagasi, layanan selama penerbangan, kargo, charter, hingga layanan tambahan lainnya memberikan kontribusi Rp1,25 triliun, meningkat 3% dibandingkan tahun 2024.
Dari sisi operasional, kinerja entitas penerbangan itu pada tahun 2025 dipengaruhi oleh penurunan kapasitas penerbangan yang bersifat sementara. Hal ini seiring dengan pelaksanaan jadwal perawatan pesawat yang merupakan bagian penting dalam menjaga standar keselamatan serta keandalan operasional maskapai. Sehingga program pemeliharaan tersebut berdampak pada berkurangnya kapasitas kursi yang tersedia pada beberapa periode sepanjang tahun.
Kendati demikian, di tengah dinamika nilai tukar, depresiasi dolar AS sekitar 3,8% terhadap rupiah turut memberikan tekanan terhadap biaya operasional yang sebagian besar berbasis mata uang asing. Meski demikian, berbagai langkah efisiensi yang dijalankan perusahaan berhasil menurunkan CASK (Cost per Available Seat Kilometre) sebesar 1,4% dibandingkan tahun 2024.
Adapun, di tahun 2025, Indonesia AirAsia juga memperluas jaringan penerbangan melalui pembukaan sejumlah rute strategis baik internasional maupun domestik. Untuk rute internasional, maskapai membuka penerbangan Bali – Darwin, Bali – Adelaide, serta Surabaya – Don Mueang International Airport (Bangkok).
Sementara itu, di pasar domestik, perusahaan membuka sejumlah rute baru yang menghubungkan Jakarta – Manado, Surabaya – Balikpapan, Balikpapan – Tarakan, serta Balikpapan – Berau. Ekspansi ini diharapkan dapat meningkatkan mobilitas masyarakat sekaligus mendukung aktivitas ekonomi di berbagai daerah.
Memasuki 2026, Indonesia AirAsia melanjutkan strategi ekspansi jaringan. Pada kuartal pertama tahun ini, maskapai membuka rute baru dari Bali menuju Melbourne, Australia, serta Da Nang, Vietnam.
“Penguatan peran Bali sebagai hub internasional diharapkan dapat mendatangkan lebih banyak wisatawan mancanegara ke Indonesia sekaligus memperluas konektivitas penerbangan menuju berbagai destinasi internasional,” tambah Sadikin.
Di dalam negeri, Indonesia AirAsia juga memperluas konektivitas penerbangan yang menghubungkan Surabaya, Makassar, Palu, Luwuk, dan Kendari pada awal 2026 dengan Makassar sebagai virtual hub untuk memperkuat jaringan penerbangan di kawasan Indonesia Timur.
Seluruh rute Indonesia AirAsia juga terhubung dengan layanan Fly-Thru milik AirAsia Group, yang memungkinkan penumpang melanjutkan perjalanan dengan lebih mudah ke lebih dari 150 destinasi dalam jaringan AirAsia di berbagai negara.
Tinggalkan Komentar
Komentar