Artikel

Pernikahan Tidak Bahagia Bisa Berkaitan dengan Risiko Stroke pada Pria

Sebuah ungkap pernikahan tidak bahagia pada pria berkaitan dengan risiko stroke dan kematian lebih tinggi.

3 hari yang lalu · 6 mnt baca
Data BPS: Gen Z Lebih Kejar Karier dan Pendidikan daripada Nikah Muda
Ilustrasi - Pernikahan. Pexels/Muhamad Faizal Awal
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Kehidupan rumah tangga ternyata tidak hanya berkaitan dengan urusan emosional, komunikasi, atau keharmonisan pasangan. Sebuah studi yang terbit dalam Journal of Clinical Medicine pada 2021 menunjukkan bahwa ketidakpuasan dalam pernikahan pada pria berkaitan dengan peningkatan risiko stroke dan kematian dalam jangka panjang.

Studi berjudul Dissatisfaction with Married Life in Men Is Related to Increased Stroke and All Cause Mortality ini meneliti 8.945 pegawai negeri sipil dan pegawai pemerintah kota laki-laki di Israel. Para partisipan menjalani penilaian kesehatan dan pola perilaku, lalu dipantau selama lebih dari tiga dekade.

Selama 32 tahun masa pemantauan, sebanyak 5.736 partisipan atau 64,1% meninggal dunia. Dari data tersebut, peneliti menemukan bahwa pria yang merasa tidak puas dengan kehidupan pernikahannya memiliki risiko lebih tinggi mengalami stroke dan kematian akibat berbagai penyebab.

Pernikahan yang Tidak Bahagia Bisa Berkaitan dengan Kesehatan

Temuan utama studi ini menunjukkan bahwa ketidakpuasan terhadap kehidupan pernikahan berhubungan dengan peningkatan risiko stroke jangka panjang. Pria yang tidak puas dengan pernikahannya tercatat memiliki risiko stroke hampir dua kali lebih tinggi dibandingkan kelompok dengan kepuasan pernikahan lebih baik.

Peneliti juga menemukan adanya peningkatan risiko kematian akibat semua penyebab. Istilah semua penyebab berarti kematian yang dihitung dari berbagai faktor, bukan hanya dari satu penyakit tertentu.

Dalam studi ini, risiko tersebut diukur menggunakan istilah hazard ratio (HR). Secara sederhana, HR adalah ukuran statistik untuk melihat seberapa besar risiko suatu peristiwa terjadi pada satu kelompok dibandingkan kelompok lain dalam periode tertentu. Jika HR lebih dari 1, artinya risiko pada kelompok tersebut lebih tinggi.

Pada penelitian ini, ketidakpuasan pernikahan dikaitkan dengan HR 1,94 untuk stroke dan HR 1,21 untuk kematian akibat semua penyebab. Artinya, ketidakpuasan dalam pernikahan tampak memiliki hubungan yang cukup kuat dengan risiko kesehatan jangka panjang.

Salah satu bagian menarik dari studi ini adalah perbandingan antara ketidakpuasan pernikahan dan faktor risiko kesehatan lain yang sudah lebih dikenal publik.

Peneliti menemukan bahwa hubungan antara ketidakpuasan pernikahan dan risiko kematian memiliki besaran yang mirip dengan faktor risiko seperti merokok dan kurang aktivitas fisik. Dalam studi ini, orang dengan riwayat merokok memiliki HR 1,37 dibandingkan mereka yang tidak pernah merokok. Sementara itu, orang yang tidak aktif secara fisik memiliki HR 1,21 dibandingkan mereka yang aktif secara fisik.

Dengan kata lain, studi ini tidak mengatakan bahwa pernikahan tidak bahagia pasti menyebabkan kematian. Namun, hasilnya menunjukkan bahwa kepuasan pernikahan layak dipandang sebagai faktor penting dalam kesehatan jangka panjang, sama seperti kebiasaan merokok, olahraga, tekanan darah, atau kondisi sosial ekonomi.

Peneliti juga mencoba melihat apakah hubungan antara kepuasan pernikahan dan kematian hanya muncul karena faktor lain, misalnya penyakit jantung, diabetes, tekanan darah, kebiasaan merokok, aktivitas fisik, status sosial ekonomi, atau masalah keluarga.

Hasilnya, hubungan tersebut tetap terlihat meski faktor-faktor tersebut sudah diperhitungkan dalam analisis. Ini membuat peneliti menilai bahwa ketidakpuasan pernikahan dapat menjadi indikator penting dalam melihat risiko kesehatan seseorang.

Namun, penting untuk dipahami bahwa studi ini bersifat observasional. Artinya, penelitian ini melihat hubungan antara dua hal, bukan membuktikan sebab akibat secara langsung. Jadi, hasilnya bukan berarti setiap pria yang tidak bahagia dalam pernikahan pasti akan mengalami stroke atau meninggal lebih cepat.

Stres, Perilaku Kesehatan, dan Dukungan Sosial Bisa Berperan

Peneliti menduga ada beberapa jalur yang mungkin menjelaskan hubungan antara ketidakpuasan pernikahan dan risiko kesehatan.

Salah satunya adalah perilaku kesehatan. Orang yang mengalami tekanan dalam pernikahan mungkin lebih rentan memiliki kebiasaan tidak sehat, seperti merokok, kurang bergerak, makan tidak teratur, atau mengabaikan pemeriksaan kesehatan.

Faktor psikologis juga dapat berperan. Ketidakpuasan pernikahan bisa berkaitan dengan depresi, stres, kecemasan, atau rendahnya dukungan sosial. Dalam jangka panjang, tekanan psikologis semacam ini dapat memengaruhi kondisi tubuh, termasuk tekanan darah dan kesehatan jantung.

Selain itu, hubungan yang tidak memuaskan dapat membuat seseorang merasa tidak memiliki tempat aman untuk berbagi beban. Padahal, dukungan emosional dari pasangan sering menjadi salah satu faktor yang membantu seseorang menghadapi masalah hidup.

Studi ini juga menemukan bahwa kepuasan pernikahan yang rendah pada partisipan berusia di bawah 50 tahun tampak lebih erat berkaitan dengan peningkatan risiko stroke dibandingkan pada partisipan yang lebih tua.

Peneliti mengaitkan hal ini dengan temuan lain yang menunjukkan bahwa perceraian lebih banyak terjadi pada pasangan yang lebih muda. Selain itu, putusnya pernikahan juga pernah dikaitkan dengan risiko kematian dini dalam sejumlah penelitian sebelumnya.

Ada kemungkinan bahwa pada usia lebih muda, konflik pernikahan, tekanan keluarga, dan ketidakpuasan emosional terasa lebih kuat karena pasangan masih berada dalam fase membangun karier, ekonomi, pengasuhan anak, dan penyesuaian hidup bersama.

Edukasi Pernikahan Bisa Jadi Bagian dari Promosi Kesehatan

Peneliti menyebut kepuasan pernikahan sebagai kondisi yang diinginkan, tetapi tidak selalu mudah dicapai. Karena itu, mereka menilai edukasi bagi pasangan muda dapat menjadi salah satu cara untuk memperkuat ketahanan keluarga.

Edukasi tersebut dapat mencakup keterampilan komunikasi, teknik psikologi positif, hingga strategi pengasuhan. Psikologi positif adalah pendekatan yang berfokus pada pengembangan kekuatan, emosi sehat, hubungan yang baik, dan cara membangun kehidupan yang lebih bermakna.

Menurut peneliti, program semacam ini berpotensi dimasukkan ke dalam strategi promosi kesehatan masyarakat. Jadi, kesehatan tidak hanya dilihat dari pola makan, olahraga, atau berhenti merokok, tetapi juga dari kualitas hubungan yang dijalani seseorang.

Masalah Keluarga dan Kepuasan Pernikahan Berkaitan Erat

Studi ini juga menemukan kaitan kuat antara masalah keluarga dan tingkat kepuasan pernikahan. Pada kelompok dengan kepuasan pernikahan tertinggi, hanya 1,3% yang melaporkan masalah keluarga serius atau sangat serius.

Sebaliknya, pada kelompok dengan kepuasan pernikahan terendah, angka tersebut mencapai 30,4%. Ini menunjukkan bahwa ketidakpuasan dalam pernikahan sering hadir bersama masalah keluarga yang lebih luas.

Meski begitu, dalam analisis lanjutan, hubungan antara kepuasan pernikahan dan risiko stroke atau kematian tetap terlihat secara independen dari variabel masalah keluarga. Karena itu, peneliti menilai penilaian sederhana tentang kepuasan seseorang terhadap pernikahannya bisa menjadi informasi penting dalam survei kesehatan nasional.

Tidak Bisa Langsung Digeneralisasi ke Semua Orang

Meski hasilnya menarik, studi ini memiliki sejumlah keterbatasan. Pertama, kepuasan pernikahan hanya diukur satu kali pada awal penelitian. Karena itu, peneliti tidak dapat melihat perubahan kepuasan pernikahan dari waktu ke waktu, termasuk jika partisipan kemudian berpisah atau bercerai.

Kedua, penelitian ini hanya melibatkan laki-laki. Artinya, hasilnya belum bisa langsung digunakan untuk menjelaskan hubungan antara kepuasan pernikahan dan risiko kematian pada perempuan.

Ketiga, meskipun peneliti menilai masalah keluarga, studi ini tidak memasukkan semua faktor psikososial lain yang mungkin berpengaruh, seperti depresi, kecemasan, dukungan sosial, stres yang dirasakan, atau penggunaan alkohol dan obat-obatan.

Dengan keterbatasan tersebut, hasil studi ini tetap perlu dibaca secara hati-hati. Namun, temuan utamanya memberi pesan penting bahwa hubungan pernikahan bukan sekadar urusan pribadi, melainkan dapat berkaitan dengan kesehatan jangka panjang.

Pada akhirnya, studi ini menunjukkan bahwa kepuasan pernikahan dapat menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan dalam strategi kesehatan masyarakat. Pernikahan yang tidak bahagia tidak otomatis membuat seseorang sakit, tetapi ketidakpuasan yang berlangsung lama bisa menjadi sinyal adanya tekanan hidup yang layak diperhatikan.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai pernikahan dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.