Bisnis

WIKA Pangkas Utang Rp2,15 Triliun, Margin Naik ke 14,1%

WIKA berhasil menekan utang Rp2,15 triliun dalam setahun terakhir lewat transformasi penyehatan, sekaligus mencatat kenaikan margin keuntungan operasional.

1 jam yang lalu · 2 mnt baca
Wijaya Karya (WIKA)
Ilustrasi - Karyawan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA). dok.WIKA
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) berhasil memangkas total utang sebesar Rp2,15 triliun sepanjang kuartal II 2025 hingga kuartal II 2026. Di saat bersamaan, margin keuntungan kotor perusahaan konstruksi pelat merah ini naik signifikan menjadi 14,1%.

Corporate Secretary WIKA Ngatemin menyebut capaian tersebut sebagai buah dari transformasi penyehatan yang dijalankan perusahaan secara konsisten sejak 2023. Menurutnya, penurunan utang kepada kreditur dan mitra kerja, pemilihan proyek secara selektif, hingga percepatan penagihan piutang jadi kunci utama perbaikan kinerja keuangan Perseroan.

"Penerapan langkah transformasi ini menjadi bagian penting dari penyehatan yang dilakukan WIKA. Penurunan utang mitra kerja dan kreditur, pengelolaan kas secara tepat, peningkatan tata kelola, penurunan opex dan penerapan lean construction menjadi prioritas utama Perseroan dalam memastikan keberlanjutan bisnis yang sehat dan kuat," kata Ngatemin dalam keterangan tertulis, Sabtu (29/8).

Milestone utama dari transformasi ini adalah restrukturisasi keuangan tahap I yang dilakukan pada 28 Februari 2024. Berdasarkan laporan keuangan Perseroan hingga 30 Juni 2026, WIKA telah membayar kewajiban kepada kreditur perbankan dan surat utang sebesar Rp4,17 triliun sejak restrukturisasi tersebut berjalan.

Dari jumlah itu, pembayaran sebesar Rp915,83 miliar direalisasikan khusus dalam periode kuartal II 2025 hingga kuartal II 2026.

Selain kewajiban ke kreditur, WIKA juga menurunkan utang kepada mitra kerja hingga Rp5,02 triliun sejak restrukturisasi tahap I digulirkan. Penurunan sebesar Rp1,23 triliun tercatat khusus pada periode kuartal II 2025 hingga kuartal II 2026, sehingga posisi utang kepada mitra kerja kini tersisa Rp4,32 triliun.

Di sisi operasional, Gross Profit Margin (GPM) Perseroan pada kuartal II 2026 melonjak ke 14,1%, dari sebelumnya hanya 8,1% pada periode yang sama tahun lalu. Kenaikan margin ini ditopang oleh kinerja lini bisnis infrastruktur dan bangunan gedung, serta segmen EPCC.

Perbaikan margin tersebut turut mendorong EBITDA operasi Perseroan tercatat positif sebesar Rp769,01 miliar. Pengelolaan kas yang disiplin dan mandiri disebut jadi faktor penting di balik kemampuan WIKA menekan pokok utang secara konsisten, dengan sumber pembayaran berasal dari arus kas operasi perusahaan sendiri.

Likuiditas Perseroan juga terbantu oleh pemilihan proyek secara selektif berbasis pembayaran bulanan atau monthly progress, yang kini mencakup 96% dari total kontrak berjalan. Upaya percepatan penagihan piutang turut membuahkan hasil, dengan total piutang berhasil ditekan sebesar Rp2,07 triliun sepanjang kuartal II 2025 hingga kuartal II 2026.

"Perseroan memberikan apresiasi atas dukungan yang telah dan akan diberikan sehingga langkah penyehatan ini dapat berjalan baik. Transformasi penyehatan ini adalah upaya berkelanjutan yang secara konsisten akan dijalankan Perseroan untuk memberikan nilai tambah kepada seluruh stakeholders," pungkas Ngatemin.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.