periskop.id - Harga emas jatuh lebih dari 5% pada Senin (23/3), mencapai level terendah tahun ini setelah mencatat minggu terburuk dalam sekitar 43 tahun, karena konflik di Timur Tengah yang semakin memanas memicu kekhawatiran inflasi dan meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga global.
Melansir Reuters, harga emas spot turun 5,8% menjadi $4.226,16 per ons pada pukul 06.33 GMT, level terendah sejak 11 Desember, dan memperpanjang tren penurunan menjadi sembilan hari berturut-turut.
Minggu lalu, harga emas turun lebih dari 10%, minggu terburuk sejak Februari 1983, dan kini telah merosot lebih dari 20% dari rekor tertingginya $5.594,82 per ons yang dicapai pada 29 Januari. Kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman April turun 7,5% menjadi $4.231,80 per ons.
“Dengan konflik Iran memasuki minggu keempat, dan harga minyak berada di sekitar $100 per barel, ekspektasi pasar bergeser dari pemangkasan suku bunga ke kemungkinan kenaikan suku bunga, sehingga mengurangi daya tarik emas dari sisi imbal hasil,” kata Tim Waterer, kepala analis pasar KCM Trade.
Iran menyatakan pada Minggu (22/3) bahwa mereka akan menyerang sistem energi dan air negara tetangga di Teluk Persia sebagai balasan jika Presiden AS Donald Trump mengeksekusi ancamannya untuk menarget jaringan listrik Iran dalam 48 jam. Saham-saham Asia turun, dan harga minyak tetap di atas $110 per barel.
“Likuiditas tinggi emas justru merugikannya selama periode risiko ini. Penurunan pasar saham memaksa sebagian posisi emas ditutup untuk menutupi margin call aset lainnya,” tambah Waterer.
Penutupan Selat Hormuz membuat harga minyak tetap tinggi, memicu kekhawatiran inflasi karena mendorong biaya transportasi dan produksi. Meskipun inflasi yang meningkat biasanya membuat emas lebih menarik sebagai lindung nilai, suku bunga tinggi justru menekan permintaan aset yang tidak memberikan imbal hasil.
“Pergeseran dari alokasi safe-haven ke posisi berbasis makro dapat memperbesar risiko penurunan, karena dolar AS yang kuat dan menurunnya kemungkinan The Fed menurunkan suku bunga mendominasi narasi pasar,” ujar BMI, unit dari Fitch Solutions.
Pasar kini menilai kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed lebih besar daripada pemangkasan tahun ini, menurut alat FedWatch CME.
Sementara, logam mulia lainnya juga mengalami penurunan tajam. Perak spot turun 8,9% menjadi $61,76 per ons, platinum spot merosot 9% menjadi $1.749,31, dan palladium turun 5,2% menjadi $1.330,50.
Tinggalkan Komentar
Komentar