periskop.id - Harga emas batangan PT Aneka Tambang (Antam) diperkirakan bergerak fluktuatif sepanjang pekan 25–29 Mei 2026, seiring proyeksi pergerakan emas dunia yang masih berada dalam rentang lebar di tengah ketidakpastian global.
Analis pasar Ibrahim Assuaibi menyampaikan, harga emas dunia dan logam mulia saat ini berada dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan volatil, dipengaruhi oleh dinamika geopolitik, kebijakan bank sentral Amerika Serikat, serta faktor permintaan global.
“Untuk emas dunia, kemarin ditutup di US$4.506 per troy-on, kemudian logam mulianya di Rp2.773.000 per gram,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Senin (25/5).
Dalam skenario pelemahan, Ibrahim memperkirakan harga emas dunia dapat turun menuju level support terdekat di US$4.414 per troy ounce. Jika itu terjadi, harga emas Antam berpotensi terkoreksi.
“Kalau seandainya besok melemah, ya supportnya ini di US$4.414, kemungkinan turunnya Rp20.000, jadi Rp2.753.000,” jelasnya.
Penurunan lebih dalam juga masih terbuka apabila tekanan berlanjut, dengan level support berikutnya di US$4.333 per troy ounce. Pada skenario ini, harga emas Antam diperkirakan dapat turun hingga kisaran Rp2.650.000 per gram.
“Kemudian kalau seandainya turun, ini di US$4.333 per troy-on, logam mulianya di Rp2.650.000 per gram,” tambah Ibrahim.
Namun demikian, peluang penguatan juga tetap terbuka. Jika emas dunia rebound, harga logam mulia domestik berpotensi kembali naik, bahkan menguji level tertinggi di kisaran Rp2,9 juta per gram seiring uji resistance kuat di US$4.943 per troy ounce.
“Kemudian resisten kedua itu di US$4.943 per troy-on, kemudian rupiahnya di Rp2.900.000 per gram,” kata Ibrahim.
Secara keseluruhan, Ibrahim memproyeksikan rentang pergerakan emas dunia dalam sepekan berada di kisaran US$4.333 hingga US$4.943 per troy ounce, dengan harga logam mulia domestik di rentang Rp2.650.000 hingga Rp2.900.000 per gram.
“Supportnya dalam sepekan ke depan di US$4.333, resistennya adalah US$4.943, kemudian logam mulia supportnya Rp2.650.000, resistennya adalah Rp2.900.000 per gram,” ujarnya.
Dari sisi fundamental, ia menilai ketegangan geopolitik masih menjadi pendorong utama volatilitas harga emas. Konflik yang memanas di Eropa Timur antara Rusia dan Ukraina, serta eskalasi di Timur Tengah, meningkatkan permintaan aset safe haven.
Selain itu, arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat juga turut memengaruhi pergerakan emas. Meski terdapat harapan pelonggaran kebijakan moneter, pasar masih menunggu kepastian arah suku bunga ke depan.
Di sisi lain, faktor permintaan dari bank sentral global turut menopang harga. Ibrahim menyebut, penurunan harga justru dimanfaatkan sebagai momentum akumulasi.
“Pada saat harga emas dunia terus mengalami penurunan, logam mulia juga turun. Ini membuat bank sentral global kembali mencari alternatif lindung nilai, yaitu logam mulia,” katanya.
Dengan kombinasi sentimen tersebut, harga emas Antam diperkirakan akan bergerak dinamis dalam jangka pendek, dengan potensi kenaikan tetap terbuka selama ketidakpastian global belum mereda.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar