Lukisan dari Limbah Plastik Teguh Djoko Dwiyono Bernilai Puluhan Juta
1/9Lukisan dari Limbah Plastik Teguh Djoko Dwiyono Bernilai Puluhan Juta
Seniman Teguh Djoko Dwiyono mengolah limbah kantong plastik menjadi karya lukisan abstrak di Rawamangun, Jakarta, Jumat (14/8/2026). Karya tersebut dibuat dengan teknik plastic waste melt, yakni memanfaatkan potongan plastik yang dipanaskan hingga meleleh kemudian ditempelkan pada permukaan kanvas. Berbeda dari lukisan pada umumnya, karya Teguh tidak menggunakan cat sehingga warna yang muncul berasal dari warna alami kantong plastik.
Teguh yang kini berusia 71 tahun memanfaatkan limbah plastik dari rumahnya dan warga sekitar sebagai bahan berkarya. Potongan plastik terlebih dahulu dipilah sebelum diolah menjadi komposisi pada kanvas. Proses pemanasan menghasilkan gradasi warna sekaligus tekstur yang menjadi karakter pada setiap karya. Secara visual, susunan material yang ditempel dan dilelehkan tersebut membuat permukaan lukisan tampak bertekstur, menyerupai sapuan palet pada lukisan konvensional.
Ketertarikan Teguh terhadap pemanfaatan material bekas berangkat dari pengalaman dan memori masa kecil, sekaligus keprihatinannya terhadap penggunaan plastik yang masih tinggi dan sifatnya yang sulit terurai. Selain limbah kantong plastik, ia juga mengolah cangkang telur bekas menjadi karya seni lainnya. Teguh juga membuka lokakarya bagi masyarakat untuk mempelajari teknik pengolahan limbah plastik tersebut, yang dapat dipelajari dalam waktu sekitar dua jam.
Karya lukisan berbahan limbah plastik tersebut memiliki nilai jual hingga puluhan juta rupiah, tergantung karya yang dihasilkan. Karya Teguh juga telah diminati pembeli dari sejumlah negara, di antaranya Jerman, Pakistan, dan India. Pemanfaatan material yang sebelumnya dianggap sebagai sampah tersebut sekaligus menjadikan limbah plastik memiliki nilai ekonomi melalui karya seni.
Melalui karya-karyanya, Teguh berupaya menunjukkan bahwa limbah plastik dapat diolah menjadi material seni yang memiliki nilai estetika dan ekonomi. Ia berharap pendekatan tersebut dapat mendorong masyarakat mengenali persoalan sampah plastik sejak usia dini sekaligus melihat peluang untuk mengubah material yang terbuang menjadi karya bernilai.