September dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Lain, Ini Penulisannya
Bulan kesembilan tetap ditulis September dalam bahasa Indonesia, tanpa padanan asli. Simak penulisannya di berbagai bahasa dan ejaan yang sering keliru.

Dalam bahasa Indonesia, bulan kesembilan tetap ditulis September. Tidak ada padanan asli yang menggantikannya, berbeda dengan sebagian bahasa lain yang punya nama sendiri untuk bulan ini.
Ejaan bakunya satu kata dengan huruf S kapital, dan kapital itu dipertahankan di posisi mana pun dalam kalimat.
September dalam Bahasa Indonesia Ditulis September
Kamus Besar Bahasa Indonesia mencatatnya sebagai kata benda dengan arti bulan ke-9 tahun Masehi yang berisi 30 hari.
Aturan ejaan menempatkan huruf kapital pada huruf pertama nama bulan, sejajar dengan nama hari dan nama tahun. Karena itu penulisannya September, bukan september.
Kata bulan di depannya tetap huruf kecil. Bentuk yang benar adalah bulan September, bukan Bulan September.
Tidak ada entri padanan Melayu atau Indonesia asli untuk bulan Masehi kesembilan. Yang tersedia hanyalah deskripsi, yaitu bulan kesembilan.
September dalam Berbagai Bahasa
| Bahasa | Penulisan | Catatan |
|---|---|---|
| Indonesia | September | Huruf S kapital |
| Melayu | September | Sama persis |
| Inggris | September | Huruf S kapital |
| Belanda | september | Huruf kecil dalam ejaan Belanda |
| Jerman | September | Semua kata benda dikapitalkan |
| Prancis | septembre | Huruf kecil |
| Spanyol | septiembre | Huruf kecil |
| Arab Mesir dan Teluk | سبتمبر | Serapan dari nama Latin |
| Arab Levant dan Irak | أيلول | Warisan kalender Babilonia |
| Mandarin | 九月 | Harfiah bulan ke-9 |
| Jepang | 九月 | Dibaca kugatsu, nama klasiknya nagatsuki |
| Korea | 구월 | Harfiah bulan ke-9 |
Dua bentuk Arab di atas menunjuk bulan Masehi yang sama, hanya berbeda wilayah pemakaian. Keduanya bukan nama bulan Hijriah.
Mandarin, Jepang, dan Korea tidak menerjemahkan melainkan menomori. Nama bulannya secara harfiah berarti bulan sembilan.
Ejaan dan Singkatan yang Sering Keliru
Tiga bentuk berikut kerap muncul dan ketiganya salah dalam bahasa Indonesia.
| Bentuk | Status | Asal kekeliruan |
|---|---|---|
| September | Baku | Bentuk yang benar |
| Septembre | Salah | Ini bentuk Prancis, biasanya terbawa dari templat atau salin tempel |
| Sepetember | Salah | Salah ketik, penyisipan vokal |
| Sebtember | Salah | Alih aksara balik dari tulisan Arab |
Polanya mirip dengan November yang sering ditulis Nopember. Bentuk bakunya November, meski ejaan lama masih bertahan pada beberapa nama lembaga.
Untuk singkatan, konvensi yang dipakai sistem operasi dan aplikasi berbahasa Indonesia adalah tiga huruf, yaitu Sep. Bentuk Sept berasal dari kebiasaan bahasa Inggris dan Prancis. Kata yang sama juga muncul dalam istilah media sosial September dump, meski di sana konteksnya bukan penanggalan.
Perlu dicatat, singkatan nama bulan tidak diatur secara khusus dalam pedoman ejaan resmi. Sep dipakai karena konsisten dengan singkatan sebelas bulan lainnya, bukan karena dibakukan.
Kenapa Bahasa Indonesia Tidak Menerjemahkannya
Nama bulan Masehi dalam bahasa Indonesia masuk lewat bahasa Belanda, bukan bahasa Inggris. Buktinya ada pada tiga nama yang membedakan keduanya.
Indonesia memakai Mei, bukan May. Agustus, bukan August. Oktober dengan huruf k, bukan October. Ketiganya mengikuti bentuk Belanda.
Kalender Masehi masuk ke Nusantara sebagai perangkat administrasi, sementara masyarakat setempat sudah punya kalender sendiri. Nama bulannya lalu diserap utuh sebagai istilah teknis, tanpa dicarikan padanan.
Nama Latinnya sendiri sebenarnya sudah kehilangan makna, karena berarti bulan ketujuh padahal posisinya kesembilan. Duduk perkaranya dibahas terpisah di ulasan September bulan ke berapa.
Bulan Kesembilan Hijriah dan Jawa Bukan September
Pertanyaan soal terjemahan sering tersesat ke sini. Bulan kesembilan kalender Hijriah adalah Ramadan, dan bulan kesembilan kalender Jawa adalah Pasa atau Siyam, yang memang sepadan dengan Ramadan.
Keduanya bukan terjemahan September. Kalender Masehi berbasis peredaran matahari, sementara Hijriah dan Jawa berbasis peredaran bulan.
Selisihnya sekitar 11 hari setiap tahun, sehingga Ramadan bergeser makin awal terhadap kalender Masehi dan baru kembali ke posisi semula setelah kira-kira 33 tahun. Karena itu Ramadan tidak pernah tetap berada di September.
Jumlah harinya pun berbeda. September selalu berisi 30 hari, sedangkan bulan kamariah bisa 29 atau 30 hari bergantung pengamatan.
Komentar (0)
Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.
Belum ada komentar.