Periskop.id - Institute for Development of Economics and Finance (Indef) mendukung rencana pemerintah untuk mengekspor beras ke Singapura. Langkah ini dinilai berpotensi besar menyerap kelebihan produksi pangan di dalam negeri.

Direktur Eksekutif Indef, Esther Sri Astuti menyatakan, kolaborasi perdagangan ini sangat strategis bagi kedua negara. Hubungan kerja sama tersebut memperkuat ketahanan pasokan sekaligus memanfaatkan optimalisasi hasil panen nasional.

"Prospek kerja sama pangan Indonesia dan Singapura sangat strategis dan menjanjikan. Bagi Indonesia, ini menjadi solusi tepat untuk menyerap surplus produksi domestik," kata Esther dikutip dari Antara, Kamis (3/7).

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Esther sebagai respons atas langkah Menteri Pertanian yang menawarkan komoditas beras kepada pihak Singapura. Kemitraan komersial ini diharapkan mampu memberikan dampak positif bagi stabilitas ekonomi kawasan.

Menurut Esther, kolaborasi ini membawa keuntungan tersendiri bagi negara tetangga tersebut. Kerja sama ini disebut efektif memperkuat diversifikasi rantai pasok demi memenuhi kebutuhan impor pangan mereka.

Meskipun berpeluang besar, Indonesia diingatkan untuk menyiapkan strategi perdagangan internasional secara matang. Esther menekankan pentingnya kalkulasi matang terkait kompetisi harga global, banjir pasokan di pasar dunia, serta standar mutu komoditas yang ketat.

Ia memaparkan bahwa mayoritas cadangan pangan nasional saat ini masih didominasi oleh kelas medium. Sementara itu, target pasar internasional umumnya menuntut pasokan kualitas premium sehingga peningkatan mutu produk bersifat wajib.

Keberhasilan swasembada saat ini dinilai Esther sebagai sebuah pencapaian yang sangat positif bagi Indonesia. Kendati demikian, fokus swasembada disarankan tidak hanya berhenti pada komoditas utama tersebut.

Kemandirian pangan dinilai perlu diperluas ke sektor lain seperti jagung pakan, kedelai, hingga daging sapi. Esther menambahkan bahwa harga di tingkat konsumen domestik saat ini masih menghadapi tantangan nyata akibat rantai logistik dan cuaca ekstrem.

Swasembada yang berjalan sekarang dijelaskan olehnya baru mencakup varietas konsumsi masyarakat umum. Untuk varietas khusus seperti Japonica dan Basmati, pemenuhannya dinilai masih bergantung pada keran impor untuk kebutuhan industri.

Rencana ekspor ini dipandang memiliki masa depan cerah asalkan volume pemenuhan kebutuhan dalam negeri tetap aman. Peningkatan kualitas dan keberlanjutan pasokan pangan domestik wajib menjadi prioritas utama pemerintah.

Sebelumnya, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menawarkan penjualan 10 ribu ton beras ke Singapura. Langkah strategis ini diambil setelah stok cadangan beras pemerintah di Perum Bulog menembus angka 5,1 juta ton.

Rencana pengiriman komoditas ini dibahas langsung dalam pertemuan bilateral bersama Menteri Keberlanjutan dan Lingkungan Singapura, Grace Fu. Agenda resmi tersebut berlangsung di Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Jakarta, Senin (29/6).