Periskop.id – PT Freeport Indonesia menargetkan produksi emas mencapai 1,4 juta ons atau sekitar 43 ton pada 2028, bersamaan dengan produksi tembaga sebesar 1,6 miliar pon. Target itu bergantung pada keberhasilan pemulihan tambang bawah tanah Grasberg Block Cave setelah insiden longsor pada September 2025.
Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Tony Wenas mengatakan kapasitas produksi akan dinaikkan secara bertahap hingga kembali ke tingkat normal. “Tahun 2028 terjadi peningkatan juga, jadi 1,6 miliar pon tembaga dan 1,4 juta ons emas atau 43 ton emas,” ujar Tony dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XII DPR RI di Jakarta, Selasa (14/7/2026).
Produksi bijih pada 2028 direncanakan mencapai rata-rata 208 ribu ton per hari, naik dari target 170 ribu ton per hari pada 2027. Pada 2029, volume penambangan diproyeksikan bertambah menjadi 226 ribu ton bijih per hari.
“Tahun 2029 (penambangan bijih) sudah mencapai 226 ribu ton per hari. Itu adalah tahap level normal atau 100 persen dari produksi kami,” ucap Tony.
Produksi 2026 Masih Tertekan
Target 2028 disusun setelah produksi Freeport terpukul oleh longsoran material basah di tambang GBC, Mimika, Papua Tengah, pada 8 September 2025. Insiden tersebut sempat menghentikan kegiatan tambang bawah tanah dan mengganggu pasokan konsentrat ke fasilitas pengolahan.
Pada semester I 2026, kapasitas produksi GBC baru berada di kisaran 50% dari kondisi normal. Freeport memperkirakan kapasitas itu meningkat menjadi 65% pada semester II 2026, kemudian sekitar 75% pada semester I 2027, sebelum pulih penuh pada awal 2028.
Akibat proses pemulihan tersebut, rencana penambangan bijih tahun ini hanya sekitar 124 ribu ton per hari, lebih rendah dibandingkan realisasi 2025 yang mencapai 139 ribu ton per hari.
Data Freeport-McMoRan memperlihatkan besarnya dampak insiden terhadap produksi. Produksi emas Freeport Indonesia turun dari 1,861 juta ons pada 2024 menjadi 937 ribu ons pada 2025. Produksi tembaga juga merosot dari 1,8 miliar pon menjadi sekitar 1,015 miliar pon dalam periode yang sama.
Pada tingkat operasi normal, tambang bawah tanah Freeport sebelumnya diperkirakan dapat menghasilkan sekitar 1,7 miliar pon tembaga dan 1,3 juta ons emas per tahun. Dengan demikian, target 2028 menandai kembalinya produksi ke kisaran normal, meski tetap bergantung pada keselamatan dan kelancaran pemulihan tambang.
Keselamatan Menjadi Syarat Pemulihan
Freeport menyatakan pemulihan tidak hanya berorientasi pada peningkatan volume produksi. Perusahaan juga harus memperbaiki infrastruktur, membersihkan material longsoran, dan memasang sistem pengaman sebelum area terdampak kembali digunakan.
Tony sebelumnya menegaskan perusahaan tidak akan mengorbankan aspek keselamatan untuk mengejar target produksi.
“Kami berkomitmen untuk menghadirkan safe, secured, and sustainable production, sehingga manfaat sebesar-besarnya dapat terus dirasakan oleh bangsa dan negara, serta masyarakat di sekitar wilayah operasi. Kami akan terus tumbuh dan berkembang bersama masyarakat hingga selesainya operasi penambangan,” kata Tony.
Insiden GBC menyebabkan tujuh pekerja meninggal dunia setelah operasi pencarian dan evakuasi berlangsung selama 27 hari. Seluruh jenazah berhasil ditemukan pada awal Oktober 2025.
Karena itu, proyeksi produksi hingga 2028 tetap merupakan target yang dapat berubah apabila evaluasi teknis dan keselamatan membutuhkan penyesuaian.
Penerimaan Negara Diproyeksikan Kembali Naik
Pemulihan tambang diperkirakan berdampak langsung terhadap penerimaan negara dari pajak, royalti, dividen, dan penerimaan lainnya.
Freeport memperkirakan kontribusi kepada negara turun dari sekitar US$4,3 miliar pada 2025 menjadi US$2,6 miliar pada 2026 akibat penurunan produksi. Nilainya diproyeksikan kembali meningkat menjadi sekitar US$4,7 miliar pada 2027.
Ketika produksi kembali penuh pada 2028, setoran kepada negara diperkirakan melonjak jauh lebih tinggi. “Masuk ke kapasitas produksi penuh (pada 2028), penerimaan negara akan bisa melebihi US$7 miliar per tahun. Kalau dirupiahkan, itu kira-kira sekitar Rp120 triliun per tahun,” kata Tony.
Namun, besarnya penerimaan tetap dipengaruhi harga emas dan tembaga, volume penjualan, biaya produksi, serta kebijakan fiskal dan dividen.
Smelter Manyar Menunggu Pasokan Konsentrat
Penurunan produksi GBC turut memengaruhi pengoperasian smelter Freeport di Manyar, Gresik, Jawa Timur. Fasilitas tersebut belum memperoleh pasokan konsentrat dalam jumlah memadai karena produksi tambang diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan PT Smelting.
Freeport menargetkan Smelter Manyar mulai kembali menerima pasokan konsentrat secara bertahap pada semester II 2026. Pada tahap awal, fasilitas itu diperkirakan mengolah sekitar 15 persen tambahan konsentrat dari tambang GBC.
Pemulihan pasokan penting agar hilirisasi tembaga kembali berjalan dan konsentrat dapat diolah menjadi katoda tembaga serta produk sampingan, termasuk emas dan perak.
Tambang Kucing Liar Mulai Berproduksi 2029
Selain memulihkan GBC, Freeport sedang mengembangkan tambang bawah tanah Kucing Liar sebagai sumber produksi berikutnya. Operasinya semula ditargetkan dimulai pada 2028, tetapi bergeser menjadi 2029 akibat dampak insiden GBC.
Tambang tersebut diperkirakan menghasilkan lebih dari tujuh miliar pon tembaga dan enam juta ons emas sepanjang 2029–2041. Dalam kondisi operasi penuh, produksinya dapat mencapai sekitar 560 juta pon tembaga dan 520 ribu ons emas per tahun.
“Sehingga kestabilan atau kelangsungan dari penambangan akan bisa dilanjutkan,” ujar Tony.
Kehadiran Kucing Liar akan menjadi penting untuk menjaga produksi setelah 2028 sekaligus memperpanjang manfaat ekonomi kawasan tambang Grasberg.
Target produksi 43 ton emas pada 2028 dengan demikian bukan hanya persoalan menaikkan volume. Pencapaiannya akan ditentukan oleh pemulihan GBC yang aman, ketersediaan pasokan bagi smelter, serta kesiapan tambang baru untuk menopang produksi dalam jangka panjang.
Tinggalkan Komentar
Komentar