Periskop.id - Bank Sentral Jepang (BOJ) mempertahankan suku bunga jangka pendek tetap stabil di level 1% pada Jumat (31/7). Keputusan ini diambil di tengah tekanan pemerintah Jepang agar bank sentral menunjukkan sikap hawkish usai yen sempat anjlok ke level terendah dalam empat dekade.

Sehari sebelum pertemuan kebijakan berakhir, pemerintah Jepang melakukan intervensi dengan membeli yen dan menjual dolar di pasar New York. Langkah tersebut berhasil mengangkat kembali nilai tukar yen yang sempat tertekan, menurut sumber pasar yang dikutip Reuters.

"Meskipun perkiraan inflasi mungkin direvisi lebih rendah, pertumbuhan yang lebih kuat akan memperkuat kepercayaan bahwa ekonomi dapat menahan normalisasi kebijakan lebih lanjut," kata Kei Fujimoto, ekonom senior di SuMi Trust, dikutip dari Reuters, Jumat (31/7).

Keputusan mempertahankan bunga ini menyusul kenaikan suku bunga yang baru saja dilakukan BOJ pada Juni lalu. Anggota dewan yang dikenal hawkish, Hajime Takata, diperkirakan bakal berbeda pendapat dan mengusulkan kenaikan ke 1,25%, menurut sejumlah analis.

Pertemuan BOJ kali ini berlangsung tak lama setelah Federal Reserve AS menggelar rapat kebijakan pada Rabu. Bank sentral AS itu juga mempertahankan suku bunganya, meski tiga anggota dewan berbeda pendapat dan menyerukan kenaikan seperempat poin persentase.

Pasar kini mengalihkan perhatian ke laporan prospek triwulanan BOJ serta konferensi pers Gubernur Kazuo Ueda pascapertemuan. Publik mencari petunjuk soal kecepatan kenaikan biaya pinjaman yang masih tergolong rendah tersebut.

Dewan BOJ diperkirakan merevisi naik proyeksi pertumbuhan untuk tahun fiskal 2026, seiring berkurangnya kekhawatiran atas dampak konflik Timur Tengah. Sumber yang mengetahui pembahasan internal menyebutkan hal itu kepada Reuters.

Di sisi lain, perkiraan inflasi imbas biaya minyak kemungkinan dipangkas dari level yang tercatat pada April. Meski begitu, gejolak pasar minyak dan naiknya biaya impor akibat yen yang lemah membuat penurunan proyeksi tersebut diperkirakan tidak terlalu besar.

Fujimoto menambahkan, skenario dasarnya tetap memperkirakan BOJ menaikkan suku bunga kira-kira setiap enam bulan sekali. Namun, ia menilai laju pengetatan yang lebih cepat tidak bisa dikesampingkan mengingat perbaikan pertumbuhan yang berbarengan dengan percepatan inflasi harga impor.

"Skenario dasar saya tetap bahwa BOJ menaikkan suku bunga kira-kira setiap enam bulan sekali. Namun, mengingat latar belakang pertumbuhan yang membaik, bersamaan dengan percepatan inflasi harga impor, kemungkinan laju pengetatan yang lebih cepat tidak dapat dikesampingkan," katanya.

BOJ sebelumnya menaikkan suku bunga ke level tertinggi dalam 31 tahun pada Juni, sekaligus memberi sinyal kesiapan melakukan pengetatan lanjutan untuk meredam tekanan harga akibat guncangan energi. Mayoritas analis yang disurvei Reuters memperkirakan BOJ bakal kembali menaikkan suku bunga menjadi 1,25% pada akhir tahun.

Laju kenaikan suku bunga yang lambat disebut menjadi penyebab pelemahan yen hingga menyentuh level terendah dalam 40 tahun. Kondisi itu turut mendorong kenaikan biaya impor yang merugikan rumah tangga maupun pengecer di Jepang.

Ueda dinilai menghadapi tantangan berat untuk meredam tekanan terhadap yen lewat komunikasi yang tegas, terlebih dengan prospek kenaikan suku bunga AS yang berpotensi kembali membebani nilai tukar yen terhadap dolar. Namun, tekanan dari pemerintah yang cenderung lunak serta potensi dampak ekonomi dari gempa berkekuatan 7,1 skala Richter di Prefektur Kumamoto, lokasi sejumlah pabrik produsen chip besar, dapat meredam sikap agresif BOJ, menurut sejumlah analis.

Inflasi konsumen inti Jepang tercatat 1,6% pada Juni, masih di bawah target BOJ sebesar 2% untuk bulan kelima berturut-turut. Angka ini menunjukkan perusahaan belum secara agresif meneruskan kenaikan biaya ke rumah tangga, meski para analis memperkirakan inflasi inti bakal kembali naik di atas 2% pada akhir tahun akibat lonjakan harga produsen belakangan ini.