Periskop.id – Madrasah Ibtidaiyah Raudlotul Athfal Karisma di Jalan Matraman Dalam, Pegangsaan, Menteng, Jakarta Pusat, menerapkan pembelajaran jarak jauh sementara pada Senin (27/7). Kebijakan itu diambil untuk melindungi siswa setelah bentrokan di kawasan Jalan Tambak menewaskan satu orang dan membuat seorang korban lainnya kritis.

Camat Menteng Nurhelmi Savitri mengatakan, PJJ merupakan langkah antisipasi agar proses belajar tetap berjalan tanpa mengabaikan keamanan siswa, guru, dan orang tua. Belum ada batas waktu penerapannya karena pembelajaran tatap muka akan kembali dibuka setelah kondisi di sekitar sekolah dinilai benar-benar aman.

"Iya betul, PJJ. Saya rasa kalau memang sudah kondusif bisa langsung kembali (belajar di sekolah)," kata Nurhelmi kepada awak media di Jakarta, Senin (27/7).

MI Raudlotul Athfal Karisma berada di Jalan Matraman Dalam, tidak jauh dari lokasi awal perselisihan yang kemudian meluas menjadi bentrokan di Jalan Tambak. Pemerintah kecamatan bersama kepolisian masih memantau keamanan kawasan tersebut sebelum mengizinkan kegiatan belajar kembali berlangsung di sekolah.

"Mungkin mengantisipasi saja. Yang penting proses belajarnya masih berjalan. Kalau situasi sudah kondusif, bisa langsung kembali belajar di sekolah," ujarnya.

Aparat Masih Berjaga di Lokasi Bentrokan

Pantauan di Jalan Tambak pada Senin pagi menunjukkan garis polisi masih terpasang di sekitar lokasi keributan. Puing batu dan sisa bangunan yang terbakar juga belum sepenuhnya dibersihkan. Petugas Satpol PP terlihat berjaga, sedangkan aktivitas di titik utama bentrokan belum kembali normal.

Sebelumnya, kepolisian menyiagakan personel gabungan dari Polri, TNI, dan Satpol PP untuk mencegah bentrokan susulan serta memberikan rasa aman kepada warga di kawasan Tambak, Matraman, dan Menteng.

"Sampai dengan malam ini kami pastikan situasi aman dan kondusif. Kami memberikan rasa aman dan nyaman kepada warga, khususnya di wilayah Tambak, Matraman dan Menteng," kata Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Pol Reynold EP Hutagalung.

Selain penjagaan aparat, pemerintah kecamatan akan mempertemukan pengurus RT dan RW, tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh pemuda, Karang Taruna, serta unsur terkait lainnya. Pertemuan itu ditujukan untuk memperkuat komunikasi dan mencegah warga terpengaruh informasi yang belum terverifikasi.

Langkah tersebut dinilai penting karena polisi telah memastikan tidak ada rumah ibadah yang dirusak dalam keributan. Klarifikasi disampaikan untuk meluruskan kabar yang berkembang setelah bentrokan terjadi di dekat Masjid Jami Matraman.

Bentrokan Berawal dari Teguran terhadap Pengendara Motor

Bentrokan terjadi pada Minggu (26/7) sekitar pukul 10.00 WIB. Berdasarkan penyelidikan sementara, keributan bermula ketika dua pengendara sepeda motor menggeber kendaraannya di depan pedagang nasi uduk di Jalan Matraman Dalam.

Pedagang menegur kedua pengendara karena suara kendaraan dianggap mengganggu. Keduanya kemudian pergi, tetapi diduga kembali bersama beberapa orang dan merusak gerobak nasi uduk. Peristiwa itu memicu perlawanan warga hingga keributan meluas ke Jalan Tambak.

Kedua kelompok terlibat aksi saling serang dan melempar batu. Sebuah bangunan semipermanen serta sejumlah sepeda motor terbakar dalam kejadian tersebut.

Dua korban kemudian dibawa ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo dalam kondisi kritis. Seorang korban berinisial K yang berusia 23 tahun meninggal setelah mendapatkan penanganan medis, sedangkan satu korban lainnya masih menjalani perawatan.

Polisi juga memeriksa secara intensif tiga orang berinisial S, T, dan U untuk mendalami perusakan gerobak, dugaan penganiayaan, serta peran setiap pihak dalam bentrokan. Penyidik masih mengumpulkan keterangan korban dan saksi sebelum menentukan status hukum mereka.

Penerapan PJJ akan dievaluasi berdasarkan perkembangan keamanan. Pemerintah Kecamatan Menteng menegaskan pembelajaran tatap muka dapat segera dilanjutkan setelah aparat memastikan tidak ada risiko bentrokan susulan dan aktivitas masyarakat di sekitar Jalan Tambak kembali normal.