Periskop.id - Menentukan kurikulum magang nasional sering jadi tahap yang bikin bingung penyelenggara baru. Berikut trik praktis menyusunnya agar sesuai aturan dan benar-benar terpakai peserta.

Kurikulum yang baik tidak lahir dari menyalin deskripsi pekerjaan harian, melainkan dari perencanaan bertahap yang mengacu pada standar kompetensi tertentu, sesuai ketentuan Kementerian Ketenagakerjaan.

Beberapa trik berikut bisa dipakai penyelenggara sebagai panduan awal, lengkap dengan gambaran contoh penerapan di platform MagangHub.

Mulai dari Kompetensi Akhir, Bukan Tugas Harian

Langkah pertama adalah menentukan kompetensi akhir yang ingin dicapai peserta di akhir program, baru kemudian dipecah mundur menjadi tahapan bulanan. Cara ini kebalikan dari kebiasaan umum yang langsung menulis daftar tugas harian sejak awal.

Misalnya untuk posisi penulis konten, kompetensi akhirnya bisa berupa kemampuan memproduksi artikel yang optimal secara pencarian sekaligus tetap orisinal dan kredibel. Materi bulanan lalu disusun sebagai tangga menuju kompetensi tersebut, bukan sekadar daftar aktivitas.

Tentukan Proporsi Teori dan Praktik Sejak Awal

Trik kedua adalah menghitung proporsi teori dan praktik sebelum mulai menulis materi per bulan, bukan setelahnya. Total durasi teori di seluruh program idealnya berada di kisaran 10% sampai 25% dari total durasi magang.

Cara paling praktis adalah membuat perkiraan total hari magang lebih dulu, lalu mengalokasikan jatah hari teori di depan. Setelah jatah itu habis, sisa materi otomatis diarahkan ke jenis praktik.

Susun Kurikulum Secara Runut dari Bulan 1 sampai 6

Trik ketiga adalah menyusun kurikulum sebagai satu alur utuh dari bulan pertama hingga bulan keenam, bukan enam kurikulum bulanan yang berdiri sendiri. Penyelenggara sebaiknya memetakan dulu peta besar keseluruhan program sebelum mengisi detail tiap bulan satu per satu.

Pola umum yang bisa dipakai misalnya, bulan 1 diisi orientasi dan dasar-dasar teori, bulan 2 sampai 3 diisi praktik terbimbing dengan supervisi ketat, bulan 4 sampai 5 diisi praktik mandiri dengan tingkat kompleksitas naik bertahap, dan bulan 6 diisi proyek akhir sekaligus evaluasi.

Setiap materi di satu bulan idealnya jadi prasyarat untuk materi di bulan berikutnya. Misalnya, materi dasar riset topik di bulan 1 baru bisa dilanjutkan ke materi produksi konten mandiri di bulan 2, bukan melompat langsung tanpa fondasi yang jelas.

Format pengisian di sistem, seperti kolom Materi, Jenis, Durasi Min-Max, dan Deskripsi, sebaiknya diisi berurutan sesuai peta besar ini. Deskripsi tiap materi juga sebaiknya memuat poin konkret yang ingin dicapai, bukan sekadar kalimat umum seperti "mengenal pekerjaan".

Beri Nama Kurikulum yang Deskriptif

Trik terakhir adalah memberi nama kurikulum yang menjelaskan kompetensi inti, bukan sekadar nama posisi. Contohnya, nama seperti "Standar Produksi Konten dan Optimalisasi Media" jauh lebih informatif dibanding sekadar menulis "Kurikulum Content Writer".

Penamaan semacam ini langsung memberi gambaran fokus kompetensi tiap kurikulum tanpa perlu membuka detail lebih jauh, sekaligus memudahkan tim seleksi mencocokkan minat calon peserta dengan program yang tersedia.

Menyusun kurikulum memang butuh waktu lebih di awal, tapi hasilnya membuat proses pemagangan lebih terarah, baik bagi peserta yang menjalani maupun bagi perusahaan saat harus mempertanggungjawabkan program ke Kemnaker.