Periskop.id - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sebanyak 7,7 juta orang berstatus pekerja komuter di Indonesia sepanjang 2025. Jumlah tersebut setara sekitar 5,2% dari total pekerja di Tanah Air.

Data tersebut tercantum dalam publikasi BPS bertajuk Analisis Mobilitas Tenaga Kerja Hasil Sakernas 2025. Komuter dalam definisi BPS merujuk pada pekerja yang melakukan perjalanan pulang-pergi harian untuk bekerja di luar kabupaten atau kota tempat tinggalnya.

Mobilitas pekerja komuter ini ternyata sangat terkonsentrasi secara geografis. Sekitar 90% pekerja komuter berada di Kawasan Barat Indonesia, yang mencakup Sumatera, Jawa, dan Bali, bahkan tiga dari empat pekerja komuter di Indonesia berada di Pulau Jawa.

BPS menilai konsentrasi tersebut berkaitan dengan wilayah yang memiliki aktivitas ekonomi dan jumlah penduduk bekerja besar. Keberadaan pusat pekerjaan di satu wilayah dan kawasan permukiman di wilayah lain turut membentuk pola pergerakan tenaga kerja antardaerah.

Meski mencapai jutaan orang, pekerja komuter masih tergolong minoritas dalam struktur pekerja nasional. Sebanyak 138,8 juta orang atau 94,8% pekerja di Indonesia justru tergolong nonkomuter pada 2025.

Jika dirinci berdasarkan provinsi, Jawa Barat menempati posisi teratas dengan jumlah pekerja komuter mencapai sekitar 1,89 juta orang, setara 7,7% dari total pekerja di provinsi tersebut. Jawa Tengah menyusul di posisi kedua dengan 1,15 juta pekerja komuter, diikuti Jawa Timur sebanyak 941,5 ribu orang, DKI Jakarta 885,9 ribu orang, dan Banten 565,3 ribu orang.

Urutannya berubah ketika dilihat dari persentase komuter terhadap total pekerja di masing-masing provinsi. DKI Jakarta justru berada di posisi teratas dengan 17,3% pekerjanya berstatus komuter, disusul DI Yogyakarta 13,1%, Banten 9,8%, Bali 9,1%, dan Jawa Barat 7,7%.

BPS menyebut kondisi ini menunjukkan intensitas komuter tak semata ditentukan besarnya populasi pekerja. Karakter wilayah, aglomerasi ekonomi, serta keterhubungan antara kawasan tempat tinggal dan pusat kegiatan kerja disebut turut memengaruhi.

Pada tingkat kabupaten/kota, daerah tempat tinggal pekerja komuter banyak berada di kawasan penyangga metropolitan seperti Depok, Bekasi, Bogor, dan Tangerang. Sementara wilayah tujuan didominasi pusat kegiatan ekonomi seperti Jakarta Selatan, Jakarta Pusat, Surabaya, Bandung, Medan, dan Semarang.

Karakteristik pekerja komuter juga berbeda dari struktur pekerja nasional secara keseluruhan. BPS mencatat 82,3% pekerja komuter bekerja di sektor formal, sementara sisanya 17,7% berada di sektor informal.

Besarnya porsi pekerja formal ini dinilai berkaitan dengan pusat kegiatan ekonomi, kawasan perkantoran, industri, perdagangan, dan jasa yang punya pola kerja lebih teratur serta lokasi kerja relatif tetap. DKI Jakarta mencatat 92,9% pekerja komuternya berada di sektor formal, disusul Banten 88%, Kepulauan Riau 86,6%, serta Jawa Barat dan Kalimantan Barat masing-masing 85,4%.

Secara nasional, pekerja komuter juga didominasi kelompok berpendidikan SMA ke atas. BPS menyebut pola ini berkaitan dengan struktur pekerjaan di wilayah tujuan, termasuk sektor formal, jasa, administrasi, perdagangan modern, serta aktivitas ekonomi perkotaan.

Jumlah pekerja komuter sendiri sempat mengalami pasang surut dalam satu dekade terakhir. Dari 7,1 juta orang pada 2016, angkanya sempat naik jadi 8,9 juta pada 2019, lalu turun ke 7 juta pada 2020, sebelum kembali merangkak naik hingga mencapai 7,7 juta orang pada 2025 dari sebelumnya 7,6 juta orang pada 2024.