Periskop.id – Cara warga Pondok Labu memperingatkan datangnya banjir mulai berubah. Kentongan, pengeras suara masjid, dan tiang listrik kini dilengkapi Smart Flood Warning System, alat peringatan dini berbasis sirene yang dibuat pemuda setempat dari sejumlah komponen barang bekas.

Inovasi tersebut digagas Muhammad Azzuhri Ramdhani, pemuda berusia 23 tahun yang tergabung dalam Karang Taruna RT 02 RW 10, Kelurahan Pondok Labu, Cilandak, Jakarta Selatan. Dua unit alat telah dipasang di RT 01 dan RT 02 RW 10 sebagai kawasan yang kerap terdampak luapan Kali Grogol.

Lurah Pondok Labu Nachnoer Vernier Atom mengatakan ide pembuatan alat muncul setelah Azzuhri mengikuti pelatihan kebencanaan yang diselenggarakan Badan Penanggulangan Bencana Daerah atau BPBD.

“Setelah mengikuti diklat BPBD, beliau memiliki gagasan membuat alat pendeteksi banjir karena juga tinggal di lokasi yang rawan banjir,” kata Vernier kepada wartawan di Jakarta, Sabtu (187).

Sirene Gantikan Peringatan Manual

Selama ini, informasi mengenai kenaikan air disampaikan secara manual dengan membunyikan kentongan, menggunakan pengeras suara masjid, atau memukul tiang listrik. Cara tersebut dinilai kurang efektif, terutama ketika banjir datang pada malam hari dan sebagian warga sedang beristirahat.

Azzuhri kemudian mengajak pemuda Karang Taruna yang memiliki pengetahuan teknologi untuk merancang sistem peringatan yang mampu memberikan informasi lebih cepat kepada masyarakat.

“Idenya itu memang kami berangkat dari teman-teman Karang Taruna yang memiliki berbagai macam potensi pengetahuan teknologi. Dan memang setelah diklat, kami sudah merancang untuk alat ini terpasang di RT 02 sebagai contoh utama di wilayah Kelurahan Pondok Labu,” kata dia.

Menurut Azzuhri, hujan deras selama sekitar 30 menit dapat memicu banjir hingga setinggi 50 sentimeter di kawasan tersebut. Kondisi itu membuat warga membutuhkan alarm yang dapat berbunyi sebelum air telanjur masuk lebih jauh ke permukiman.

“Alat ini dibuat supaya masyarakat mendapatkan informasi lebih awal. Karena banjir datang tanpa permisi, tetapi masyarakat berhak mendapatkan peringatan dini,” ucapnya.

Pemasangan pertama di RT 02 dilakukan secara swadaya pada akhir 2024 dengan memanfaatkan kas RT, dukungan warga, dan bantuan Karang Taruna. Sementara itu, unit di RT 01 dibangun melalui dukungan program tanggung jawab sosial perusahaan FIF Group. Menurut Azzuhri, alat tersebut merupakan penerapan pertama Smart Flood Warning System berbasis warga di Jakarta.

Hampir Seribu Warga Berada di Kawasan Rawan

Pondok Labu memiliki tingkat kerawanan banjir cukup tinggi karena berada di antara aliran Kali Grogol dan Kali Krukut. Banjir terparah pada 2020 disebut mencapai ketinggian hampir dua meter.

Di RT 01 RW 10 tercatat 158 keluarga atau 540 warga berada di kawasan terdampak. Sementara di RT 02 terdapat 120 keluarga dengan 386 warga. Dengan demikian, alat peringatan dini tersebut berpotensi membantu kesiapsiagaan sedikitnya 278 keluarga atau 926 warga.

Kerawanan itu kembali terlihat pada awal 2026. BPBD DKI Jakarta mencatat dua RT di Pondok Labu terendam hingga 80 sentimeter pada 12 Januari 2026 akibat curah hujan tinggi dan luapan Kali Krukut. Pada 22 Januari, satu RT di wilayah yang sama kembali terendam hingga 50 sentimeter.

Kelurahan Pondok Labu berencana memperluas pemasangan alat ke titik rawan lainnya. Pengembangan akan diupayakan melalui program CSR dan kerja sama dengan pemerintah, dunia usaha, serta pemangku kepentingan terkait.

Pengerukan Kali dan Waduk Cilandak Dikebut

Selain mengandalkan peringatan dini, pemerintah kelurahan menyiapkan penanganan jangka panjang melalui penguatan infrastruktur. Rencana tersebut mencakup penurapan bantaran serta pengerukan Kali Grogol dan Kali Krukut.

“Untuk penanganan banjir di sini, rencana kami sedang lagi pengajuan untuk penurapan di bantaran Kali Grogol dan juga pengerukan kali sepanjang Kali Grogol. Nanti juga di Kali Krukut akan kami lakukan sama,” ucap Vernier.

Pembangunan Waduk Bango yang juga dikenal sebagai Waduk Cilandak turut diharapkan mengurangi beban aliran air menuju permukiman Pondok Labu. Proyek tersebut ditargetkan selesai pada penghujung 2026.

“Sedang lagi dibangun Waduk Bango atau Waduk Cilandak yang sekarang masih dalam proses yang insya Allah akan selesai pada akhir Desember tahun 2026,” katanya.

Inovasi warga Pondok Labu sejalan dengan pengembangan sistem peringatan dini banjir oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Dinas Sumber Daya Air telah memasang Automatic Water Level Recorder pada polder, rumah pompa, dan pintu air. Sensor tersebut mengirimkan data ketinggian air melalui telemetri ke pusat kendali serta didukung jaringan kamera pengawas di lima wilayah Jakarta.

Kepala Dinas SDA DKI Jakarta Ika Agustin Ningrum sebelumnya membuka ruang kerja sama dengan warga dan akademisi untuk memperkuat teknologi mitigasi banjir.

“Harapannya dengan Jakarta Innovation Days ini kita bisa kerja sama bagaimana memetakan daerah-daerah banjir ini sehingga menjadi Early Warning System bagi Pemprov DKI Jakarta dengan teknologi yang lebih baik lagi,” ucapnya.

Smart Flood Warning System buatan warga memang tidak menggantikan kebutuhan pengerukan sungai, pembangunan waduk, dan pembenahan drainase. Namun, alat itu dapat menjadi lapisan perlindungan tambahan agar masyarakat memiliki waktu untuk menyelamatkan anggota keluarga, kendaraan, dokumen, dan barang berharga sebelum air meninggi.