Periskop.id – Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Pusat mendorong Institut Kesenian Jakarta memperluas pembinaan seni hingga tingkat kelurahan. Gagasan laboratorium seni tersebut diharapkan tidak hanya menjadi ruang ekspresi, tetapi juga meningkatkan keterampilan warga dan membuka peluang usaha di sektor ekonomi kreatif.

Sekretaris Kota Administrasi Jakarta Pusat Denny Ramdany mengatakan kapasitas akademik dan sumber daya yang dimiliki IKJ dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas melalui program pembinaan berkelanjutan.

"Saya berharap IKJ memiliki laboratorium seni di kelurahan sehingga pembinaan kepada masyarakat bisa berjalan secara berkelanjutan," kata Denny saat membuka Festival Kali Pasir 2026 di Kampus IKJ, Cikini, Jakarta Pusat, Jumat (24/7).

Laboratorium seni di tingkat kelurahan dapat diarahkan untuk mengembangkan kemampuan warga dalam seni rupa, pertunjukan, desain, film, fotografi, hingga produksi konten digital. Pendampingan juga dapat dihubungkan dengan pengembangan produk UMKM agar karya masyarakat memiliki nilai jual dan akses pasar yang lebih luas.

"Generasi muda harus memiliki kemampuan dan keterampilan. Potensi yang dimiliki IKJ bisa dikembangkan bersama masyarakat agar memberi manfaat ekonomi," ujar Denny.

Ekonomi Kreatif Punya Potensi Besar

Dorongan tersebut muncul di tengah besarnya peran ekonomi kreatif dalam penciptaan lapangan kerja. Badan Pusat Statistik mencatat sektor ekonomi kreatif menyerap sekitar 27,4 juta pekerja pada 2025 atau 18,7% dari total tenaga kerja nasional. Jumlah itu meningkat dari 26,48 juta pekerja pada 2024.

Sektor tersebut mencakup beragam bidang yang dekat dengan kompetensi IKJ, mulai dari film, musik, desain, animasi, fesyen, seni pertunjukan, hingga konten digital. Dengan pembinaan yang tepat, warga tidak hanya dilatih menghasilkan karya, tetapi juga memahami pengemasan produk, promosi, pengelolaan hak kekayaan intelektual, serta pemasaran melalui platform digital.

Di Jakarta, jumlah penduduk bekerja mencapai 5,20 juta orang pada Februari 2026. Sementara itu, Tingkat Pengangguran Terbuka berada di level 6,03%, turun 0,15% poin dibandingkan tahun sebelumnya. Data tersebut memperlihatkan perlunya penciptaan keterampilan dan sumber pekerjaan baru, termasuk melalui industri kreatif berbasis komunitas.

Denny menilai pembinaan seni dapat menjadi salah satu jalan untuk mempersiapkan generasi muda menghadapi persaingan kerja sekaligus memanfaatkan momentum bonus demografi.

Program tersebut nantinya perlu dirancang berdasarkan karakter setiap wilayah. Kelurahan dengan komunitas seni pertunjukan, misalnya, dapat memperoleh pelatihan produksi dan manajemen acara. Sementara wilayah dengan banyak pelaku UMKM dapat diarahkan pada desain produk, pengemasan, fotografi komersial, dan pemasaran digital.

 

IKJ
Ilustrasi gedung Institut Kesenian Jakarta. dok IKJ

 

Festival Kali Pasir Jadi Model Kolaborasi

Festival Kali Pasir 2026 dinilai menjadi contoh awal kolaborasi antara kampus, pemerintah, warga, komunitas, media, dan pelaku usaha. Festival yang memasuki penyelenggaraan tahun kedua itu melibatkan masyarakat dari empat kelurahan di sekitar IKJ, yakni Cikini, Kebon Sirih, Kwitang, dan Kenari.

Mengusung tema “Aliran Seni Sungai Kota”, festival menghadirkan pertunjukan seni, karnaval, lokakarya, diskusi buku, pemutaran film, donor darah, bazar UMKM, dan panggung musik. Warga juga terlibat dalam pertunjukan lenong bersama mahasiswa IKJ dan masyarakat Kali Pasir.

"Kegiatan ini diharapkan dapat menjangkau lebih banyak warga melalui kolaborasi antara IKJ dan pemerintah di tingkat kelurahan," tutur Denny.

Rektor IKJ Prof. M. Syamsul Maarif mengatakan festival tersebut memang dirancang untuk mempertemukan lingkungan akademik dengan masyarakat sekitar.

“Festival Kali Pasir merupakan bentuk kolaborasi antara civitas akademika dan masyarakat sekitar Kampus Institut Kesenian Jakarta,” kata Syamsul.

Festival juga menjadi ruang belajar bagi mahasiswa sekaligus bentuk pengabdian perguruan tinggi. Kampus tidak hanya menampilkan karya kepada masyarakat, tetapi melibatkan warga dalam proses penciptaan, produksi, dan penyelenggaraan acara.

Pembinaan Tak Boleh Berhenti pada Festival

Pengembangan laboratorium seni membutuhkan program yang berjalan sepanjang tahun agar dampaknya tidak berhenti setelah festival selesai. Bentuknya dapat berupa kelas rutin, pendampingan komunitas, pelatihan produksi, ruang kerja bersama, pameran berkala, hingga penghubung dengan calon pembeli dan industri.

IKJ dapat menyiapkan mahasiswa, dosen, dan alumni sebagai mentor, sedangkan pemerintah kelurahan membantu memetakan warga, menyediakan ruang kegiatan, dan menghubungkan program dengan UMKM maupun komunitas setempat.

Keberhasilan program juga perlu diukur melalui indikator yang jelas, seperti jumlah warga yang mengikuti pelatihan, karya yang dihasilkan, usaha baru yang terbentuk, peningkatan pendapatan, dan keberlanjutan komunitas setelah pendampingan selesai.

Gagasan menjadikan Festival Kali Pasir sebagai agenda tetap sebenarnya telah muncul sejak penyelenggaraan pertamanya pada 2025. Pemprov DKI ketika itu menilai festival berbasis karakter wilayah dapat memberi identitas berbeda bagi setiap kawasan Jakarta sekaligus memperkuat posisinya sebagai kota global yang tetap berpijak pada budaya lokal.

Dengan perluasan pembinaan hingga kelurahan, Festival Kali Pasir dapat berkembang dari acara tahunan menjadi pintu masuk bagi program pemberdayaan seni yang lebih permanen. Tantangan berikutnya adalah memastikan tersedia anggaran, ruang, mentor, kurikulum, dan akses pasar agar potensi kreatif warga benar-benar menghasilkan manfaat sosial dan ekonomi.