Periskop.id - Memasuki semester II 2026, aktivitas penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih belum menunjukkan peningkatan yang signifikan. Antrean perusahaan yang bersiap melantai di bursa semakin pendek, mencerminkan bahwa pasar saham primer masih bergerak dengan ritme yang relatif konservatif di tengah berbagai dinamika ekonomi dan pasar keuangan.
Direktur Penilaian Perusahaan PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Saidu Solihin, mengungkapkan bahwa hingga 31 Juli 2026 telah terdapat tujuh perusahaan yang resmi mencatatkan saham di BEI dengan total dana yang berhasil dihimpun mencapai Rp2,16 triliun.
“Sampai dengan 31 Juli 2026, terdapat 7 perusahaan baru yang mencatatkan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan total dana yang dihimpun sebesar Rp2,16 triliun. Saat ini, masih terdapat 4 perusahaan dalam pipeline,” ujar Saidu.
Jumlah tersebut menunjukkan bahwa hingga penghujung Juli, antrean calon emiten yang akan melakukan IPO tinggal empat perusahaan. Komposisinya terdiri atas dua perusahaan dari sektor Healthcare, satu perusahaan sektor Consumer Non-Cyclicals, dan satu perusahaan sektor Industrials.
Pipeline IPO Didominasi Sektor Kesehatan
Menariknya, sektor kesehatan menjadi sektor yang paling mendominasi pipeline IPO tahun ini. Dari empat perusahaan yang masih berada dalam antrean pencatatan saham, separuhnya berasal dari sektor Healthcare.
Dominasi tersebut mengindikasikan bahwa industri kesehatan masih menjadi salah satu sektor yang cukup aktif melakukan ekspansi melalui pendanaan di pasar modal. Dalam beberapa tahun terakhir, sektor ini memang terus memperoleh perhatian investor seiring meningkatnya kebutuhan layanan kesehatan, pengembangan rumah sakit, laboratorium, hingga bisnis penunjang kesehatan lainnya.
Sementara itu, sektor lain seperti teknologi, energi, keuangan, infrastruktur, hingga transportasi dan logistik belum memiliki perusahaan yang masuk dalam pipeline IPO per akhir Juli 2026. Kondisi ini memperlihatkan bahwa aktivitas pencatatan saham masih belum merata di seluruh sektor industri.
Dari sisi klasifikasi aset, empat perusahaan yang masih berada dalam pipeline memiliki karakteristik yang cukup unik. Sebanyak dua perusahaan masuk kategori perusahaan beraset besar atau memiliki aset di atas Rp250 miliar, sedangkan dua lainnya merupakan perusahaan beraset kecil dengan aset di bawah Rp50 miliar.
Menariknya, tidak terdapat perusahaan dengan kategori aset menengah dalam pipeline tersebut. Komposisi ini memperlihatkan bahwa perusahaan yang masuk antrean IPO saat ini didominasi oleh dua kelompok, yakni perusahaan yang telah memiliki skala usaha besar serta perusahaan yang relatif kecil namun mulai memanfaatkan pasar modal sebagai sumber pendanaan.
Apabila dibandingkan dengan instrumen pendanaan lain di pasar modal, aktivitas IPO sepanjang 2026 masih relatif terbatas.
Data BEI menunjukkan bahwa hingga 31 Juli 2026 telah diterbitkan sebanyak 115 emisi Efek Bersifat Utang dan Sukuk (EBUS) dari 62 penerbit dengan total dana yang berhasil dihimpun mencapai Rp104,11 triliun. Bahkan, masih terdapat 15 emisi dari 11 penerbit yang berada dalam pipeline penerbitan obligasi dan sukuk.
Di sisi lain, aksi korporasi melalui rights issue juga masih berlangsung. Hingga akhir Juli tercatat 15 perusahaan telah menerbitkan rights issue dengan nilai mencapai Rp15,85 triliun, sementara masih terdapat satu perusahaan yang berada dalam pipeline rights issue.
Perbandingan tersebut menunjukkan bahwa sepanjang 2026 perusahaan masih lebih banyak memanfaatkan instrumen pendanaan berbasis utang maupun penambahan modal melalui rights issue dibandingkan melakukan pencatatan saham perdana.
Menunggu Momentum Pasar
Secara umum, jumlah pipeline IPO bukanlah indikator pasti mengenai minat perusahaan untuk masuk bursa, melainkan menggambarkan perusahaan yang telah memasuki proses pencatatan di BEI. Besar kecilnya pipeline dapat berubah sewaktu-waktu seiring masuknya calon emiten baru ataupun perusahaan yang telah menyelesaikan proses IPO.
Meski demikian, dengan hanya tersisa empat perusahaan dalam antrean hingga akhir Juli, aktivitas IPO pada semester II 2026 diperkirakan masih akan bergerak relatif terbatas apabila tidak diikuti masuknya calon emiten baru dalam beberapa bulan mendatang.
Bagi investor, kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa pasokan saham baru di pasar primer masih cenderung terbatas. Sebaliknya, bagi perusahaan yang telah siap melantai di bursa, situasi ini berpotensi membuka ruang untuk memperoleh perhatian investor yang lebih besar karena jumlah emiten baru yang hadir ke pasar tidak sebanyak periode-periode ketika aktivitas IPO sedang ramai.
Tinggalkan Komentar
Komentar