Pertamina Lubricants Ekspor ke 16 Negara, Volume Tembus 11 Ribu KL per Tahun
Pertamina Lubricants mengekspor pelumas ke 16 negara dengan volume sekitar 11.000 KL per tahun. Production Unit Jakarta menjadi fasilitas produksi terbesarnya

Periskop.id - PT Pertamina Lubricants memperluas penetrasi produk pelumas buatan Indonesia ke pasar internasional. Hingga Agustus 2026, perusahaan menyebut produknya telah dipasarkan ke 16 negara di Asia, Afrika, dan Australia, dengan volume ekspor sekitar 11.000 kiloliter (KL) per tahun.
Ekspansi tersebut mencakup produk otomotif seperti Fastron dan Enduro hingga pelumas industri untuk kebutuhan hidrolik, transmisi, perkapalan, dan berbagai aplikasi mesin. Perusahaan mengandalkan tiga fasilitas produksi domestik di Jakarta, Gresik, dan Cilacap untuk memenuhi permintaan dalam negeri sekaligus pasar ekspor.
"Dan pasar yang menjadi sasaran pelumas Pertamina tidak hanya domestik, tapi kita juga juga merambah ke pasar mancanegara. Kita sudah merambah ke mencapai ke 16 negara untuk saat ini," kata Corporate Secretary Pertamina Lubricants Rika Gresia Wahyudi dalam media visit Production Unit Jakarta, Rabu (12/8).
Pasar ekspor Pertamina Lubricants berkembang sejak Korea Selatan menjadi negara tujuan pertama pada 2007. Jaringannya kemudian meluas ke Bangladesh, Afrika Selatan, China, Myanmar, Vietnam, Thailand, Nigeria, Yaman, Timor Leste, Malaysia, Singapura, Australia, Jepang, Filipina, hingga Tanzania yang disebut sebagai tujuan ekspor terbaru sejak 2024.
Ekspor Masih 3% dari Total Penjualan
Manager Production Pertamina Lubricants Unit Jakarta Dody Arief Aditya mengatakan volume produk yang dikirim ke luar negeri saat ini sekitar 11.000 KL per tahun, atau berkontribusi sekitar 3% terhadap keseluruhan penjualan perusahaan.
“Sekitar 11.000 KL untuk ekspor per tahunnya,” ujar Dody.
Angka tersebut memperlihatkan pasar domestik masih menjadi tulang punggung bisnis Pertamina Lubricants. Dalam laporan kinerja tahun buku 2024, perusahaan mencatat volume penjualan sebesar 612.430 KL, tumbuh 23,6% secara tahunan. Pangsa pasar domestik saat itu tercatat 36%.
Dari sisi keuangan, Pertamina Lubricants membukukan pendapatan Rp13,4 triliun sepanjang 2024 atau tumbuh 8,7%. Laba bersih mencapai Rp1,1 triliun dengan margin keuntungan 8,4%. Volume produksinya pada tahun yang sama mencapai 461.772 KL.
Besarnya pasar domestik juga diiringi persaingan yang ketat. Pertamina Lubricants menyebut lebih dari 200 merek pelumas telah terdaftar di pasar Indonesia sehingga penguatan kualitas produksi dan ekspansi ke luar negeri menjadi bagian dari strategi mempertahankan daya saing.
Production Unit Jakarta Jadi Pabrik Terbesar
Salah satu penopang utama ekspansi tersebut adalah Production Unit Jakarta (PUJ). Fasilitas yang telah beroperasi sejak 1957 itu memiliki kapasitas Lube Oil Blending Plant sebesar 270 juta liter per tahun, sekaligus fasilitas produksi grease hingga 8.000 metrik ton per tahun.
Dua fasilitas domestik lainnya berada di Gresik dan Cilacap. Production Unit Gresik mempunyai kapasitas Lube Oil Blending 120 juta liter per tahun, sedangkan Cilacap sebesar 85 juta liter. Jika digabungkan, ketiga fasilitas domestik memiliki kapasitas blending sekitar 475 juta liter per tahun berdasarkan rincian kapasitas resmi perusahaan.
Pertamina Lubricants juga memiliki fasilitas di Thailand yang beroperasi sejak 2014 dengan kapasitas 60 juta liter per tahun. Pabrik tersebut difokuskan untuk memenuhi kebutuhan pasar Thailand, Indochina, dan wilayah sekitarnya. Secara keseluruhan, perusahaan mencantumkan kapasitas seluruh unit produksinya lebih dari 535 juta liter per tahun.
Dody mengatakan otomatisasi di fasilitas produksi menjadi faktor penting untuk menjaga konsistensi mutu sekaligus meningkatkan kapasitas.
“Teknologi yang modern ini yang pertama akan menjamin kualitas produk yang kita produksi. Dengan teknologi yang serba otomatis itu, tingkat akurasi proses produksi kita, kontaminasi produk, itu bisa kita cegah,” jelasnya.
Meski demikian, teknologi produksi di Jakarta belum sepenuhnya menggunakan kecerdasan buatan. Sistem utamanya masih berbasis otomatisasi dengan formula dan parameter produksi yang telah terintegrasi.
“Prosesnya masih semi konvensional. Jadi katakanlah misalkan proses blending, saat ini kita tinggal panggil saja formulanya, kemudian tentukan mau di-blending di mana, jumlahnya berapa, maka semuanya sudah dilakukan secara otomatis,” beber Dody.
Jepang hingga Timor Leste Jadi Pasar Pertumbuhan
Ekspansi ke berbagai negara tidak hanya berorientasi pada volume, tetapi juga diarahkan menuju pasar dengan standar produk yang lebih tinggi.
Di Jepang, Pertamina Lubricants telah memasok Fastron Next 0W-20 dan 5W-30 API SP GF6. Perusahaan sebelumnya memperoleh kontrak pengiriman 480 drum atau 96 KL pelumas sintetik melalui distributor PPT Energy Trading Co Ltd.
Pertamina Lubricants menilai pasar pelumas sintetik Jepang memiliki ruang pertumbuhan yang menarik. Kehadiran di negara tersebut juga menjadi bagian dari upaya memperkuat posisi produk Indonesia di pasar yang mensyaratkan spesifikasi dan kontrol kualitas tinggi.
Pertumbuhan juga terlihat di Timor Leste. Sepanjang 2024, volume penjualan Pertamina Lubricants di negara tersebut meningkat 146% dibandingkan tahun sebelumnya. Perusahaan kemudian memperluas penetrasi dengan meluncurkan layanan Pertamina Enduro Motor Service sebagai kanal ritel di SPBU Pertamina di Timor Leste pada Juni 2025.
Selain ekspor langsung, jejak internasional Pertamina Lubricants diperkuat melalui fasilitas produksi di Thailand dan kantor perwakilan di Sydney, Australia. Thailand juga menjadi basis untuk memperluas distribusi ke kawasan Indochina.
Targetnya Bukan Sekadar Menjual Oli
Ekspansi global menunjukkan Pertamina Lubricants berupaya bergerak dari produsen yang dominan di pasar domestik menuju pemain pelumas regional. Strateginya mencakup peningkatan kualitas, perluasan jaringan distribusi, fasilitas produksi luar negeri serta penetrasi ke pasar dengan kebutuhan berbeda-beda.
Produk ekspor juga tidak hanya menyasar pemilik kendaraan. Segmen industri menjadi pasar penting melalui pelumas untuk pertambangan, hidrolik, transmisi, perkapalan hingga mesin industri.
Langkah tersebut didukung standar pengujian di fasilitas produksi. Setiap unit produksi Pertamina Lubricants memiliki laboratorium untuk memastikan hasil produksi memenuhi spesifikasi yang telah ditentukan.
“Harapan kami produk-produk yang kita produksi itu secara kualitas dijamin stabil dan kita menerapkan berbagai standar testing dan metode uji kualitas skala internasional di Production Unit Jakarta,” katanya.
Dengan volume ekspor saat ini masih sekitar 3% dari total penjualan, ruang pertumbuhan pasar luar negeri masih terbuka lebar. Tantangan berikutnya adalah meningkatkan volume ekspor sembari mempertahankan posisi di pasar domestik yang dipenuhi ratusan merek, sekaligus memastikan produk buatan Indonesia mampu memenuhi standar teknis di masing-masing negara tujuan.
Baca berita dan informasi lainnya mengenai pertamina dengan mengeklik tautan.



Komentar (0)
Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.
Belum ada komentar.