Industri

Danantara Targetkan Laba Dahana Rp2 Triliun pada 2030, Ekspansi Pabrik Digenjot

Danantara menargetkan laba PT Dahana mencapai Rp2 triliun pada 2030 melalui ekspansi pabrik, peningkatan kapasitas produksi dan perluasan pasar ekspor

1 minggu yang lalu · 4 mnt baca
Dahana
BUMN PT Dahana melakukan ekspor perdana sebanyak 18.000 ton Amonium Nitrat (AN) ke Australia. Kegiatan pelepasan ekspor dilaksanakan di Dermaga Terminal Khusus Pelabuhan Tursina, Bontang, Sabtu, 18 April 2026, sebagai bagian dari langkah strategis perusahaan dalam memperluas pasar internasional. dok. Dahana
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Badan Pengaturan BUMN (BP BUMN) bersama Danantara Indonesia membidik laba PT Dahana mencapai Rp2 triliun paling lambat pada 2030, hampir empat kali lipat dibandingkan laba perusahaan saat ini. Untuk mengejar target tersebut, produsen bahan peledak anggota Holding Industri Pertahanan DEFEND ID itu diarahkan memperbesar kapasitas produksi, membangun fasilitas baru, serta memperluas pasar domestik dan ekspor.

Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara Indonesia Dony Oskaria membahas rencana ekspansi tersebut bersama Direktur Utama PT Dahana pada Selasa (18/8). Pertemuan antara lain menyoroti pembangunan pabrik baru dan peningkatan kapasitas sebagai bagian dari strategi memperbesar skala usaha Dahana.

“Jadi yang sehat kayak Dahana itu akan kita ekspansikan. Labanya mereka sekarang Rp500 miliar, dengan market sizeyang kita punya, target kita bisa Rp2 triliun. Paling lambat 2030 sudah Rp2 triliun,” ujar Dony.

Target tersebut terbilang agresif. Dahana secara resmi membukukan laba bersih Rp509,7 miliar sepanjang 2025, tumbuh 1,6% dari tahun sebelumnya, dengan pendapatan usaha Rp3,36 triliun. Jika laba Rp509,7 miliar dijadikan titik awal, pencapaian Rp2 triliun pada 2030 berarti laba harus meningkat sekitar 3,9 kali lipat atau setara pertumbuhan majemuk rata-rata sekitar 31% per tahun selama lima tahun.

Ekspor hingga Pabrik Baru Jadi Modal Ekspansi

Dahana memiliki sejumlah modal untuk mengejar pertumbuhan tersebut. Sepanjang 2025, perusahaan meresmikan fasilitas On Site Plant dan Waste Oil Processing Plant bersama PT Bukit Asam Tbk serta memperluas bisnis internasional. Perusahaan juga menandatangani nota kesepahaman dengan Rheinmetall Denel Munition (RDM) untuk pembangunan fasilitas energetic material di Indonesia.

Direktur Utama PT Dahana Hary Irmawan sebelumnya mengatakan, pengembangan bisnis dilakukan bersamaan dengan penguasaan teknologi dan perluasan pasar.

“PT Dahana terus berkomitmen untuk memperkuat kemandirian industri bahan peledak dan pertahanan nasional melalui penguasaan teknologi, peningkatan kualitas layanan, serta ekspansi pasar global. Berbagai pencapaian di tahun 2025 menjadi bukti bahwa Dahana mampu tumbuh adaptif dan kompetitif di tengah dinamika industri global,” ujar Hary Irmawan.

Langkah ekspansi juga terlihat pada pasar Australia. Pada April 2026, Dahana untuk pertama kalinya mengekspor 18.000 ton amonium nitrat ke Australia. Sehari kemudian, perusahaan kembali mengirim 250 ton cartridged emulsion ke Port Alma, Queensland, yang menjadi ekspor kedelapan produk sejenis Dahana ke negara tersebut.

“Kepercayaan yang terus diberikan oleh mitra internasional seperti Johnex explosives menunjukkan bahwa produk Dahana mampu bersaing dan memenuhi kebutuhan industri pertambangan dunia. Ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus meningkatkan kualitas dan memperluas pasar ekspor,” ungkap Hary Irmawan.

Dony kini meminta potensi pasar tersebut diterjemahkan menjadi pertumbuhan kapasitas dan laba. Selain investasi fasilitas produksi, Dahana juga diarahkan memanfaatkan ekosistem Danantara Asset Management (DAM) untuk memperbesar penyerapan produk dan meningkatkan utilisasi fasilitas perusahaan.

BUMN Sehat Ekspansi, yang Bermasalah Direstrukturisasi

Strategi terhadap Dahana menjadi bagian dari pendekatan Danantara yang membedakan penanganan BUMN berdasarkan kondisi dan prospek bisnis masing-masing. Perusahaan yang dinilai sehat dan memiliki pasar besar akan didorong melakukan ekspansi, sementara perusahaan yang menghadapi persoalan struktural diarahkan melalui skema restrukturisasi tersendiri.

“Yang sakit kita kelompokin sendiri restrukturisasinya. PTDI punya restrukturisasi sendiri, Pindad punya restrukturisasi sendiri, kemudian PAL punya restrukturisasi sendiri, Barata juga punya restrukturisasi sendiri,” ujar Dony.

PT Dirgantara Indonesia, Pindad dan PAL Indonesia merupakan bagian dari ekosistem industri pertahanan nasional bersama Dahana. Pemerintah memilih tidak menyeragamkan penyelesaian masalah maupun strategi bisnis karena karakter produk, kondisi keuangan dan potensi pasar masing-masing perusahaan berbeda.

“Jangan disatuin nanti. Supaya nanti bisa fokus, karena market-nya bagus,” lanjutya.

Pendekatan tersebut sejalan dengan agenda BP BUMN yang tengah mendorong penataan serta penguatan kinerja perusahaan negara. Secara konsolidasi, pendapatan BUMN pada 2024 mencapai Rp3.142 triliun, sehingga peningkatan produktivitas aset dan kualitas bisnis menjadi salah satu perhatian pemerintah dalam pengelolaan perusahaan negara.

Target Rp2 Triliun Bergantung pada Kapasitas dan Pasar

Dahana bergerak di bisnis bahan peledak komersial untuk pertambangan, kuari, konstruksi dan migas, sekaligus memasok produk terkait industri pertahanan. Perusahaan memiliki Energetic Material Center di Subang yang menaungi berbagai fasilitas produksi dan pengembangan teknologi bahan peledak.

Karena itu, target laba Rp2 triliun akan sangat bergantung pada kemampuan Dahana memperbesar volume produksi sekaligus memastikan tambahan kapasitas tersebut terserap pasar. Ekspansi ekspor, pembangunan fasilitas energetic material, peningkatan utilisasi melalui ekosistem Danantara, serta permintaan dari industri pertambangan dan pertahanan akan menjadi faktor utama.

Bagi pemerintah, Dahana saat ini ditempatkan dalam kelompok BUMN yang memiliki fundamental cukup sehat untuk diperbesar, bukan direstrukturisasi. Jika target 2030 terealisasi, laba perusahaan akan melonjak hampir empat kali dibandingkan pencapaian 2025 dan menempatkan Dahana pada skala bisnis yang jauh lebih besar di dalam Holding DEFEND ID.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai dony oskaria, BP BUMN, Industri, dan pertahanan dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.