Batam Kini Bisa Rawat Mesin Pesawat, Kemenhub Dorong Indonesia Jadi Kekuatan MRO Regional
Kemenhub resmi memberikan sertifikat AMO kepada Batam Aero Engine sehingga perawatan mesin pesawat dan APU kini dapat dilakukan di Batam dan membuka peluang penghematan devisa dan...

Periskop.id – Industri penerbangan nasional memasuki babak baru setelah Kementerian Perhubungan (Kemenhub) resmi memberikan sertifikasi Approved Maintenance Organization (AMO) kepada PT Batam Aero Engine (BAE). Dengan sertifikat tersebut, perawatan dan perbaikan mesin pesawat beserta Auxiliary Power Unit (APU) kini dapat dilakukan di Batam, Kepulauan Riau, sehingga mengurangi ketergantungan terhadap fasilitas perawatan di luar negeri sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat maintenance, repair and overhaul (MRO) di kawasan.
Direktur Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKPPU) Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub, Sokhib Al Rokhman mengatakan, sertifikat AMO 145D111 menjadi bukti bahwa PT Batam Aero Engine telah memenuhi seluruh persyaratan keselamatan, kualitas, dan standar kelaikudaraan yang ditetapkan dalam regulasi penerbangan sipil.
“Hari ini kita bersyukur dapat meresmikan terbitnya sertifikat AMO 145D111. Penerbitan sertifikat ini mengafirmasikan bahwa PT Batam Aero Engine telah memenuhi seluruh persyaratan keselamatan, kualitas dan standar kelaikudaraan," tuturnya, Rabu (19/8).
Sertifikasi tersebut memberikan kewenangan kepada BAE untuk melaksanakan perawatan dan perbaikan mesin pesawat maupun APU di dalam negeri. Kehadiran fasilitas ini dinilai menjadi langkah strategis untuk memperkuat kemandirian industri penerbangan nasional yang selama ini masih mengandalkan sejumlah fasilitas perawatan di luar negeri.
Sokhib menegaskan, Indonesia harus terus memperluas kemampuan perawatan pesawat secara mandiri. Kita harus merdeka untuk melakukan perawatan airframe 100 persen dalam negeri. Ini dimulai oleh dengan fasilitas BAE di Batam Aero Technic," ucapnya.
PT Batam Aero Engine sendiri merupakan bagian dari ekosistem Batam Aero Technic (BAT) milik Lion Group yang berlokasi di Nongsa, Batam. Berbeda dengan fasilitas MRO lainnya yang menangani berbagai komponen pesawat, BAE difokuskan khusus pada perawatan mesin pesawat dan APU.
Alternatif Perawatan di Dalam Negeri
Presiden Direktur Lion Group sekaligus Direktur Utama PT Batam Teknik/Batam Aero Technic, Capt. Daniel Putut Kuncoro Adi mengatakan, kehadiran BAE akan mengubah pola perawatan mesin pesawat yang sebelumnya banyak dilakukan di luar negeri. “Semua fasilitas MRO itu sama, tapi pesawat kan banyak komponennya. BAE ini khusus mesin pesawat dan APU,” jelasnya.
Ia menambahkan, sertifikasi dari Kemenhub membuat maskapai kini memiliki alternatif melakukan perawatan mesin di dalam negeri. “Sehingga yang biasanya mesin-mesin pesawat ini dirawat di luar, Batam Aero Engine sudah mempunyai kapabilitas untuk bisa dilaksanakan di Indonesia, khususnya di Batam,” tuturnya.
Menurut Daniel, kemampuan tersebut bukan hanya berpotensi mengurangi devisa yang keluar akibat perawatan pesawat di luar negeri, tetapi juga membuka peluang masuknya devisa baru apabila maskapai asing mempercayakan perawatan armadanya di Batam.
Langkah ini juga sejalan dengan pengembangan Batam Aero Technic dalam beberapa tahun terakhir. Pada November 2025, BAT meresmikan Hanggar F yang meningkatkan kapasitas menjadi tujuh hanggar aktif dengan kemampuan menangani hingga 27 pesawat secara bersamaan. Saat itu Daniel menegaskan, “Kehadiran seluruh sertifikasi ini memperkuat BAT sebagai MRO kelas dunia. Dengan peresmian Hanggar F, kami ingin kemampuan BAT semakin dipercaya," ucapnya.
Dari sisi ekonomi daerah, pengembangan industri MRO diperkirakan memberikan efek berganda melalui penciptaan lapangan kerja, peningkatan keterampilan tenaga kerja, hingga pertumbuhan konsumsi masyarakat.
Kepala Badan Pengusahaan (BP) Batam Amsakar Achmad mengatakan, saat ini ekosistem Batam Aero Technic telah mempekerjakan sekitar 5.000 orang. “Pengembangan yang dilakukan oleh Batam Aero Technic akan memberi multiplier effect kepada Batam. Karyawan yang direkrut otomatis memiliki skill, mendapatkan gaji sesuai kompetensi dan standar. Ini akan memberi efek ganda terhadap ekonomi Batam dalam sektor konsumsi rumah tangga misalnya,” ungkapnya.
Prospek tersebut dinilai semakin kuat karena kondisi ekonomi Batam juga terus menunjukkan tren positif. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat perekonomian Kota Batam pada 2025 tumbuh 6,76%, dengan nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku mencapai sekitar Rp253,64 triliun. Kinerja tersebut menempatkan Batam sebagai salah satu motor pertumbuhan ekonomi di Kepulauan Riau dan memperkuat daya tariknya sebagai kawasan industri dan investasi.
Dengan terbitnya sertifikasi AMO bagi Batam Aero Engine, pemerintah berharap Indonesia tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan perawatan mesin pesawat domestik, tetapi juga berkembang menjadi tujuan layanan MRO bagi maskapai internasional. Langkah ini diharapkan memperkuat daya saing industri aviasi nasional sekaligus meningkatkan kontribusi sektor penerbangan terhadap perekonomian Indonesia.
Baca berita dan informasi lainnya mengenai Batam, dan pesawat dengan mengeklik tautan.



Komentar (0)
Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.
Belum ada komentar.