Periskop.id - Minat masyarakat terhadap usaha budidaya lobster di wilayah Kepulauan Riau mulai menunjukkan peningkatan seiring pengembangan teknologi budidaya yang dilakukan pemerintah dalam beberapa tahun terakhir. Balai Perikanan Budidaya Laut (BPBL) Batam menyebut, pengembangan sistem modeling budidaya lobster mulai menarik perhatian pembudidaya karena dinilai memiliki potensi ekonomi besar dan peluang pasar yang masih terbuka lebar.
Kepala BPBL Batam Ipong Adi Guna mengatakan, kondisi perairan di Kepulauan Riau, khususnya Batam, sangat mendukung pengembangan budidaya lobster secara berkelanjutan. “Secara teknis, kualitas perairan di Kepri dan Batam cukup baik untuk kegiatan budidaya lobster. Hal ini sudah kami lakukan melalui pengembangan modeling budidaya lobster di BPBL Batam dan hasilnya berjalan baik,” ujarnya saat dihubungi di Batam, Sabtu (23/5).
Menurut Ipong, hingga kini tercatat terdapat 13 pembudidaya lobster di wilayah kerja BPBL Batam yang meliputi Kepulauan Riau, Riau, dan Sumatera Barat yang sudah memiliki izin usaha dan terverifikasi.
Meski demikian, pengembangan budidaya lobster berbasis modeling dari benih bening lobster (BBL) hingga ukuran konsumsi masih didominasi BPBL Batam. Teknologi tersebut dinilai masih relatif baru sehingga belum banyak diterapkan masyarakat secara luas. “Kegiatan modeling budidaya lobster ini baru berjalan sekitar dua tahun sehingga masyarakat masih banyak yang belum menerapkannya,” tuturnya.
Selama ini, sebagian besar pembudidaya di masyarakat masih menjalankan pola pembesaran lobster secara tradisional, menggunakan benih hasil tangkapan alam. “Pembesaran lobster di masyarakat umumnya masih tradisional dengan menggunakan benih tangkapan alam, bukan dari BBL hasil modeling,” ujarnya.
BPBL menilai prospek usaha budidaya lobster di Batam dan wilayah sekitarnya masih sangat besar. Tingginya permintaan pasar terhadap lobster konsumsi menjadi faktor utama yang mendorong pengembangan sektor tersebut. “Kalau usaha budidaya lobster terus ditingkatkan, peluang memenuhi kebutuhan pasar juga semakin besar,” kata Ipong.
Dari sisi ekonomi, bisnis benih lobster juga memiliki nilai jual yang cukup tinggi. BPBL mencatat harga benih bening lobster di tingkat nelayan penangkap berada pada kisaran Rp8.500 hingga Rp10 ribu per ekor. “Di tingkat pengepul harga mencapai Rp12 ribu hingga Rp14 ribu per ekor di luar biaya pengiriman. Untuk pasar luar negeri sebelumnya bisa berkisar Rp20 ribu sampai Rp25 ribu per ekor,” tuturnya.
Perdagangan Benih Lobster
Untuk diketahui, saat ini, pemerintah kini memperketat aturan perdagangan benih lobster. Berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 5 Tahun 2026, benih bening lobster hanya diperbolehkan untuk kebutuhan budidaya di dalam negeri dan dilarang untuk diekspor. Tingginya permintaan dari luar negeri, membuat praktik penyelundupan BBL masih marak terjadi, terutama melalui jalur laut di wilayah perbatasan.
“Permintaan dari luar negeri sangat besar, sementara penangkapan BBL dibatasi kuota oleh pemerintah sehingga praktik penyelundupan masih sering terjadi,” ujarnya.
Kasus terbaru terjadi pada Rabu (21/5), ketika Polda Kepulauan Riau menggagalkan upaya penyelundupan sekitar 122 ribu ekor benih bening lobster dari Batam yang diduga akan dikirim ke luar negeri. Praktik penyelundupan BBL memang kerap menjadi perhatian aparat karena dinilai dapat mengganggu keberlanjutan sumber daya lobster nasional.
Saat itu, Kabid Humas Polda Kepri Komisaris Besar Polisi Nona Pricillia Ohei dalam keterangan resmi di Batam, Kamis mengatakan dalam kasus tersebut pihaknya mengamankan dua terduga pelaku berinisial SS dan DS. Ia menyebut motif penyelundupan dilakukan untuk mendapatkan keuntungan pribadi, sementara negara dirugikan akibat pengiriman ilegal sumber daya laut tersebut. “Kerugian negara diperkirakan mencapai Rp10 miliar,” cetusnya.
Kementerian Kelautan dan Perikanan sebelumnya juga menegaskan, kebijakan larangan ekspor BBL, bertujuan menjaga populasi lobster di alam sekaligus memperkuat industri budidaya dalam negeri agar memiliki nilai tambah ekonomi yang lebih besar.
Selain melakukan pengembangan teknologi budidaya, BPBL Batam juga terus melakukan pembinaan kepada masyarakat melalui sosialisasi, konsultasi teknis, hingga koordinasi dengan dinas terkait untuk memperbarui data pembudidaya lobster di wilayah Kepulauan Riau dan sekitarnya.
Pengembangan budidaya lobster sendiri menjadi salah satu fokus pemerintah dalam meningkatkan ekspor hasil perikanan budidaya nasional, sekaligus mengurangi ketergantungan pada hasil tangkapan laut liar.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar