Periskop.id - Kepala International Atomic Energy Agency (IAEA) Rafael Grossi menegaskan, inspektur nuklir PBB wajib mendapat akses ke Iran sesuai kesepakatan damai sementara antara Amerika Serikat dan Teheran. Hal itu dilaporkan Reuters, mengutip pernyataan pejabat tinggi PBB.

Grossi mengungkapkan, pihaknya berharap bisa segera memasuki Iran. Para inspektur PBB, menurutnya, sudah menggelar pertukaran awal dengan pejabat Iran untuk membahas urusan teknis terkait rencana kunjungan tersebut.

"Ada kesepakatan dan untuk mematuhi kesepakatan itu, IAEA harus memiliki akses dan melakukan inspeksi," kata Grossi dalam konferensi pers di Jepang, Jumat (26/6).

Grossi merinci, prioritas utama kunjungan pertama ke Iran adalah memverifikasi apakah segel IAEA pada material yang sudah diperiksa sebelumnya masih terjaga. Tim inspektur juga akan mengecek apakah ada material yang hilang.

Namun, Iran belum memberitahu IAEA berapa banyak uranium yang diperkaya yang berhasil selamat dari serangan AS dan Israel, termasuk lokasi penyimpanannya saat ini.

IAEA memperkirakan Iran mengantongi 440,9 kg uranium yang diperkaya hingga 60% sebelum konflik meletus. Jika diperkaya lebih lanjut, jumlah itu setara bahan baku 10 senjata nuklir berdasarkan tolok ukur lembaga tersebut.

Di sisi lain, Teheran sebelumnya mengisyaratkan situs-situs strategis akan tetap tertutup hingga kesepakatan akhir dengan Washington tercapai dan sanksi dicabut. Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menyampaikan pada Rabu (24/6), tidak ada rencana untuk memberikan akses kepada inspektur.

Sikap Teheran itu kini berhadapan langsung dengan desakan kuat IAEA. AS dan Iran pekan lalu menandatangani nota kesepahaman yang membuka jalan bagi 60 hari pembicaraan guna menyelesaikan sejumlah persoalan pelik, termasuk program nuklir Iran.

Grossi menekankan, sistem verifikasi yang kokoh menjadi syarat mutlak agar kesepakatan ini tidak sekadar berhenti di tataran niat.

"Niat saja tidak cukup. Harus ada sistem verifikasi yang sangat kuat," tegasnya.