Tewaskan 586 Orang, Jasad Korban Banjir Nepal Terseret hingga India
Ribuan orang masih hilang akibat banjir bandang dan longsoran gletser di Himalaya, sebagian jasad korban ditemukan terseret hingga ke India.

Periskop.id - Tim penyelamat di Nepal dan China terus berupaya mencari ribuan korban hilang akibat banjir bandang dan longsoran gletser yang menerjang kawasan Himalaya. Hingga Jumat (28/8) malam, jumlah orang hilang tercatat melonjak menjadi lebih dari 2.400 jiwa, sementara 586 jasad ditemukan tewas, sebagian di antaranya terseret arus hingga ke wilayah India.
Otoritas penanggulangan bencana Nepal menambahkan 933 pekerja pembangkit listrik tenaga air ke dalam daftar orang hilang. Angka tersebut melengkapi data sebelumnya yang sudah mencakup para pendaki dan peziarah yang tengah menuju Gunung Kailash di Tibet, lokasi yang dianggap suci.
"Semua permukiman di dekat sungai tersapu. Tidak ada yang tersisa," kata salah satu korban selamat, Buddhi Ram Dangol, kepada AFP.
Para penyintas mengaku kehilangan segalanya dan kini harus menanti kabar orang-orang terdekat yang masih belum ditemukan. Tim darurat dikabarkan berpacu mengevakuasi korban selamat dari wilayah terdampak karena persediaan makanan dan air mulai menipis.
Pencarian korban hilang semakin sulit akibat kekhawatiran banjir susulan. Luapan air yang membawa bongkahan es dan lumpur membentuk danau-danau besar baru, salah satunya kini mengancam langsung petugas darurat yang menyisir wilayah pencarian.
Kepolisian Nepal meminta seluruh tim penyelamat segera berpindah ke lokasi aman menyusul laporan bendungan air kembali jebol di sisi Tibet. Otoritas China bahkan sempat menghentikan sementara operasi penyelamatan di Gyirong, wilayah paling parah terdampak, karena risiko banjir susulan, sebelum menyatakan ancaman itu mereda.
Xinhua, kantor berita pemerintah China, melaporkan pada Sabtu pagi bahwa dua warga desa berhasil diselamatkan di kawasan tersebut.
Di sisi perbatasan Nepal, militer menemukan sejumlah orang terjebak di dalam terowongan proyek pembangkit listrik tenaga air Trishuli 3A. Tim gabungan tengah mencari jalan masuk untuk mengevakuasi para penyintas yang masih berada di dalamnya.
"Dua helikopter telah dikerahkan, tetapi situasinya sulit karena bahkan menemukan titik masuk terowongan saja sangatlah sulit," kata juru bicara militer Raja Ram Basnet kepada AFP.
Basnet menyebutkan sekitar 350 pekerja dan warga telah dievakuasi ke lokasi aman dari kawasan tersebut. Ia menambahkan, upaya penyelamatan masih berlangsung untuk lebih dari 100 orang yang masih terjebak di lokasi yang sama.
Buddha Tamang, pekerja lain yang selamat, mengaku lolos dari bencana karena tengah berada di dalam terowongan bendungan tempatnya bekerja saat banjir menerjang. Ia dievakuasi menggunakan helikopter pada Kamis, setelah terisolasi lebih dari 24 jam di lokasi kejadian.
Sejumlah negara mulai mengulurkan bantuan dalam beberapa hari terakhir. Kanada menjanjikan bantuan kemanusiaan senilai US$3,6 juta atau setara Rp63,9 miliar untuk mendukung upaya darurat di Nepal, sementara Uni Eropa menawarkan bantuan senilai US$2,3 juta atau sekitar Rp40,8 miliar.
Banjir bandang dan tanah longsor ini menerjang Nepal sejak Rabu (26/8). Laporan awal menyebutkan bencana dipicu gempa bumi yang mengakibatkan longsoran es dan batuan di Sungai Lhende Khola, sungai yang melintasi wilayah Nepal dan Tibet.
Analisis lanjutan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) justru menunjukkan tidak ada gempa bumi sebelum insiden tanah longsor dan banjir bandang terjadi.
"Para pejabat senior yang bekerja di sisi lain, mereka semua tersapu," kata Tamang.
Baca berita dan informasi lainnya mengenai United States Geological Survey (USGS), banjir bandang, dan Nepal dengan mengeklik tautan.

Komentar (0)
Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.
Belum ada komentar.