Kebudayaan

Museum NTB Selamatkan Artefak yang Tersisa dari Kebakaran Dusun Adat Sade,

Museum NTB menyelamatkan artefak tersisa dari kebakaran Dusun Adat Sade yang menghanguskan 75 rumah adat, manuskrip, dan peralatan tenun

1 hari yang lalu · 5 mnt baca
Museum NTB Selamatkan Artefak yang Tersisa dari Kebakaran Dusun Adat Sade,
Petugas Museum NTB mengumpulkan benda-benda bernilai sejarah dan budaya dari sisa reruntuhan pasca kebakaran untuk kebutuhan pembangunan museum desa di Dusun Adat Sade, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, Senin (25/8/2026). dok. Museum NTB
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Kebakaran besar di Dusun Adat Sade, Lombok Tengah, tidak hanya menghanguskan puluhan rumah tradisional, tetapi juga mengancam hilangnya jejak sejarah masyarakat Sasak. Museum Nusa Tenggara Barat (NTB) kini mengamankan artefak yang masih dapat ditemukan di antara puing-puing, mulai dari sisa peralatan tenun, kain tradisional, perkakas rumah tangga hingga benda pangan.

Langkah penyelamatan dilakukan sebelum proses pembersihan kawasan semakin intensif. Museum NTB telah dua kali mendatangi lokasi untuk menginventarisasi benda-benda bernilai sejarah dan budaya yang masih tersisa setelah kebakaran pada Sabtu (22/8/2026) malam.

"Kami sudah menyampaikan dan meminta izin kepada kepala dusun dan pokdarwis (kelompok sadar wisata) untuk mengumpulkan beberapa artefak yang terkait dengan kebakaran," ujar Kepala Museum NTB Ahmad Nuralam di Mataram, Rabu (26/8/2026).

Kebakaran mengakibatkan sejumlah benda budaya hilang atau mengalami kerusakan berat. Salah satu kehilangan yang dinilai penting adalah peralatan menenun berusia lebih dari 100 tahun. Sejumlah manuskrip, kain tenun, serta berbagai peralatan rumah tangga lama juga ikut terdampak.

Museum NTB bahkan mengumpulkan benda-benda yang sekilas tampak sederhana, seperti gabah, jagung, tampi hingga bagian dari ceret. Dalam kajian museum dan kebudayaan, benda keseharian tersebut dapat menjadi dokumentasi material, mengenai cara hidup masyarakat Sade sebelum kebakaran.

"Kami mengumpulkan cukup banyak benda yang berkaitan dengan tenun yang terbakar, peralatan rumah tangga, beras, jagung, tampi, termasuk ujung ceret yang juga terbakar," kata dia.

Empat Kain Tenun hingga Naskah Lontar Ikut Terdampak

Pamong Budaya Museum NTB Gusti Ayu Sri Astiti mengatakan tim berhasil mengamankan empat lembar kain tenun yang rusak akibat kebakaran. Kain tersebut masing-masing memiliki motif subahnale, pucuk rebung, geometris, dan cerbon sasak.

Salah satu motif mempunyai keterkaitan erat dengan kehidupan sosial masyarakat setempat.

"Motif cerbong sasak adalah motif tenun khas Dusun Adat Sade. Motif itu melambangkan simbol gotong royong atau kebersamaan, serta keharmonisan," kata dia.

Kerugian budaya juga menyentuh manuskrip tradisional. RRI melaporkan naskah lontar Rengganis termasuk benda yang terbakar, meski sejumlah fragmennya masih ditemukan warga di antara puing. Naskah tersebut selama ini memiliki keterkaitan dengan kegiatan adat, termasuk perkawinan, ngurisan, dan sunatan. Alat musik tradisional Gendang Beleq juga dilaporkan ikut terbakar.

Dinas Kebudayaan NTB sejak sehari setelah kejadian sebenarnya telah memulai inventarisasi bukan hanya terhadap benda fisik, tetapi juga pengetahuan, cerita, dan tradisi masyarakat yang berpotensi terdampak.

"Bagian terpenting adalah menyelamatkan artefak-artefak kebudayaan, termasuk cerita-cerita warga setempat," ujar Kepala Dinas Kebudayaan NTB Muhamad Ihwan.

Langkah tersebut menjadi penting karena Sade bukan sekadar kawasan permukiman. Situs resmi pariwisata Indonesia mencatat masyarakat Sade telah mempertahankan tradisi selama sekitar 15 generasi. Sebelum kebakaran, kawasan itu memiliki sekitar 150 rumah adat dan dihuni sekitar 750 penduduk yang masih memiliki hubungan kekerabatan.

Rumah-rumah tersebut dikenal menggunakan material tradisional seperti kayu, anyaman bambu, tanah liat, dan atap alang-alang. Karakter material itu menjadi bagian dari identitas arsitektur Sasak, tetapi sekaligus membuat permukiman rentan ketika api muncul.

75 Rumah Adat dan 69 Art Shop Terdampak

Pendataan Pemerintah Provinsi NTB bersama Balai Pelestarian Kebudayaan dan masyarakat menemukan sekitar 75 rumah tradisional, satu masjid, 10 berugak, satu Bale Beleq, sejumlah lumbung alang-alang, serta sekitar 69 art shop terdampak kebakaran.

Jika dibandingkan dengan data pariwisata yang mencatat sekitar 150 rumah adat sebelum kejadian, kebakaran tersebut menyentuh bagian sangat besar dari lanskap permukiman tradisional Sade. Meski demikian, jumlah akhir bangunan yang rusak masih dalam proses verifikasi.

Bupati Lombok Tengah Lalu Pathul Bahri pada Selasa (25/8/2026) mengatakan data sekitar 75 rumah masih akan diperiksa kembali sebelum digunakan sebagai dasar pembangunan.

“Rumah adat yang habis terbakar itu semuanya ada sekitar 75 rumah. Tetapi setelah dilakukan verifikasi kembali jumlahnya bisa berubah. Data itu masih akan divalidasi kembali,” kata Pathul.

Pemkab Lombok Tengah sebelumnya memperkirakan kerugian material akibat kebakaran berada di kisaran Rp34 miliar berdasarkan penghitungan sementara bersama berbagai instansi.

Sementara mengenai penyebab kebakaran, polisi belum menarik kesimpulan. Tim Laboratorium Forensik bersama Polda NTB dan Polres Lombok Tengah telah melakukan olah tempat kejadian perkara untuk menentukan sumber api secara ilmiah dan mencocokkannya dengan keterangan para saksi.

Sejumlah saksi sebelumnya menyebut api pertama terlihat dari salah satu rumah di tengah permukiman sebelum cepat menjalar ke bangunan lain yang menggunakan kayu, bambu, dan alang-alang. Keterangan tersebut masih menjadi bagian dari penyelidikan sehingga belum dapat disebut sebagai kesimpulan penyebab kebakaran.

Sade Akan Dibangun Kembali, Nilai Adat Dipertahankan

Pemerintah kini mulai bergerak dari fase tanggap darurat menuju pemulihan. Pemkab Lombok Tengah pada Rabu mengonfirmasi telah berkoordinasi dengan Kementerian Sosial untuk pembangunan kembali rumah-rumah adat Sade.

Rekonstruksi tidak hanya ditujukan untuk mengganti bangunan yang hilang. Pemkab juga ingin mengevaluasi tata ruang permukiman, akses kendaraan dan petugas ketika terjadi kondisi darurat, serta penggunaan material bangunan tanpa menghilangkan karakter tradisional Sade.

Dinas Kebudayaan NTB bersama Balai Pelestarian Kebudayaan, Pemkab Lombok Tengah, dan para tetua adat juga akan menyusun rencana penataan kembali setelah proses inventarisasi selesai.

"Kami mengajak masyarakat sebagai pemilik kebudayaan untuk berpikir bersama bagaimana langkah supaya Kampung Adat Sade tidak hilang mengingat kawasan ini terkenal secara internasional," kata Muhamad Ihwan.

Penyelamatan artefak menjadi bagian awal dari pekerjaan tersebut. Benda yang berhasil diamankan dapat digunakan untuk mendokumentasikan kondisi Sade sebelum bencana sekaligus menjadi referensi ketika masyarakat dan pemerintah menyusun proses pemulihan.

Dengan puluhan rumah tradisional serta beragam benda budaya telah hilang, tantangan pembangunan kembali Sade bukan hanya mendirikan bangunan baru, tetapi memastikan arsitektur, tradisi menenun, manuskrip, pengetahuan lokal, hingga nilai sosial masyarakat Sasak tetap hidup setelah kebakaran. 

Baca berita dan informasi lainnya mengenai museum, kebakaran, dan Nusa Tenggara Barat (NTB) dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.