iklan periskop
Pariwisata

Paspor Museum Jadi Cara Baru Berwisata dan Mengoleksi Jejak Budaya

Museum Passport hadir sebagai inovasi baru Kementerian Kebudayaan, mengajak generasi muda menjadikan kunjungan museum sebagai gaya hidup berbudaya.

3 bulan yang lalu · 2 mnt baca
Paspor Museum Jadi Cara Baru Berwisata dan Mengoleksi Jejak Budaya
Kepala MCB Esti Nurjadin menunjukkan Museum Passport saat ditemui usai gelaran “Orasi Hari Museum Internasional” di Jakarta, Senin (18/5/2026). ANTARA/Sinta Ambarwati
Ukuran teks
Sedang

periskop.id - Kementerian Kebudayaan melalui unit Museum dan Cagar Budaya (MCB) memperkenalkan inovasi baru berupa Museum Passport lengkap dengan cap khusus sebagai cara segar mengajak masyarakat berwisata ke museum. Program ini diluncurkan bertepatan dengan peringatan Hari Museum Internasional di Jakarta.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon menekankan pentingnya menjadikan kunjungan ke museum sebagai bagian dari gaya hidup. 

“Semoga Museum Passport ini dapat menjadi langkah awal, langkah inovatif menjadikan pengunjung mengunjungi museum. Itu harus kita jadikan gaya hidup, seperti orang datang ke mal atau ke mana. Datang ke museum harus kita jadikan gaya hidup yang berbudaya,” ujarnya dilansir dari Antara, Senin (18/5).

Museum Passport akan resmi dirilis pada 16 Juni, bertepatan dengan hari jadi MCB. Hingga kini, tercatat 18 museum dan 34 cagar budaya di bawah naungan MCB yang siap menyediakan cap unik untuk pengunjung. Setiap museum dapat menghadirkan desain cap berbeda, sehingga pengalaman mengoleksi cap menjadi lebih personal. Kepala MCB Esti Nurjadin juga membuka peluang bagi museum swasta untuk ikut serta dalam program ini.

Paspor tersebut dapat dibeli di IHA Shop maupun toko suvenir MCB, dan ke depan akan didistribusikan melalui jaringan toko buku. Produk ini merupakan hasil kerja sama dengan Paperina, dengan target utama generasi muda. 

Berdasarkan survei MCB tahun 2025, kelompok usia Gen Z dan Alpha mendominasi kunjungan museum, sehingga pendekatan analog berupa cap fisik dinilai relevan dengan minat mereka terhadap aktivitas koleksi.

Esti menjelaskan, ide ini terinspirasi dari tradisi mengumpulkan cap dalam berbagai kegiatan. 

“Kegiatan itu relevan dengan generasi Z dan Alpha, yang menggemari sesuatu yang bersifat analog sehingga bisa disimpan dan menjadi koleksi,” katanya. 

Konsep ini sejalan dengan tren internasional, di mana sejumlah negara seperti Jepang dan Korea Selatan telah lama menggunakan sistem cap di museum maupun situs bersejarah untuk meningkatkan interaksi pengunjung.

Selain menjadi sarana rekreasi, Museum Passport juga diharapkan berfungsi sebagai media edukasi. Dengan mengoleksi cap dari berbagai museum, pengunjung dapat terdorong untuk menjelajahi keragaman sejarah dan budaya Indonesia. 

Inovasi ini sekaligus mendukung strategi pemerintah dalam meningkatkan literasi budaya dan memperluas partisipasi publik terhadap pelestarian warisan bangsa.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai kebudayaan, museum, dan wisata dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.