periksop.id - Chief Economist Bank Permata Josua Pardede menilai pelemahan nilai tukar rupiah dalam beberapa waktu terakhir tidak hanya dipengaruhi oleh faktor eksternal, tetapi juga mencerminkan sejumlah tantangan domestik yang menjadi perhatian pelaku pasar.
Menurut Josua, dari sisi global, tekanan terhadap rupiah masih dipicu oleh kuatnya dolar AS seiring ekspektasi suku bunga Amerika Serikat yang bertahan tinggi, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS, serta tingginya harga minyak dunia akibat ketegangan geopolitik.
Kondisi tersebut mendorong investor global cenderung lebih berhati-hati terhadap aset negara berkembang, sehingga sejumlah mata uang Asia ikut mengalami tekanan.
Namun demikian, ia menilai pelemahan rupiah yang terjadi juga tidak terlepas dari faktor dalam negeri. Pasar, kata dia, masih mencermati arah kebijakan fiskal pemerintah, keberlanjutan beban subsidi energi, konsistensi koordinasi kebijakan fiskal dan moneter, independensi Bank Indonesia, serta kepastian regulasi yang memengaruhi iklim investasi dan pasar keuangan.
"Jadi, pelemahan rupiah bukan semata-mata karena fundamental ekonomi lemah, tetapi karena pasar sedang meminta premi risiko yang lebih tinggi terhadap aset Indonesia," kata Josua kepada Periskop, Senin (8/6).
Meski demikian, ia menilai Bank Indonesia masih memiliki ruang untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Cadangan devisa yang memadai, inflasi yang tetap terkendali, dan likuiditas perbankan yang cukup menjadi modal penting bagi bank sentral dalam meredam gejolak di pasar keuangan.
"Namun, setiap pilihan kebijakan punya biaya. Jika terlalu banyak menggunakan cadangan devisa untuk intervensi, bantalan eksternal bisa tergerus," ujarnya.
Josua mengingatkan bahwa ruang kebijakan tersebut tidak tanpa konsekuensi. Penggunaan cadangan devisa yang terlalu agresif berisiko mengurangi bantalan eksternal, sementara kenaikan suku bunga atau imbal hasil instrumen moneter secara berlebihan dapat menekan pertumbuhan kredit dan aktivitas ekonomi.
Karena itu, kebijakan BI perlu tetap terukur, cukup kuat untuk menahan gejolak rupiah, tetapi tidak berlebihan hingga memukul sektor riil.
Menurutnya, instrumen yang paling tepat saat ini bukan memilih satu antara intervensi valas, pembelian SBN, atau pengelolaan likuiditas, melainkan mengombinasikannya secara berjenjang.
Ia pun menyebut intervensi valas tetap perlu dilakukan untuk meredam gejolak harian dan mencegah pelemahan yang tidak tertib, tetapi bukan untuk mempertahankan satu level kurs tertentu. SRBI dan instrumen pasar uang perlu dijaga tetap menarik agar arus modal portofolio tidak keluar lebih jauh.
"Pembelian SBN dari pasar sekunder harus digunakan secara hati-hati untuk menjaga kelancaran pasar obligasi, bukan untuk menekan imbal hasil secara paksa," tambahnya.
Karena itu, menurutnya, langkah stabilisasi rupiah perlu dilakukan secara terukur agar mampu menjaga stabilitas tanpa mengganggu momentum pertumbuhan ekonomi.
"Dengan cara ini, stabilisasi rupiah tidak harus selalu dibayar mahal melalui kenaikan suku bunga yang berlebihan. BI juga perlu menjaga kredibilitas dengan memastikan seluruh intervensi, penerbitan SRBI, dan pembelian SBN memiliki tujuan yang jelas, yaitu menjaga stabilitas pasar, bukan menutupi risiko fiskal," tutupnya.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar