Periskop.id - Rupiah ditutup melemah 0,17% ke level Rp18.085 per US$ pada perdagangan Kamis (30/7). Pelemahan ini terjadi seiring penguatan dolar Amerika Serikat yang kembali menekan mayoritas mata uang Asia sore itu.

Indeks dolar AS tercatat naik 0,17% ke posisi 101,05. Kenaikan tersebut membuat hampir seluruh mata uang kawasan ikut tergerus.

Baht Thailand mencatat pelemahan paling dalam di antara mata uang Asia. Disusul peso Filipina, dolar Taiwan, yen Jepang, dolar Singapura, rupiah, dan rupee India yang juga terkoreksi.

Ringgit Malaysia dan dolar Hong Kong turut melemah, meski dalam rentang yang lebih terbatas dibanding mata uang lain di kawasan.

Di tengah tren pelemahan itu, won Korea Selatan justru menguat signifikan. Yuan China ikut naik, meski penguatannya jauh lebih tipis dibanding won.

Penguatan won ditopang langkah konversi mata uang yang dilakukan sejumlah perusahaan berpenghasilan dolar AS. SK Hynix disebut sebagai salah satu perusahaan yang melakukan konversi tersebut.

Tekanan terhadap mayoritas mata uang Asia dipicu sinyal hawkish dari bank sentral AS, The Fed. Gubernur The Fed Kevin Warsh memilih menahan suku bunga acuan, alih-alih menaikkannya, kendati inflasi AS masih jauh dari target 2% dan bertahan di kisaran 3,5%.

Dalam konferensi pers, Warsh menegaskan kondisi keuangan telah mengetat meski suku bunga tidak dinaikkan. Penegasan itu muncul di tengah pertanyaan pasar soal konsistensi kebijakan The Fed terhadap laju inflasi yang masih tinggi.

Saat ditanya alasan The Fed belum menaikkan suku bunga kendati inflasi bertahan di sekitar 3,5%, Warsh kembali menekankan bahwa lonjakan yield pasar telah memperketat kondisi keuangan secara alami.

Pernyataan tersebut menjadi sinyal bagi pelaku pasar bahwa The Fed menilai pengetatan sudah terjadi tanpa perlu kenaikan suku bunga tambahan. Sinyal itu yang kemudian mendorong penguatan dolar AS dan menekan mata uang di kawasan Asia, termasuk rupiah.