Periskop.id - Rupiah di pasar spot hari ini, Jumat (31/7), diprediksi masih tertekan dan bergerak defensif di bawah level Rp18.100 per dolar AS. Pelemahan ini melanjutkan tren kemarin, ketika rupiah memangkas sebagian penguatannya hingga ditutup di posisi Rp18.085 per dolar AS.
Ketidakpastian geopolitik menjadi pemicu utama tekanan terhadap rupiah dan mata uang Asia secara luas. Eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran turut mendorong harga minyak dunia bersiap mencatat kenaikan bulanan terbesar sejak Maret.
Harga minyak acuan Brent tercatat diperdagangkan di level US$89,69 per barel. Harga sempat berfluktuasi tajam kemarin hingga menyentuh US$93,14 per barel, sebelum akhirnya terkoreksi.
Pergerakan harga minyak mentah yang masih volatil ini turut membebani rupiah di pasar Non-Deliverable Forwards (NDF). Fluktuasi komoditas energi kerap jadi salah satu faktor yang memengaruhi arus modal ke mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.
Rupiah offshore pagi ini relatif defensif. Penguatannya terpangkas tersisa 0,03% ke level Rp18.090 per dolar AS pada pukul 07.50 WIB.
Padahal, sebelumnya rupiah offshore sempat melemah lebih dalam hingga menyentuh Rp18.140 per dolar AS pada pagi tadi. Pergerakan yang fluktuatif ini menandakan pasar masih mencerna dampak ketegangan geopolitik terhadap arus modal di kawasan.
Sementara itu, pergerakan mata uang kawasan Asia terpantau beragam pagi ini. Baht Thailand justru menguat 0,57%, menjadi mata uang dengan penguatan tertinggi di kawasan.
Ringgit Malaysia turut mencatat penguatan, meski lebih tipis di angka 0,2%. Kedua mata uang ini bergerak berlawanan arah dengan tren pelemahan yang dialami rupiah dan mayoritas mata uang Asia lainnya.
Di sisi lain, yen Jepang melemah 0,72% terhadap dolar AS, menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam pagi ini. Won Korea Selatan mengikuti dengan koreksi 0,69%.
Dolar Singapura juga tak luput dari tekanan, melemah 0,12% pada perdagangan pagi ini. Pelemahan mata uang kawasan secara umum sejalan dengan penguatan dolar AS di tengah ketidakpastian geopolitik global.
Ke depan, tekanan terhadap rupiah dan mata uang Asia lainnya masih akan bergantung pada perkembangan lebih lanjut ketegangan AS-Iran serta pergerakan harga minyak dunia dalam beberapa hari ke depan.
Tinggalkan Komentar
Komentar