Bukan Sekadar Hawkish-Dovish, Destry Disebut Figur Kunci Masa Depan BI
Ekonom menilai Destry Damayanti sebagai sosok central banker adaptif yang tepat memimpin BI di tengah perubahan ekonomi global.

Periskop.id - Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian menilai Destry Damayanti merupakan sosok yang tepat untuk memimpin Bank Indonesia (BI) karena memiliki karakter sebagai bankir sentral yang adaptif, bukan sekadar dikategorikan sebagai sosok hawkish maupun dovish.
Penilaian tersebut disampaikan Fakhrul menyusul keputusan Presiden Prabowo Subianto mengusulkan Destry sebagai calon tunggal Gubernur BI. Menurutnya, pengalaman Destry di berbagai sektor membuatnya memiliki pemahaman yang utuh mengenai kebijakan moneter, respons pasar keuangan, hingga upaya menjaga stabilitas sistem keuangan.
"Saya tidak melihat Ibu Destry sebagai seorang hawk ataupun dove. Saya melihat beliau sebagai seorang central banker yang adaptif dan berorientasi pada stabilitas dengan tetap menjaga momentum pertumbuhan," ujar Fakhrul dalam keterangan yang diterima, Senin (10/8).
Menurut Fakhrul, pendekatan Destry selama berada di jajaran Dewan Gubernur BI menunjukkan sikap pragmatis dalam merespons dinamika ekonomi. Kebijakan dapat diarahkan lebih tegas ketika kredibilitas moneter dan stabilitas rupiah membutuhkan respons, namun tetap memperhatikan dampaknya terhadap perekonomian domestik.
"Ketika kondisi membutuhkan kebijakan yang tegas untuk menjaga kredibilitas dan stabilitas pasar, beliau mendukung langkah tersebut. Namun ketika stabilitas mulai terbentuk, fokus berikutnya tentu memastikan likuiditas dan transmisi kebijakan dapat kembali mendukung sektor riil untuk pertumbuhan ekonomi," jelasnya.
Fakhrul menilai karakter tersebut semakin penting karena tantangan yang akan dihadapi BI ke depan tidak lagi sama seperti ketika kerangka inflation targeting pertama kali dibangun lebih dari dua dekade lalu.
Perubahan teknologi, kecerdasan buatan (AI), digitalisasi, fragmentasi perdagangan global, perubahan rantai pasok, transisi energi, perubahan demografi, hingga meningkatnya ketidakpastian geopolitik telah mengubah cara perekonomian bekerja.
"Dunia yang akan dihadapi Gubernur BI berikutnya bukan lagi dunia ketika inflasi dan suku bunga menjadi satu-satunya variabel utama yang menentukan arah ekonomi. Kita sedang memasuki periode ketika AI mengubah produktivitas, digitalisasi mengubah sistem pembayaran, deglobalisasi mengubah rantai pasok, dan geopolitik mengubah arah arus modal global," kata Fakhrul.
Karena itu, menurut dia, bank sentral perlu memiliki kemampuan membaca perubahan struktural dalam jangka panjang, bukan hanya merespons fluktuasi ekonomi dalam jangka pendek.
"Perubahan yang sedang terjadi bukan sekadar perubahan siklus ekonomi, tetapi perubahan struktur ekonomi dunia. Karena itu, bank sentral harus mampu membaca perubahan jangka panjang, bukan hanya mengelola fluktuasi jangka pendek," ujarnya.
Selain kemampuan beradaptasi, Fakhrul menilai pengalaman Destry menjadi modal penting untuk menghadapi tantangan tersebut. Destry memiliki pengalaman dari dunia akademik, pasar keuangan, perbankan, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), hingga lebih dari tujuh tahun berada di jajaran Dewan Gubernur BI.
"Menurut saya, Ibu Destry Damayanti adalah salah satu teknokrat moneter paling lengkap yang pernah dimiliki Indonesia. Beliau memahami teori ekonomi, dinamika pasar keuangan, stabilitas perbankan, hingga proses pengambilan kebijakan di Bank Indonesia," tutur Fakhrul.
Ia menambahkan, tantangan Gubernur BI ke depan tidak hanya berkaitan dengan penetapan suku bunga. Komunikasi kebijakan juga akan menjadi semakin penting di tengah ketidakpastian ekonomi global.
"Pasar tidak hanya membutuhkan keputusan yang tepat, tetapi juga membutuhkan pemahaman mengenai mengapa keputusan tersebut diambil, bagaimana berbagai instrumen digunakan secara bersama-sama, dan ke mana arah kebijakan berikutnya," katanya.
Menurut Fakhrul, BI saat ini memiliki instrumen kebijakan yang jauh lebih beragam dibandingkan masa lalu. Karena itu, komunikasi kebijakan juga perlu menjelaskan keseluruhan bauran kebijakan, mulai dari operasi moneter, pengelolaan likuiditas, kebijakan nilai tukar, instrumen makroprudensial hingga pendalaman pasar keuangan.
Fakhrul juga melihat pentingnya fase normalisasi likuiditas setelah periode stabilisasi. Menurutnya, stabilitas yang telah terjaga perlu diterjemahkan menjadi kondisi likuiditas yang lebih sehat, transmisi kebijakan yang semakin efektif, serta pembiayaan yang lebih kuat bagi sektor produktif.
"Bank sentral modern tidak berhenti pada stabilisasi. Tahap berikutnya adalah bagaimana stabilitas diterjemahkan menjadi likuiditas yang lebih sehat, kurva imbal hasil yang semakin normal, pembiayaan sektor produktif yang semakin efektif, serta meningkatnya kepercayaan dunia usaha untuk kembali berinvestasi," ujarnya.
Di sisi lain, Fakhrul menekankan bahwa independensi BI tetap harus menjadi fondasi utama kredibilitas kebijakan moneter. Namun, independensi tersebut tidak berarti BI harus bekerja sendiri.
Menurutnya, koordinasi antara kebijakan moneter, fiskal, sektor keuangan, dan sektor riil tetap diperlukan agar kebijakan ekonomi dapat memberikan dampak yang lebih efektif, dengan tetap menjaga mandat dan independensi masing-masing lembaga.
"Independensi dan koordinasi bukan dua hal yang saling bertentangan. Bank Indonesia harus tetap independen dalam mengambil keputusan sesuai mandatnya. Namun pada saat yang sama, koordinasi yang baik akan membuat setiap kebijakan memiliki efektivitas yang jauh lebih besar bagi perekonomian nasional," kata Fakhrul.
Fakhrul berharap kepemimpinan baru BI nantinya juga dapat memperkuat kapasitas riset strategis, khususnya dalam membaca perubahan struktural seperti AI, produktivitas, geopolitik, digitalisasi, ketahanan rantai pasok, demografi, dan transformasi sistem keuangan.
Ia menilai keberhasilan Gubernur BI ke depan tidak hanya diukur dari kemampuan menjaga inflasi dan nilai tukar, tetapi juga dari kemampuan membawa bank sentral beradaptasi dengan perubahan dunia tanpa kehilangan kredibilitas dan independensinya.
"Saya berharap Ibu Destry kelak tidak hanya dikenang sebagai Gubernur Bank Indonesia yang menjaga stabilitas. Saya berharap beliau dikenang sebagai Gubernur yang berhasil membawa Bank Indonesia memasuki fase baru bank sentral modern: tetap independen, komunikasinya semakin kuat, bauran kebijakannya semakin kaya, risetnya semakin visioner, dan mampu menjelaskan perubahan dunia kepada pasar maupun masyarakat," tutup Fakhrul.
Baca berita dan informasi lainnya mengenai Destry Damayanti, Bank Indonesia (BI), dan Gubernur Bank Indonesia dengan mengeklik tautan.



Komentar (0)
Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.
Belum ada komentar.