Komoditas

BRIN Sebut Indonesia Punya Modal Besar Jadi Pemain Utama Biogas Sawit

Indonesia berpotensi menghasilkan 3,6 miliar m³ biogas dari limbah sawit. Pengolahan POME dinilai mampu pangkas emisi dan dorong ekonomi.

1 minggu yang lalu · 2 mnt baca
BRIN Sebut Indonesia Punya Modal Besar Jadi Pemain Utama Biogas Sawit
Hasil panen buah kelapa sawit, di Pangkalan Bun Kalimantan Tengah, Periskop/Siti Ayu Rachma.
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengutarakan bahwa Indonesia mengantongi modal besar untuk mendominasi industri biogas berbasis limbah kelapa sawit. Potensi melimpah ini dinilai mampu memberikan nilai tambah secara ekonomi sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.

Peneliti BRIN Prof Dr Erma Yulihastin menyebutkan, ketersediaan bahan baku dari energi terbarukan ini tergolong sangat melimpah di tanah air. Menurutnya, pemanfaatan limbah cair kelapa sawit atau palm oil mill effluent (POME) memegang peranan bernilai strategis.

"Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan biogas dari palm oil mill effluent (POME) atau limbah cair kelapa sawit. POME merupakan sumber energi yang bernilai strategis, karena dapat diolah menjadi listrik, panas, maupun bahan bakar," ujar Erma dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (18/8).

Erma membeberkan, luas areal perkebunan sawit nasional saat ini mencapai 16,8 juta hektare dengan angka produksi tandan buah segar (TBS) berkisar 250 juta ton per tahun. Tiap satu ton TBS diyakini mampu menghasilkan 0,5 ton POME.

Berkat kalkulasi tersebut, ia memperkirakan pasokan POME nasional dapat menembus 125 juta ton setiap tahunnya. Tingginya kandungan bahan organik di dalam limbah dinilai akan terus tersedia sepanjang pabrik kelapa sawit (PKS) beroperasi.

Erma menambahkan, pengolahan POME menjadi biogas dinilai efektif mengurangi pelepasan gas metana dari kolam limbah terbuka. Langkah ini disebut sanggup memangkas risiko pencemaran air dan tanah, menekan bau tidak sedap, serta menurunkkan emisi hingga 1.131 ton CO₂ ekuivalen per bulan pada tiap fasilitas.

Dari aspek sosial dan ekonomi, penyediaan fasilitas biogas dinilai mampu membentangkan lapangan kerja baru bagi warga lokal. Penggunaan energi ini juga dianggap sanggup menekan biaya operasional pabrik, terutama setelah dikonversi menjadi bio-compressed natural gas (bio-CNG).

"Jadi, manfaat ekonominya bisa dirasakan perusahaan, tenaga kerja lokal, dan masyarakat sekitar selama pengelolaan melibatkan daerah secara langsung," pungkas Erma.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dan sawit dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.