Komoditas

Harga Minyak Dunia Naik usai AS Pastikan Tak Ada Negosiasi Iran

Harga minyak dunia naik usai Gedung Putih pastikan belum ada perundingan dengan Iran, sementara arus kapal di Selat Hormuz masih tersendat.

3 jam yang lalu · 3 mnt baca
Harga Minyak Dunia Turun Usai Aktivitas Ekspor Rusia Kembali Normal
Ilustrasi Pengeboran MInyak. Foto: Envato
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Harga minyak dunia melonjak dalam perdagangan Kamis, 27 Agustus 2026, atau Jumat pagi waktu Jakarta. Kontrak berjangka Brent naik 2,2% menjadi US$89,79 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat 1,7% menjadi US$83,66 per barel, sebagaimana dilaporkan CNBC, Jumat (28/8).

Kenaikan itu dipicu kepastian dari Washington bahwa perundingan dengan Iran tidak sedang berlangsung. Gedung Putih menegaskan, harapan pemulihan pasokan minyak dari Timur Tengah kian pudar, terlepas dari upaya diplomatik negara lain.

"Tidak ada negosiasi yang terjadi saat ini, dan hal ini akan terus berlanjut sampai presiden merasa bahwa mereka bersedia duduk di meja perundingan secara serius dan bermakna. Kami belum melihat hal itu terjadi," kata Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt dalam wawancara bersama Fox News.

Pada Rabu, Badan Informasi Energi AS (EIA) melaporkan kenaikan inventaris minyak mentah AS, termasuk stok di pusat pengiriman Cushing, Oklahoma. Meski begitu, Brent dan WTI justru menguat setelah tiga sesi berturut-turut melemah, seiring investor mengkaji ulang ekspektasi soal terobosan diplomatik yang bisa mendorong aliran minyak dari Timur Tengah.

"Pelemahan pada WTI mencerminkan kondisi keseimbangan pasokan minyak mentah AS yang semakin nyaman," ujar Presiden Geopolitical Risk Consultancy Scarab Rising, Irina Tsukerman.

Analis UBS Giovanni Staunovo menilai, minimnya kemajuan dalam pembicaraan ditambah aliran minyak yang masih terbatas berpotensi memicu penyesuaian pandangan pasar ke depan.

"Risiko terbesar saat ini adalah optimisme mengenai kesepakatan ternyata terlalu dini, sehingga negosiasi kembali macet atau gagal. Hal itu akan dengan cepat memunculkan kembali premi risiko pada harga," tutur Kepala Analis KCM Tim Waterer.

Di tengah kebuntuan itu, Perdana Menteri Qatar mengunjungi Teheran untuk menghidupkan kembali pembicaraan diplomatik guna mengakhiri konflik antara AS-Israel dan Iran, menjelang peringatan enam bulan pecahnya konflik tersebut. Lalu lintas melalui Selat Hormuz, jalur utama ekspor energi Teluk, disebut masih terbatas.

AS dan Iran juga saling melontarkan kecaman terkait janji Washington meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Teheran. Pada Senin, AS mengumumkan sanksi terberat dalam sejarah terhadap Iran, langkah yang menurut Menteri Keuangan Scott Bessent akan mengurangi kebutuhan operasi militer besar-besaran baru. Ketua Komite Keamanan Nasional Parlemen Iran Ebrahim Azizi menyebut sanksi itu sebagai tindakan tidak manusiawi dan bermusuhan yang telah kehilangan efektivitasnya.

Selat Hormuz menangani sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair harian dunia sebelum konflik pecah akhir Februari. Berdasarkan data Kpler, arus lalu lintas melalui selat itu sedikit membaik pada Rabu dengan 10 kapal komoditas melintas, naik dari level terendah belakangan ini namun masih di bawah rata-rata 10 hari sebanyak 15 kapal.

Ketegangan geopolitik lain juga muncul setelah Rusia memperingatkan bisa menyerang target militer Inggris, baik di dalam maupun di luar Ukraina. Ancaman itu disampaikan sebagai respons atas serangan Ukraina ke wilayah Rusia menggunakan rudal jelajah jarak jauh pasokan Inggris.

"Inti dari perselisihan ini tetaplah program nuklir Iran, dan hal itu kecil kemungkinannya akan diselesaikan dengan cepat. Iran juga memahami pentingnya posisi geografisnya serta daya tawar yang diberikan oleh Selat Hormuz, sehingga risiko ketidakpastian yang berkepanjangan masih tetap ada," ujar Head of Market Insights Philip Nova, Priyanka Sachdeva.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Tim Waterer, gedung putih, Administrasi Informasi Energi (EIA), harga minyak dunia, West Texas Intermediate (WTI), dan Brent Crude dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.