Periskop.id - Harga minyak dunia melemah pada perdagangan Selasa (21/7) pagi, saat pelaku pasar menimbang laporan upaya mediasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Minyak mentah Brent turun 0,4% menjadi US$88,87 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) bergerak stabil di US$82,47 per barel.
Reuters melaporkan, pelemahan ini terjadi di tengah berlanjutnya saling serang AS dan Iran, ditambah ancaman blokade laut terhadap Arab Saudi oleh kelompok Houthi Yaman. Kedua kontrak minyak acuan itu tercatat masih berada di bawah level tertinggi dalam lebih dari sebulan yang sempat dicapai pada sesi sebelumnya.
"Ancaman blokade laut terhadap Arab Saudi oleh Houthi sangat signifikan karena meningkatkan risiko gangguan terhadap salah satu eksportir minyak utama dunia," kata Kepala Analis Pasar KCM Trade Tim Waterer kepada Reuters, dikutip Selasa (21/7).
Kelompok Houthi yang didukung Iran, pada Senin, menyatakan bakal memberlakukan blokade laut terhadap Arab Saudi. Langkah tersebut berpotensi membuka front baru dalam konflik yang melibatkan AS dan Iran, sekaligus mengerek risiko terhadap pasokan energi global dan jalur perdagangan internasional di luar kawasan Teluk.
Di sisi lain, seorang pejabat senior Iran menyampaikan kepada Reuters bahwa Teheran telah menerima usulan gencatan senjata selama 10 hari dari para mediator. Usulan itu ditujukan untuk menyelamatkan kesepakatan sementara yang diteken pada 17 Juni, sebagai langkah awal menuju perjanjian damai yang lebih permanen.
Perang antara AS dan Iran sendiri bermula pada 28 Februari, setelah serangan AS dan Israel terhadap Iran. Dorongan diplomatik terbaru muncul setelah AS kembali melancarkan serangan ke sejumlah kota di Iran pada malam sebelumnya.
Garda Revolusi Iran membalas dengan menyerang aset militer AS di berbagai wilayah. Komando Pusat AS (CENTCOM) kemudian mengonfirmasi telah memulai gelombang serangan berikutnya terhadap Iran.
Di tengah dinamika geopolitik itu, survei pendahuluan Reuters menunjukkan persediaan minyak mentah AS diperkirakan turun pada pekan lalu, seiring berkurangnya stok bensin. Sebaliknya, persediaan produk distilat diperkirakan justru meningkat.
Penurunan stok minyak mentah dan bensin ini mencerminkan permintaan yang masih kuat di pasar AS. Kondisi tersebut tetap jadi salah satu faktor yang menopang harga minyak di tengah ketidakpastian geopolitik yang berlangsung.
"Harga minyak sudah naik cukup jauh dan masih memiliki potensi untuk bergerak lebih tinggi. Namun, dalam jangka pendek, pembicaraan mengenai deeskalasi dan perundingan damai membatasi kenaikan harga untuk sementara waktu. Apakah perundingan itu akan menghasilkan sesuatu masih harus dilihat," ujar analis pasar IG Tony Sycamore.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar