iklan periskop
Kota

Siap - Siap, Galian Jalan Belum Berakhir, PAM Jaya Akan Bangun 7.000 Km Pipa Baru di Jakarta

PAM Jaya akan membangun 7.000 km jaringan pipa baru untuk mengejar 100% layanan air Jakarta pada 2029. Saat ini cakupan layanan telah mencapai 82%

1 hari yang lalu · 5 mnt baca
pam Jaya
Penandatanganan Bersama Komitmen Keselamatan yang dilakukan PAM Jaya. dok. PAM Jaya.
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - PAM Jaya menyiapkan pembangunan sekitar 7.000 kilometer jaringan pipa baru dalam beberapa tahun ke depan untuk memperluas layanan air perpipaan di Jakarta. Jika seluruh rencana terealisasi, panjang jaringan perusahaan akan bertambah dari sekitar 13.000 kilometer menjadi sekitar 20.000 kilometer, seiring target cakupan layanan 100% pada 2029.

Direktur Teknik PAM Jaya Akhmad Santika mengatakan, skala pembangunan infrastruktur akan semakin besar sehingga perusahaan tidak hanya mengejar penambahan jaringan, tetapi juga memperketat pengawasan terhadap pekerjaan konstruksi yang melibatkan banyak perusahaan mitra.

“Pekerjaan pembangunan jaringan ke depan akan semakin masif,” kata Akhmad di Jakarta, Senin (10/8).

PAM Jaya saat ini tengah menyusun sistem pemantauan pekerjaan lapangan. Perusahaan juga akan mencantumkan identitas mitra pada pagar proyek maupun barrier sehingga masyarakat dapat mengetahui pihak yang bertanggung jawab di setiap lokasi pekerjaan.

“Implementasi SOP K3 (Standar Operasional Prosedur Keselamatan dan Kesehatan Kerja) harus menjadi perhatian utama dalam setiap pekerjaan,” tegas Akhmad.

Cakupan Air Perpipaan Jakarta Sudah 82%

Ekspansi jaringan dilakukan ketika cakupan layanan air perpipaan Jakarta telah meningkat signifikan. Data resmi Pemprov DKI per Juni 2026 menunjukkan layanan PAM Jaya telah menjangkau sekitar 82% atau 8,9 juta penduduk Jakarta. Jaringan perpipaan saat itu tercatat sekitar 13.200 kilometer.

Target layanan penuh sebelumnya dipercepat dari 2030 menjadi 2029. Hingga Mei 2026, Badan Pembinaan BUMD DKI Jakarta mencatat PAM Jaya telah memiliki lebih dari 1,1 juta sambungan rumah, dengan cakupan layanan tepatnya mencapai 82,03%.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung optimistis target tersebut dapat dicapai dalam tiga tahun mendatang.

“Ketika saya mencanangkan pada 2029 layanan air bersih di Jakarta harus mencapai 100 persen, banyak yang tidak percaya. Namun sekarang capaian PAM JAYA sudah mencapai 82%. Saya yakin, dengan waktu tiga tahun ke depan, target 100% itu bisa kita wujudkan,” ujar Pramono pada 26 Juni 2026.

Perluasan pada 2026 antara lain diarahkan ke Jakarta Timur dan Jakarta Selatan, termasuk wilayah yang selama ini masih memiliki celah layanan perpipaan. PAM Jaya juga menerapkan metode pengerjaan pit by pit untuk mempercepat konstruksi dan mengurangi lamanya gangguan lalu lintas akibat galian pipa.

“Memang masif banget galian yang saat ini terjadi dan itu tidak bisa dihindari. Tapi kami sudah mendapat arahan untuk percepatan pekerjaan dan pengelolaan pit by pit agar dampak ke lalu lintas tidak terlalu panjang,” ujar Direktur Utama PAM Jaya Arief Nasrudin.

Ada Pipa Berusia Lebih dari 100 Tahun

Tantangan PAM Jaya bukan hanya memasang jaringan baru. Sebagian infrastruktur perpipaan yang masih digunakan telah berusia lebih dari satu abad, sehingga membutuhkan peremajaan dan pengawasan lebih ketat ketika pembangunan dilakukan bersamaan dengan jaringan lama.

Direktur Strategi dan Bisnis PAM Jaya Anugrah Esa menilai kondisi tersebut membuat penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) tidak bisa sekadar menjadi persyaratan administrasi proyek.

“Penerapan K3 tidak boleh dipandang sebagai sekadar kewajiban administratif, melainkan harus menjadi budaya kerja yang dijalankan secara konsisten,” ujar Esa.

PAM Jaya juga menghadapi persoalan kehilangan air atau non-revenue water (NRW), yaitu air yang telah diproduksi tetapi tidak menghasilkan pendapatan antara lain karena kebocoran fisik jaringan. Dokumen Pemprov DKI menempatkan pengurangan NRW dan rehabilitasi jaringan sebagai bagian penting dari strategi penyediaan air minum Jakarta.

Karena itu, perluasan jaringan tidak hanya berfungsi membuka sambungan di kawasan yang belum terlayani, tetapi juga harus dibarengi peremajaan pipa lama untuk menjaga tekanan, kontinuitas distribusi, dan mengurangi kebocoran.

Air Perpipaan Didorong Kurangi Ketergantungan pada Air Tanah

Peningkatan cakupan PAM Jaya juga memiliki dimensi lingkungan. Pemprov DKI mendorong warga beralih dari pemanfaatan air tanah menuju air perpipaan karena pengambilan air tanah berlebihan menjadi salah satu faktor yang memperburuk penurunan muka tanah di Jakarta.

Data Pemprov DKI menunjukkan penurunan muka tanah berbeda-beda antarwilayah, mulai sekitar 1-15 sentimeter per tahun, bahkan dapat mencapai 20-28 sentimeter per tahun di sejumlah lokasi. Faktor antropogenik seperti eksploitasi air tanah dan pembebanan tanah menjadi bagian penyebabnya.

“Bagi saya, Rekor MURI merupakan bentuk apresiasi atas apa yang telah dilakukan. Namun yang lebih penting adalah memastikan masyarakat, terutama kelompok yang membutuhkan, memperoleh akses terhadap air bersih karena air merupakan hak dasar setiap warga,” kata Pramono.

PAM Jaya juga menyiapkan tambahan sumber pasokan dan fasilitas pengolahan air. Pemprov DKI dan Kementerian Pekerjaan Umum, misalnya, merencanakan pembangunan instalasi pengolahan air dan reservoir di Duri Kosambi, Jakarta Barat. Reservoir tersebut dirancang memiliki kapasitas hingga 24 juta liter.

Di tengah pembangunan yang semakin masif, Akhmad menegaskan, pengawasan terhadap mitra menjadi bagian yang tak terpisahkan dari ekspansi jaringan. Identitas perusahaan yang mengerjakan proyek akan dibuat lebih terbuka, sementara kepatuhan terhadap prosedur keselamatan menjadi kewajiban di seluruh lokasi.

“Keselamatan adalah tanggung jawab bersama, sehingga seluruh mitra harus memiliki kepedulian yang sama terhadap penerapan K3 tanpa terkecuali,” ungkap Akhmad.

Jika target 2029 tercapai, seluruh warga Jakarta diharapkan memiliki akses terhadap jaringan air perpipaan. Namun, pekerjaan PAM Jaya tidak hanya ditentukan oleh panjang pipa yang berhasil dibangun, melainkan juga kesiapan produksi air, peremajaan jaringan tua, penurunan kebocoran, dan kemampuan menjaga kualitas serta kontinuitas layanan kepada pelanggan.

Sekadar catatan, pernyataan terbaru PAM Jaya yang menyebut akan melakukan pembangunan sekitar 7.000 kilometer jaringan baru, jauh lebih besar dibanding keterangan resmi Pemprov DKI pada 26 Juni 2026 yang sebelumnya menyebut jaringan 13.200 kilometer yang eksis masih perlu ditambah lebih dari 2.000 kilometer untuk mencapai cakupan 100%. Sejauh ini, belum terdapat penjelasan publik yang merinci perbedaan basis penghitungan kedua angka tersebut.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Pramono Anung Wibowo, Pemprov DKI, PAM Jaya, pipa air minum, dan pipa air bersih dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.