iklan periskop
Kota

BEM UI Demo di HI Hari Ini, Bawa 8 Tuntutan ke Pemerintah

BEM UI turun ke jalan di Bundaran HI bawa delapan tuntutan, mulai dari reforma agraria sampai desakan bubarkan YON TP.

6 hari yang lalu · 2 mnt baca
BEM UI menggelar aksi menyampaikan pendapat di Bundaran HI, Jumat (12/6).
BEM UI menggelar aksi menyampaikan pendapat di Bundaran HI, Jumat (12/6). Foto oleh Periskop.id/Rachel Farahdiba R
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) menggelar aksi unjuk rasa bertajuk #MerebutKemerdekaan di kawasan Bundaran HI, Selasa (18/8). Aksi ini membawa delapan tuntutan kepada pemerintah, mulai dari isu korupsi hingga reforma agraria.

Ketua BEM UI Yatalathof Ma'shum Imawan menegaskan, aksi tersebut bukan untuk merayakan Hari Kemerdekaan. Ia menyebutnya sebagai bentuk pertanyaan atas makna kebebasan yang benar-benar dirasakan masyarakat.

"Hari ini, sehari setelah seremoni kenegaraan itu digelar, kami turun ke jalan bukan untuk merayakan, tapi untuk bertanya dengan lantang, kemerdekaan macam apa yang sedang kita rayakan?" kata Yatalathof dalam keterangan tertulis, Selasa (18/8).

Yatalathof menilai kedaulatan Indonesia tergerus oleh perjanjian dagang yang dianggap lebih mengakomodasi kepentingan asing. Ia juga menyoroti suara rakyat yang menurutnya masih dibungkam, sementara pemuda-pemudi kerap ditangkap secara sewenang-wenang.

"Keadilan kita dipertanyakan ketika hukum hanya tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Kemakmuran kita jadi ilusi ketika lapangan kerja langka, pendidikan dan kesehatan gratis yang dijanjikan konstitusi tak kunjung hadir, sementara kekayaan negeri ini menumpuk di segelintir tangan," tuturnya.

Pemerintahan Prabowo-Gibran, menurut Yatalathof, lebih banyak berbicara soal kedaulatan tanpa benar-benar mewujudkannya. Janji negara yang berdaulat, adil, dan makmur dinilainya masih sebatas slogan.

Ia menambahkan, aparat dinilai lebih sibuk mengamankan kekuasaan dibanding melindungi hak rakyat untuk bersuara. Yatalathof turut menyampaikan permintaan maaf kepada warga Jakarta yang terdampak macet akibat aksi ini.

Meski demikian, ia menyebut kemacetan lalu lintas hanya berlangsung sementara jika dibandingkan dengan persoalan struktural yang jauh lebih lama.

"Kemacetan lalu lintas ini hanya beberapa jam, sedangkan kemacetan struktural, kemacetan lapangan kerja, dan kemacetan keadilan yang dipaksakan sudah delapan puluh satu tahun dan terus memburuk," jelasnya.

Delapan tuntutan yang dibawa BEM UI dalam aksi ini meliputi penghentian penjajahan negara atas rakyat sendiri, pemberantasan korupsi-kolusi-nepotisme, dan reforma agraria sejati.

Tuntutan lain mencakup penurunan harga kebutuhan pokok dan BBM, evaluasi total Proyek Strategis Nasional (PSN), penghentian program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan KDMP, hingga penghentian pemusatan kekuasaan serta pemangkasan Transfer ke Daerah (TKD).

BEM UI juga mendesak penetapan status bencana nasional untuk Sumatra dan Flores, percepatan pemulihan wilayah terdampak bencana, serta penghentian represivitas dan intervensi TNI-Polri dalam ruang sipil, termasuk desakan pembubaran YON TP.

"Ini hanya awalan. Mahasiswa, buruh, petani, guru, pedagang, dan seluruh rakyat yang merasa republik ini sedang dikhianati cita-citanya sendiri, mari kita rebut kembali kemerdekaan yang sesungguhnya," ungkap Yatalathof.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI), dan Demo dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.