Kota

Viral Gerakan Nail Hunter, Cabuti Paku Liar yang Menyiksa Pohon Kota

Gerakan Nail Hunter viral karena mencabuti paku liar di pohon kota. Aksi ini dimulai dari keresahan Cak Noeris dan Aan.

1 hari yang lalu · 4 mnt baca
Viral Gerakan Nail Hunter, Cabuti Paku Liar yang Menyiksa Pohon Kota
Kegiatan Nail Hunter, mencabut paku yang menusuk pohon. TikTok/nail_hunter666, diedit oleh AI.
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Berawal dari rasa muak melihat pepohonan di pinggir jalan yang kerap dijadikan tiang iklan gratis, dua orang pemuda menginisiasi sebuah gerakan sederhana namun berdampak nyata. Gerakan yang diberi nama "Nail Hunter" ini berfokus pada aksi mencabut paku dan berbagai benda asing yang menancap serta merusak batang pohon di ruang publik.

Nail Hunter digagas oleh Cak Noeris, seorang pria yang sehari-hari berprofesi sebagai dosen, bersama temannya yang bernama Aan. Gerakan ini lahir murni dari keresahan pribadi melihat kebiasaan masyarakat yang sering memaku pohon untuk memasang berbagai macam spanduk, banner, hingga papan informasi.

"Awalnya saya bersama teman saya, Aan, hanya merasa muak melihat pohon terus dijadikan tempat menempelkan berbagai macam benda," ungkap Cak Noeris saat menceritakan awal mula gerakan ini kepada Periskop.id, Jumat (28/8).

Menurutnya, pemandangan pohon yang penuh paku tersebut terjadi berulang-ulang hingga akhirnya dianggap sebagai sebuah kewajaran oleh masyarakat luas. Banyak orang berlalu-lalang tanpa memberikan perhatian lebih pada kondisi pohon yang terluka.

"Sampai akhirnya muncul pertanyaan sederhana: kalau semua orang melihat tapi memilih diam, lalu siapa yang akan melakukan sesuatu?" ujar Cak Noeris.

Berburu Paku di Hutan Beton

Pemilihan nama Nail Hunter bukan tanpa alasan. Nama tersebut dipilih untuk menggambarkan aktivitas mereka yang memang layaknya berburu. Mereka berkeliling menyusuri jalanan, secara teliti mencari sesuatu yang kerap luput dari pandangan mata orang biasa.

"Kadang dari jauh pohonnya terlihat normal. Tapi setelah dilihat lebih dekat, ternyata ada paku, bekas banner, baut, atau benda lain yang menancap," jelasnya.

Sejauh ini, aksi perburuan paku telah dilakukan di sejumlah lokasi di kawasan Jakarta dan Bekasi. Semakin sering mereka turun ke jalan, semakin mereka menyadari betapa besarnya masalah perlakuan buruk terhadap pepohonan kota. Benda yang mereka temukan menancap di pohon pun sangat beragam dan di luar dugaan.

Mereka kerap menemukan paku payung, paku kayu, paku beton, hingga lilitan kawat yang mencekik batang pohon. Bahkan dalam salah satu aksinya, mereka mendapati koloni serangga yang bersarang di dalam lubang bekas luka cabutan paku, gagang besi yang sudah tertelan batang pohon, hingga lilitan kabel aktif yang sangat berbahaya.

"Bagi kami, tujuan Nail Hunter bukan sekadar membuat pohon terlihat bersih, tetapi berusaha mengurangi perlakuan yang tidak semestinya terhadap pohon," tegasnya.

Meskipun bukan ahli arborikultur (ilmu perawatan pohon), Cak Noeris dan Aan memahami bahwa paku yang menembus batang dapat menyebabkan luka fisik yang menjadi pintu masuk bagi organisme penyebab penyakit.

Tantangan di Lapangan dan Kekuatan Media Sosial

Aksi mencabut paku liar di ruang publik nyatanya tidak selalu berjalan mulus. Tantangan terbesar justru datang dari kondisi medan di lapangan. Mulai dari posisi paku yang terlalu tinggi, paku yang menancap terlalu dalam, hingga ruang gerak yang sempit akibat lalu lalang kendaraan yang tiada henti.

Respons dari masyarakat yang melintas pun beragam. Ada yang memberikan dukungan, sekadar penasaran, hingga melontarkan komentar negatif yang menuding aksi mereka sebagai upaya mencari sensasi semata.

Sadar bahwa aksi fisik saja tidak cukup untuk menciptakan perubahan secara masif, Cak Noeris dan Aan memilih memanfaatkan platform media sosial TikTok untuk mendokumentasikan setiap kegiatan Nail Hunter.

"Karena kami sadar, kalau hanya mencabut paku tanpa mendokumentasikan, mungkin dampaknya hanya berhenti di pohon yang kami datangi hari itu," terangnya.

Media sosial terbukti ampuh membuat sebuah kegiatan kecil dapat disaksikan oleh jutaan pasang mata. TikTok memungkinkan mereka menyampaikan pesan dan cerita edukasi dengan cara yang ringan, sederhana, dan mudah dipahami oleh berbagai kalangan.

Mengubah Sikap Apatis Menjadi Kepedulian

Ke depannya, Nail Hunter masih sangat terbuka untuk menjalin kolaborasi dengan berbagai pihak, mulai dari komunitas lingkungan, pegiat pohon, akademisi, hingga pemerintah daerah. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa setiap tindakan penyelamatan pohon yang mereka lakukan benar-benar tepat dan dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan.

Meski memiliki cita-cita untuk memperluas gerakan ini ke kota-kota lain, Nail Hunter ingin bertumbuh secara organik dan sehat, bukan sekadar memburu popularitas di media sosial.

"Kami tidak bermimpi bisa menyelamatkan semua pohon. Kami hanya tidak ingin terus menjadi orang yang abai," ucap Cak Noeris menyampaikan harapan akhirnya.

Ia pun berpesan kepada masyarakat luas yang ingin berpartisipasi menjaga kelestarian pohon namun belum bisa turun langsung berburu paku. Kepedulian dapat dimulai dari langkah paling sederhana: berhenti menjadikan pohon sebagai tempat memasang tiang iklan dan berhenti menggantung barang sembarangan di batangnya.

"Dan yang paling sederhana, mulailah untuk aware (peduli). Karena mungkin selama ini kita terlalu sering melewati sesuatu yang sebenarnya membutuhkan kepedulian kita," pungkasnya.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai kota dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.