periskop.id - Nilai tukar rupiah kembali melemah pada perdagangan sore ini. Rupiah ditutup turun 68 poin ke level Rp16.955 per dolar AS, dari penutupan sebelumnya di Rp16.896. Sebelumnya, rupiah sempat tertekan hingga melemah 75 poin.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Berjangka, Ibrahim Assuabi, mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi oleh penguatan dolar AS yang didorong sentimen eksternal.
Salah satunya berasal dari pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait rencana pemberlakuan tarif baru terhadap delapan negara Eropa yang menentang rencana AS untuk mengakuisisi Greenland.
"Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup melemah 68 point sebelumnya sempat melemah 75 point dilevel Rp16.955 dari penutupan sebelumnya di level Rp16.896," kata Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas Berjangka Ibrahim Assuabi dalam keterangannya, Senin (19/1).
Negara-negara yang menjadi sasaran tarif tersebut antara lain Prancis, Jerman, dan Inggris, serta sejumlah negara Nordik dan Eropa Utara. Kebijakan ini memicu kritik keras dari para pejabat Eropa dan meningkatkan kekhawatiran akan meluasnya sengketa perdagangan transatlantik.
Dari Amerika Serikat, data terbaru menunjukkan kondisi pasar tenaga kerja yang lebih kuat dari perkiraan. Hal ini membuat pelaku pasar kembali meragukan kemungkinan Federal Reserve melakukan dua kali pemotongan suku bunga tahun ini.
"Kontrak berjangka dana Fed saat ini telah menunda ekspektasi pemotongan suku bunga berikutnya ke bulan Juni dan September dari perkiraan sebelumnya di bulan Januari dan April. Pandangan bahwa bank sentral AS dapat mempertahankan suku bunga lebih tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama," terangnya.
Sementara itu di Asia, data menunjukkan ekonomi China tumbuh 5,0 persen sepanjang tahun lalu, sesuai target pemerintah. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh lonjakan permintaan global terhadap barang-barang China, meski konsumsi domestik masih relatif lemah.
Dari dalam negeri, kekhawatiran terhadap kondisi fiskal Indonesia kembali mencuat setelah terungkap pada 8 Januari 2026 bahwa defisit anggaran tahun lalu mendekati batas maksimal 3 persen, di tengah penerimaan negara yang belum optimal.
"Kondisi ini menambah tekanan terhadap pergerakan mata uang rupiah," tuturnya.
Meski demikian, Bank Indonesia terus melakukan berbagai langkah stabilisasi untuk menjaga volatilitas nilai tukar. BI secara aktif melakukan intervensi di pasar DNDF dan NDF, serta memanfaatkan instrumen lain seperti penyesuaian penerbitan surat berharga bank sentral, intervensi valas, dan pembelian obligasi pemerintah di pasar sekunder.
Ibrahim memperkirakan Bank Indonesia akan mempertahankan suku bunga acuannya dalam rapat kebijakan mendatang guna menopang stabilitas rupiah. Selain itu, rencana pemerintah untuk memperketat pengelolaan devisa hasil ekspor dinilai dapat memberikan bantalan tambahan bagi nilai tukar.
"Guna untuk menopang mata uang rupiah, BI diperkirakan mempertahankan suku bunga acuan saat rapat kebijakan pada Rabu. Bank Indonesia juga telah mengerahkan berbagai instrumen untuk menahan pelemahan rupiah, termasuk penyesuaian penerbitan surat berharga bank sentral, intervensi di pasar valuta asing, serta pembelian obligasi pemerintah di pasar sekunder," terang Ibrahim.
Selain itu, rencana pemerintah untuk memperketat pengelolaan devisa hasil ekspor dinilai dapat memberikan bantalan bagi rupiah. Namun, para analis tetap menyuarakan kekhawatiran bahwa defisit fiskal tahun ini berpotensi melebar melampaui batas hukum 3%, seiring upaya pemerintah meningkatkan belanja di tengah lemahnya penerimaan pajak.
Untuk perdagangan selanjutnya, Ibrahim memprediksi rupiah akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah di kisaran Rp16.950 hingga Rp16.980 per dolar AS.
"Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp16.950- Rp16.980," tutup Ibrahim.
Tinggalkan Komentar
Komentar