periskop.id - Nilai tukar rupiah ditutup melemah pada perdagangan Senin, 30 Maret 2026, ke level Rp17.002 per dolar AS. Pelemahan 22 poin ini terjadi dari penutupan sebelumnya di level Rp16.979, seiring penguatan indeks dolar AS dan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap eskalasi perang Iran.
“Rupiah sore ini ditutup melemah 22 poin di level Rp17.002 dari penutupan sebelumnya Rp16.979,” ujar Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi, Senin (30/3).
Sentimen eksternal menjadi salah satu faktor utama tekanan terhadap rupiah. Pasar tetap waspada terhadap potensi eskalasi perang Iran setelah kelompok Houthi yang berbasis di Yaman dan didukung Iran menyerang Israel pada akhir pekan lalu. Serangan ini berpotensi membuka front baru dalam konflik, mengingat kemampuan Houthi melancarkan serangan di Laut Merah.
“Iran menyatakan siap menghadapi invasi darat oleh Amerika Serikat, terutama setelah laporan akhir pekan lalu menunjukkan pengiriman ribuan pasukan ke Timur Tengah. Presiden AS Donald Trump mengatakan negosiasi dengan Iran berjalan baik, namun risiko serangan lanjutan ke Teheran tetap ada,” kata Ibrahim.
Trump pekan lalu memperpanjang tenggat waktu serangan terhadap infrastruktur energi Iran hingga awal April. Sejak perang dimulai pada Februari, Iran sebagian besar menolak gagasan pembicaraan langsung dengan AS.
Dari sisi data ekonomi, Universitas Michigan menunjukkan rumah tangga Amerika mulai pesimis terhadap kondisi ekonomi. Sentimen konsumen Maret turun dari 55,5 menjadi 53,3, di bawah perkiraan 54.
Ekspektasi inflasi 12 bulan ke depan naik dari 3,4 persen menjadi 3,8 persen, sementara ekspektasi lima tahun tetap di 3,2 persen. Kondisi ini mendorong pasar memperkirakan langkah selanjutnya The Fed adalah kenaikan suku bunga, bukan pemangkasan. Berdasarkan CME FedWatch Tool, pasar menilai tidak akan ada penurunan suku bunga tahun ini, dan ada peluang 50 persen untuk kenaikan suku bunga di akhir 2026, berbalik dari proyeksi sebelumnya sebelum perang AS-Iran pecah.
Di dalam negeri, rencana efisiensi anggaran pemerintah dinilai perlu didukung kombinasi kebijakan lain agar efektif menjaga defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Tekanan fiskal saat ini bersifat struktural, berasal dari subsidi energi, kenaikan biaya bunga utang, dan kebutuhan belanja prioritas.
“Ruang efisiensi realistis hanya berasal dari belanja non-prioritas, dan penerapannya harus selektif agar kualitas belanja tetap terjaga. Tanpa kombinasi kebijakan lain, efisiensi hanya menjadi bantalan jangka pendek,” jelas Ibrahim.
Indikator yang dapat diperhatikan untuk menilai efektivitas pemangkasan anggaran antara lain peningkatan dampak program terhadap anggaran, perbaikan Incremental Capital Output Ratio (ICOR), pergeseran ke belanja produktif, serta stabilnya indikator makro seperti pertumbuhan di atas 5 persen dan inflasi terkendali. Penyerapan anggaran yang lebih merata sepanjang tahun juga menjadi sinyal penting.
“Untuk perdagangan Selasa, mata uang rupiah diperkirakan fluktuatif dengan rentang Rp17.000-Rp17.040,” tutup Ibrahim.
Tinggalkan Komentar
Komentar