Periskop.id - Nilai tukar rupiah dibuka melemah tajam pada perdagangan Jumat pagi, tertekan sentimen eksternal dari Amerika Serikat serta kekhawatiran terhadap sejumlah indikator domestik.

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan, pelemahan rupiah sudah sesuai dengan proyeksi dan berpotensi berlanjut hingga menyentuh level psikologis baru.

“Pagi ini sesuai prediksi rupiah melemah. Kelemahannya cukup tajam di 47 poin. Saat ini diperdagangkan rupiah di Rp17.990. Kemungkinan besar di akhir pekan ini rupiah akan menyentuh level Rp18.000,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Jumat (26/6).

Dari sisi eksternal, penguatan dolar AS menjadi pemicu utama tekanan terhadap rupiah. Hal ini didorong oleh rilis data ekonomi Amerika Serikat yang solid, mulai dari revisi final Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal pertama, penurunan angka pengangguran, hingga membaiknya inflasi inti berbasis pengeluaran konsumsi pribadi (core PCE).

Kondisi tersebut memperkuat ekspektasi pasar bahwa bank sentral AS akan kembali menaikkan suku bunga pada 2026.

“Spekulasi tentang Bank Sentral Amerika yang akan kembali menaikkan suku bunga di tahun 2026 dua kali, bulan Juli atau September, kemudian di bulan Desember,” jelas Ibrahim

Selain itu, kenaikan harga energi dan inflasi di AS yang masih tinggi turut menopang penguatan dolar, meskipun terdapat upaya pemerintah untuk menekan harga.

Dari dalam negeri, pelaku pasar mencermati sejumlah data ekonomi yang akan dirilis pada awal bulan, termasuk inflasi, cadangan devisa, PMI manufaktur, dan neraca perdagangan.

Ibrahim memperkirakan inflasi domestik akan meningkat akibat kenaikan harga bahan bakar non-subsidi yang berdampak pada biaya distribusi dan harga barang.

“Saya melihat bahwa inflasi kemungkinan besar akan naik karena dengan kenaikan harga bahan bakar non-subsidi, ini membuat harga-harga bahan pokok di pasaran melonjak tinggi karena transportasi juga naik,” ujar dia.

Sementara itu, cadangan devisa Indonesia diperkirakan menyusut seiring agresivitas intervensi bank sentral di pasar valas dan obligasi, meskipun masih berada dalam batas aman.

Di sisi lain, aktivitas manufaktur global berpotensi kembali terkontraksi di bawah level 50, mencerminkan pelemahan sektor industri akibat meningkatnya tekanan ekonomi dan gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK).

Adapun neraca perdagangan Indonesia diperkirakan masih mencatat surplus, namun dengan tren penyempitan seiring perlambatan ekonomi di Tiongkok yang berdampak pada kinerja ekspor.

Ibrahim juga menyoroti risiko terhadap defisit anggaran yang berpotensi melebar mendekati batas atas yang ditetapkan dalam APBN, sehingga menjadi perhatian pelaku pasar global.

Secara keseluruhan, kombinasi faktor eksternal dan domestik tersebut dinilai masih akan menekan pergerakan rupiah dalam jangka pendek.