Periskop.id - Rupiah membuka perdagangan awal pekan pada Senin (29/6/2026) dengan apresiasi 0,30% ke level Rp17.868 per dolar AS. Penguatan ini terjadi di tengah eskalasi militer antara Iran dan Amerika Serikat yang kembali memanas.
Berdasarkan data Doo Financial Futures yang dicatat pukul 09.05 WIB, mata uang Garuda berhasil menjauhi level Rp18.000. Penguatan serupa turut dicatatkan sejumlah mata uang Asia lain, dipimpin ringgit Malaysia yang naik 0,40%, disusul rupee India sebesar 0,27%, dan peso Filipina 0,06%.
Namun tidak semua mata uang Asia ikut menguat. Won Korea tercatat melemah paling dalam sebesar 0,49%, dolar Taiwan terdepresiasi 0,97%, baht Thailand turun 0,12%, sementara dolar Singapura dan yuan China masing-masing tergerus 0,06%. Yen Jepang dan dolar Hong Kong juga melemah, masing-masing 0,02% dan 0,01%.
Analis Doo Financial Futures Lukman Leong memaparkan, penguatan rupiah ditopang oleh indeks dolar AS yang tidak terlalu agresif menguat, sementara pasar ekuitas regional pun terbilang stabil. "Investor terlihat mengabaikan eskalasi dan mengharapkan akan terjadi de-eskalasi dalam waktu dekat, seperti yang telah terjadi sebelumnya," ujarnya, Senin (29/6/2026).
Meski demikian, Lukman memperkirakan rupiah bakal berbalik melemah sepanjang sesi hari ini. Menurutnya, pemicunya adalah saling serang antara Iran dan AS yang mendorong sentimen risk-off di pasar keuangan global, sekaligus menekan harga minyak mentah dunia ke atas.
"Rupiah diperkirakan akan melemah terhadap dolar AS seiring kembali terjadinya eskalasi di Timur Tengah oleh saling serang antara Iran dan AS. Hal ini memicu ketidakpastian terhadap prospek perdamaian di kawasan dan kenaikan harga minyak mentah dunia," lanjutnya.
Lukman memproyeksikan rupiah bergerak di kisaran Rp17.850 hingga Rp18.000 per dolar AS sepanjang hari ini. Sentimen global disebutnya masih menjadi faktor yang paling menentukan arah pergerakan mata uang Garuda.
Ketidakpastian geopolitik yang meningkat lazimnya mendorong investor beralih ke aset safe haven seperti dolar AS. Kondisi tersebut, menurut Lukman, berpotensi memberi tekanan tambahan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Dari sisi domestik, pelaku pasar dinilai masih cenderung wait and see menjelang rilis sejumlah data ekonomi penting pada Rabu (1/7/2026). Data neraca perdagangan dan inflasi Indonesia menjadi fokus perhatian investor untuk membaca kondisi ekonomi dalam negeri.
Minimnya katalis dari dalam negeri di awal pekan ini membuat arah rupiah diprediksi lebih banyak bergantung pada dinamika global, terutama perkembangan konflik Timur Tengah. "Untuk domestik, investor masih wait and see mengantisipasi data-data penting pada hari Rabu seperti perdagangan dan inflasi," pungkas Lukman.
Tinggalkan Komentar
Komentar