Moneter

Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.722 per USD Senin (31/8)

Rupiah ditutup melemah 29 poin ke Rp17.722 per USD, terseret ketegangan Iran-AS dan sinyal suku bunga dari Ketua The Fed Kevin Warsh.

22 jam yang lalu · 3 mnt baca
Dolar, Rupiah, Money Changer, Penukaran Uang
Petugas menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar AS di gerai penukaran mata uang asing Dolarasia Tebet, Jakarta, Rabu (8/10/2025). Periskop/Arief Rachman
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah pada perdagangan Senin (31/8). Mengutip data Bloomberg, mata uang Garuda turun 29 poin atau 0,16% ke level Rp17.722 per USD.

Pengamat Pasar Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menilai sentimen eksternal masih jadi penekan utama pelemahan rupiah. Ia menyoroti eskalasi konflik di Timur Tengah sebagai salah satu faktor yang membebani pasar.

"Negosiasi untuk mengakhiri konflik sedang menemui jalan buntu, sementara para mediator berupaya membuka kembali Selat Hormuz, jalur yang sebelumnya menjadi rute bagi seperlima pasokan minyak dunia sebelum perang pecah pada akhir Februari," tulis Ibrahim dalam risetnya, Senin (31/8).

Ketegangan tersebut bermula dari serangan pasukan AS terhadap dua peluncur rudal di Pulau Larak, Iran, pada Minggu. Serangan itu tercatat sebagai aksi militer pertama AS terhadap Iran sejak akhir Juli.

Sebagai balasan, Iran dilaporkan menyerang dua pangkalan udara AS di Yordania. Media Iran melaporkan hal itu pada Senin dengan mengutip pernyataan Garda Revolusi Iran.

Di sisi lain, Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent menyebutkan negaranya kemungkinan bakal menjatuhkan sanksi sekunder baru terhadap Iran setiap minggu. Langkah itu ditujukan untuk memutus akses Iran dari sistem keuangan berbasis dolar.

Sentimen lain datang dari pidato Ketua Federal Reserve Kevin Warsh di Simposium Jackson Hole. Warsh menegaskan fokus utama bank sentral saat ini seharusnya tetap pada stabilitas harga, pernyataan yang mendorong spekulasi pasar soal kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed di September.

Warsh menuturkan, The Fed perlu yakin inflasi inti bergerak menuju target yang ditetapkan. Jika belum tercapai, ia menegaskan para pembuat kebijakan masih punya pekerjaan rumah.

Ia juga menilai sulit menyebut kondisi keuangan saat ini sebagai kondisi restriktif. Menurutnya, pasar kredit dan pinjaman baru menunjukkan sedikit tanda pengetatan kebijakan moneter.

Dari dalam negeri, ketidakpastian geopolitik global dan lonjakan harga energi berpotensi kian membebani anggaran pendapatan dan belanja negara. Kondisi ini dinilai jadi momentum bagi pemerintah untuk mereformasi skema subsidi dan kompensasi energi.

Realisasi subsidi dan kompensasi energi hingga akhir Juni 2026 tercatat sekitar Rp233 triliun. Angka tersebut diperkirakan masih akan bertambah hingga akhir tahun dan berpotensi menekan fiskal 2027 lebih besar.

Terdapat tiga variabel utama yang menentukan besaran subsidi energi, yakni harga energi di pasar global, nilai tukar rupiah, dan tingkat konsumsi energi domestik. Pelemahan rupiah terhadap dolar AS turut membuat biaya pengadaan energi jadi lebih mahal, sehingga kebutuhan anggaran subsidi ikut membengkak.

Subsidi dan kompensasi energi diperkirakan meningkat hingga Rp526 triliun sampai akhir tahun. Angka itu berpotensi naik hampir Rp200 triliun dibandingkan alokasi awal dalam APBN yang berkisar Rp338 triliun.

Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto pun menyiapkan anggaran subsidi bahan bakar minyak jenis tertentu dalam RAPBN 2027 lebih tinggi dari perkiraan realisasi 2026. Berdasarkan dokumen Nota Keuangan dan RAPBN 2027, anggaran subsidi BBM jenis Pertalite hingga Solar mencapai Rp28,7 triliun, naik 8,71% dari perkiraan realisasi 2026 sebesar Rp26,4 triliun.

Total rancangan anggaran subsidi energi untuk 2027 mencapai Rp272,94 triliun, naik 20,1% dibandingkan perkiraan realisasi 2026 sebesar Rp227,25 triliun. Berdasarkan berbagai sentimen tersebut, rupiah diproyeksi fluktuatif pada perdagangan berikutnya namun cenderung melemah pada rentang Rp17.720 hingga Rp17.780 per USD.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Ibrahim Assuaibi, Kevin Warsh, Federal Reserve (The Fed), Garda Revolusi Iran, kurs rupiah hari ini, dan Nilai tukar rupiah dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.