Moneter

Rupiah Melemah ke Rp17.750 per Dolar AS Awal Pekan Ini

Rupiah dibuka melemah 0,32% ke Rp17.750 per dolar AS pada Senin pagi, terseret sinyal hawkish dari Ketua The Fed Kevin Warsh di Jackson Hole Symposium.

23 jam yang lalu · 2 mnt baca
Rupiah Melemah ke Rp17.750 per Dolar AS Awal Pekan Ini
Petugas penukaran mata uang asing menghitung uang pecahan 100 dolar Amerika dan uang pecahan 100 ribu rupiah di Dolarasia Tebet, Jakarta, Senin, (27/4/2026). Periskop/Arief Rachman
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dibuka melemah pada awal pekan. Rupiah di pasar spot terkoreksi 0,32% ke level Rp17.750 per dolar AS pada Senin (31/8) pukul 11.10 WIB, mengutip data Bloomberg.

Sebelumnya, mata uang Garuda justru menguat 0,29% secara harian ke Rp17.693 per dolar AS pada perdagangan Jumat (28/8).

Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto menjelaskan, pergerakan rupiah salah satunya dipengaruhi ekspektasi kebijakan moneter The Fed. Ia menyoroti sinyal dari bank sentral Amerika Serikat yang dinilai lebih ketat dari perkiraan pasar.

Rully menyebutkan, dalam Jackson Hole Symposium, Ketua The Fed Kevin Warsh menyampaikan pesan yang lebih hawkish dibandingkan ekspektasi pasar. Meski demikian, Warsh tidak secara eksplisit memberi sinyal kenaikan suku bunga pada FOMC September.

"Reaction function The Fed di bawah Warsh semakin terlihat jelas. Ekonomi AS masih resilient, didukung konsumsi dan investasi bisnis yang solid, sementara kondisi finansial dinilai masih belum cukup restriktif," ujar Rully dalam risetnya, Senin (31/8).

Probabilitas kenaikan fed fund rate (FFR) sebesar 25bps melonjak dari 35,4% menjadi 57,5%, menurut paparan Rully.

Lonjakan probabilitas tersebut turut mendorong yield US Treasury tenor 10 tahun naik ke sekitar 4,72%. Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) masih bertahan di bawah level 100.

Rully menambahkan, penguatan rupiah dari sekitar Rp18.000 menuju kisaran Rp17.800 hingga Rp17.900 per dolar AS sejak awal Agustus terjadi bersamaan dengan menurunnya ekspektasi kenaikan FFR. Penurunan ekspektasi itu muncul setelah data ketenagakerjaan AS melemah.

Menurut Rully, BI-Rate di level 5,75% dinilai memadai dalam skenario dasar. Namun BI rate 6,00% tetap menjadi terminal rate yang plausible apabila tekanan terhadap rupiah semakin persisten.

"Kami memperkirakan BI akan tetap fleksibel, dengan intervensi foreign exchange (FX) dan kalibrasi kembali sekuritas rupiah Bank Indonesia (SRBI) sebagai first line of defense," ujar Rully.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Kevin Warsh, Bank Indonesia (BI), Federal Reserve (The Fed), dan Nilai tukar rupiah dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.