banner-sheroes-yoga
Moneter

Rupiah Stabil di Rp17.693/US$ Jelang Keputusan The Fed

Rupiah nyaris tak bergerak di Rp17.693/US$ pada penutupan Rabu, tertahan aksi beli obligasi jelang pengumuman suku bunga The Fed dini hari nanti.

Rupiah Stabil di Rp17.693/US$ Jelang Keputusan The Fed
Petugas penukaran mata uang asing menghitung uang pecahan 100 dolar Amerika dan uang pecahan 100 ribu rupiah di Dolarasia Tebet, Jakarta, Senin, (27/4/2026). Periskop/Arief Rachman
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Rupiah ditutup melemah tipis 0,01% ke posisi Rp17.693 per US$ pada sesi perdagangan Rabu. Pelemahan minim ini terjadi di tengah penantian pasar atas pengumuman suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve.

Mengutip data Bloomberg, pelemahan rupiah sebenarnya sempat lebih dalam pada siang hari. Mata uang Garuda menyentuh level Rp17.719 per US$ pada pukul 11:00 WIB, sebelum akhirnya terpangkas kembali menjelang penutupan.

Di pasar Non-Deliverable Forward (NDF), rupiah juga bergerak relatif stabil. Kurs NDF tercatat di kisaran Rp17.734 per US$ pada pukul 14:50 WIB.

Stabilnya pergerakan rupiah, baik di pasar spot maupun NDF, tak lepas dari aksi beli di pasar obligasi pemerintah. Aksi beli tersebut terjadi khususnya pada sebagian tenor pendek dan menengah.

Yield tenor 5 tahun tercatat turun paling dalam, terpangkas 5,8 basis poin ke level 7%. Tenor 4 tahun menyusul dengan penurunan 3 basis poin menjadi 6,99%.

Sementara itu, yield tenor 3 tahun ikut terkoreksi 2,1 basis poin ke posisi 6,9%. Penurunan yield di berbagai tenor ini mengindikasikan minat beli investor terhadap surat utang negara masih terjaga.

Meski pasar obligasi menunjukkan sinyal positif, pelaku pasar valuta asing masih bersikap hati-hati. Semua mata tertuju pada hasil pertemuan Federal Reserve yang dijadwalkan diumumkan Kamis dini hari waktu Indonesia.

Pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) kali ini menjadi sorotan utama investor global. Keputusan suku bunga yang akan diambil bakal berdampak langsung pada arah pergerakan mata uang di negara berkembang, termasuk rupiah.

Probabilitas kenaikan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke rentang 3,75-4% tercatat mencapai lebih dari 90%. Angka tersebut menunjukkan pasar sudah hampir memastikan arah kebijakan The Fed dalam pertemuan kali ini.

Ekspektasi tinggi terhadap kenaikan suku bunga ini turut menjelaskan mengapa pergerakan rupiah relatif tertahan menjelang pengumuman. Investor cenderung menahan posisi besar sebelum kepastian resmi keluar dari bank sentral AS.

Kombinasi antara aksi beli obligasi domestik dan sikap wait and see pelaku pasar valas membuat rupiah bergerak dalam rentang sempit sepanjang hari. Kondisi ini diperkirakan akan berlanjut hingga hasil FOMC resmi diumumkan.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai FOMC, Rupiah, dan dolar AS dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.